Terhitung satu minggu sudah Salsa menjadi istri dari seorang Lian, satu minggu juga Salsa selalu menerima kemarahan, cacian, kekerasan juga bentakan dari Lian. Tapi ia juga tak bisa melakukan apapun selain menerimanya dengan hati yang terluka.
Masih dengan rasa takutnya, tapi ia selalu mencoba untuk tetap menghilangkan rasa itu. Ia harus tetap menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik. Sebagaimana pesan yang selalu ibu dan ayahnya ucapkan.
"Mas Lian, bangun mas..." ucap Salsa lembut sambil menepuk tangan Lian pelan. Masih tak ada pergerakan dari Lian, Salsa kembali mengulangi.
"Mas Lian, bangun. Sudah pagi, nanti ke kantornya telat"
Lian menggeliat dari tidurnya dan mengerjapkan matanya. Salsa yang melihat itu langsung menjauh dari Lian. Ia tak mau jika Lian akan marah lagi nantinya.
Lian bangkit dari tidurnya, ia menatap Salsa sekilas. Setelahnya ia meninggalkan Salsa begitu saja. Salsa sepertinya sudah mulai terbiasa dengan sikap Lian begini.
Tak pikir panjang, ia segera membersihkan kamar dan menyiapkan pakaian kantor untuk suaminya.
Kemudian ia langsung turun ke bawah untuk membuat sarapan. Salsa selalu tetap memasak walaupun masakan nya tak pernah disentuh sama sekali oleh Lian, ia akan tetap masak karena ia juga butuh makan. Terkadang agar makanannya tidak mubazir, Salsa suka membagikan makanannya kepada setiap orang yang lewat depan rumahnya dengan bantuan mang Ojak.
Salsa dengan telaten memasak, menatanya di meja makan dan terakhir ingin menuangkan air putih ke gelas. Tapi seketika, pergerakannya terhenti ketika ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok
Siapa kah yang bertamu sepagi ini? Ini bahkan masih terlalu pagi. Tak pikir lama, Salsa langsung membukakan pintu itu, ternyata yang datang adalah ibu mertua dan adik iparnya.
"Bunda, adekkk" Salsa memandang kedua perempuan itu dengar mata yang berbinar.
Mereka langsung berpelukan dengan erat, layaknya orang yang tak pernah bertemu bertahun-tahun.
Pelukan pun terlepas,
"Maaf ya, nak. Bunda kesini nya pagi-pagi banget. Ini si Syarla maksa banget minta kesini, katanya mau sarapan bareng kalian" ucap Yati tak enak hati.
"Iya kak, Syarla tiba-tiba pengen aja sarapan disini dan mau minta anterin abang juga ke psikiater. Hari ini jadwalnya Syarla kontrol. Soalnya udah lama juga Syarla gak di antar abang, biasa bunda terus yang nemenin" ucap Syarla.
"Iya gak papa bunda, adek. Caca malah seneng kok kalian kesini, jadi makin rame dan seru sarapannya. Ayuk masuk, Caca baru aja selesai masak" ucap Salsa mengajak aduk dan ibu mertuanya untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka semua langsung duduk di meja makan. Kecuali Salsa.
"Wah ini kak Caca sendiri yang masak?" tanya Syarla dengan mata yang berbinar. Ia melihat meja makan yang tertata rapi dengan beberapa lauk pauk makanan untuk sarapan.
"Iya, dek" jawab Salsa tersenyum.
"Seneng deh bunda. Punya mantu yang pintar masak, kalau begini pasti Lian tambah ginuk-ginuk dimasakin terus sama istrinya" ucap Yati menatap Salsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
General FictionBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)