91

10.4K 865 339
                                        


Langkah kaki yang lebar, berjalan menuju pada dua orang yang tengah duduk di sebuah taman hijau. Memiliki sungai yang air nya mengalir tanpa mengeluarkan bau dan rasa. Kedua orang itu, tampak bahagia dan penuh ketenangan di pandangan mata.

"Adek" panggil nya pada seorang perempuan yang bangkit dari duduknya.

Perempuan itu menoleh, dan ia langsung menampakkan wajah bahagianya kala melihat seseorang yang memanggilnya. "Abangggg!"

Kedua kakak beradik itu langsung berpelukan, memecahkan kerinduan yang sudah lama mereka tampung. Pelukan yang sangat hangat dan penuh kasih, sangat begitu terasa dalam pelukan ini.

"Abang kangen banget sama kamu dek" ucap lian dalam pelukan itu.

"Cala juga kangen sama abang" balas syarla.

Sosok yang dari tadi hanya duduk melihat kakak beradik saling memecahkan rindu kini mulai bangkit dari duduknya. Ia berjalan untuk menghampiri kedua anak kesayangannya.

"Ayah" panggil lian pada pria yang itu. Ia melepas pelukan sang adik dan beralih memeluk sang ayah yang dari dulu sudah sangat ia rindukan.

Sama seperti dengan sang adik, pelukan ini selalu terasa hangat dan nyaman. Lian sendiri pun merasakan dirinya pasti akan selalu merasa aman jika berada di dekat sang ayah. "Abang kangen sekali sama ayah" ujarnya dalam pelukan ini.

Pria itu membalas pelukan sang anak dengan senyum yang mengembang di bibirnya. "Ayah jauh lebih kangen kamu bang" balas Beni mengelus dan menepuk-nepuk pelan punggung lian. 

"Tapi kenapa?" tanya Beni to the point saat pelukan hangat itu telah terlepas.

Seketika lian mengerutkan kening nya, "Maksud ayah?"

"Kenapa malah memilih jalan ini?" tanya Beni.

"Semuanya udah selesai, yah" jawab lian dengan wajah yang terlihat sedih.

"Belum" balas Beni cepat.

"Salsa yang meminta ini" balas lian lagi.

"Kamu tidak melupakan alkohol sama plaster yang kamu bawa kan?" tanya Beni yang membuat lian hanya bisa diam dan menunduk.

"Ingat apa janji mu dengan pria tua itu?" tanya Beni lagi.

"Perjuangan abang sudah tidak ada artinya, yah. Salsa yang menolak untuk abang obati dan perjuangkan. Abang juga sudah tidak bisa mendapatkan kesempatan itu lagi" jawab lian.

"Lantas, bagaimana dengan bunda? Bagaimana dengan cucu ayah?" tanya Beni.

"Ayah menitipkan bunda sama kamu sebelum ayah pergi pada malam hari itu. Kalau kamu disini, bagaimana dengan bunda?"

Mendengar pertanyaan itu lagi-lagi lian hanya bisa terdiam dan menunduk.

"Hidup tanpa adanya seorang ayah menyakitkan. Dan kamu bisa merasakan itu sendiri, bang. Lalu bagaimana dengan seorang bayi yang belum ada berumur satu hari?" ucap Beni yang kali ini membuat lian mengangkat kepalanya untuk menatapnya.

"Ayah tau sebenarnya kamu tidak ingin benar-benar pergi. Berjuang sekali lagi" ucap Beni menatap Lian lekat tapi dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.

Syarla kini melangkahkan kakinya mendekat ke arah Lian, lalu ia juga ikut menatap mata lian lekat. "Bang... Kembali, bertahan, dan berjuang sekali lagi" ucapnya.

"Demi mereka, setelah ini pasti akan lebih indah dan bahagia. Mereka semua butuh abang" lanjut Syarla.

"Tap--"

"Ayah sama adek udah bahagia disini. Kita bahagia lihat abang udah berhasil menghapus semua dendam itu dengan baik. Kalau hal itu aja berhasil abang lakukan, berarti berjuang sekali lagi bukan hal yang sulit untuk dilakukan" potong Beni.

Sorry For Your Grudge [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang