97

9.3K 768 137
                                        


Matahari kembali terbit. Sinarnya kembali mengusik keluarga kecil yang masih ada di atas kasur ini. Sang kepala keluarga, mengerjapkan matanya. Menetralkan semua cahaya yang masuk ke dalam retinanya.

Lian menoleh ke kanan dan kirinya. Istri dan anaknya masih terlelap tidur di kedua sisinya. Naka yang memeluk lengannya kiri nya dengan erat dan Salsa yang tidur berbantalkan lengan kanannya dan memeluk tubuhnya tak kalah erat.

Rasa kantuknya pagi ini masih terasa. Karena semalam ia yang begadang untuk menjaga anaknya yang lagi kurang sehat. Begitu juga dengan Salsa, perempuan itu juga lagi kurang sehat. Permukaan kulit Lian merasakan suhu yang sama hangat nya seperti Naka saat menyentuh tubuh istrinya.

Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, Lian menarik tangannya yang sebelah kiri. Agar tangannya terlepas dari anaknya. Bayi itu mulanya menggeliat, tapi berhasil terlelap lagi saat Lian memberikan tepukan-tepukan kecil di pantat nya.

Kini tinggal Salsa yang masih ada di posisinya. Satu tangan Lian terangkat menyentuh kening Salsa. Suhu tubuh istrinya itu sudah menurun jika dibandingkan semalam, tapi pagi ini badannya Salsa masih terasa hangat.

Sama seperti Naka tadi. Dengan sangat hati-hati dan pelan, Lian berusaha melepaskan lingkaran tangan Salsa yang ada di tubuhnya. Begitu juga dengan kepala Salsa yang ada di lengannya. Dengan sangat perlahan Lian memindahkan kepala Salsa agar ada di atas bantal.

Baru saja Lian terbebas dari dua orang yang bertengger di tubuhnya. Terdengar suara tangis Naka yang belum Lian ketahui apa penyebabnya. Pria itu langsung membawa Naka dalam gendongannya. Lalu membawa bayi itu menjauh dari kamar ini agar Salsa tidak terbangun saat mendengarkan suara tangisan Naka.

Lian membuka pintu kamar bayi yang sudah lama ia persiapkan khusus untuk Naka seorang. Ia menidurkan bayi yang ia gendong itu diatas baby tafel.

"Uuu sayangggg"

"Mas Naka kenapa? Haus yaa? Atau popoknya penuh?"

Lian membuka popok Naka. Dan benar saja, ternyata bayi itu poop. Makanya bayi itu menangis karena merasakan tidak nyaman pada popoknya.

"Oh, anak ayah poop. Ini yang bikin mas Naka nangis pagi-pagi? Hm?"

Sambil terus mengajak bayi itu mengobrol, kedua tangan Lian bergerak untuk membersihkan popok itu. Sudah hampir selesai, tapi tiba-tiba bayi itu kembali mengeluarkan air kecil hingga mengenai badan Lian yang memang dari semalam belum memakai baju lagi.

"Eii, mas Naka iseng ya sama ayah. Masa ayah nya di pipis in" ucap Lian menatap wajah bayi itu yang menampakkan wajah polos tanpa berdosa.

"Mau ayah sunat sekarang ini titid nya? Iya? Hm? Mau?" Lian menoel pipi bulat itu dengan satu jari telunjuknya. Tapi bayi itu malah bergerak lucu dan mengeluarkan suara khasnya yang membuat Lian tertawa kecil.

"Kita sekalian mandi aja deh, baru ajak ibun sarapan yaa" Lian meraih handuk kecil yang biasa Naka pakai lalu membawa bayi itu ke dalam kamar mandi. Tidak hanya Naka, tapi Lian juga ikut langsung membersihkan diri nya di kamar mandi yang sama.

***

Lian menuruni anak tangga dengan membawa Naka dalam gendongannya. Tidak hanya rambut pria itu yang terlihat masih sedikit basah, bayi yang ada dalam gendongannya pun rambutnya sudah terlihat rapi dan sedikit basah karena hair oil yang Lian berikan.

Baju kaos dan celana pendek yang Lian kenakan saat ini sudah menjawab, bahwa pria itu pasti tidak akan masuk kantor hari ini.

"Selamat pagi tuan" sapa bi Ratih saat melihat majikannya datang ke arah meja makan.

Sorry For Your Grudge [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang