Sudah sampai di rumah. Lian mendapati Ibu nya yang terlihat panik dengan mata yang sudah berkaca- kaca. Perempuan tua yang bernama Yati itu mengkhawatirkan keadaan Syarla yang sejak tadi tidak bisa dihubungi. Lalu mendengar cerita dari Mang Ujang yang membuat dirinya jadi sangat khawatir dengan keadaan sang anak.
Lian dan Syarla memasuki rumah mewah. Kedatangan mereka langsung disambut dengan kepanikan Yati yang sudah menunggu mereka pulang.
Perempuan tua itu sedikit berlari menghampiri kakak beradik ini.
"Adek, adek gakpapa kan dek?" tanya Yati terlihat panik dan langsung memeluk Syarla begitu erat.
"Bun..." tegur Lian lembut, disertai dengan gelengan kepala yang langsung menyadarkan Yati agar tetap tenang dan tidak boleh panik. Laki-laki tampan itu takut akan berdampak pada Syarla dan kondisi Yati sendiri yang memiliki penyakit asma.
"Bunda tenang yaa adek baik-baik aja kok. Yakan dek?" ujar Lian sambil mengelus punggung Yati naik turun.
"Iyaa, Bunda. Syarla gakpapa kok, tadi juga sudah minum obat. Bunda jangan khawatir yaa" kini Syarla yang ikut bersuara mencoba menenangkan Yati di dalam pelukan itu. Kondisi perempuan itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Beneran gakpapa?" tanya Yati memastikan. Menatap kedua anak nya itu secara bergantian.
"Semunya aman, Bunda" jawab Lian.
"Sekarang Alice istirahat dulu yaa, ayo abang antar" ajak Lian meraih satu tangan Syarla
"Iyaa. Ayo istirahat dulu, nak. Bunda temenin juga" timpal Yati.
Akhirnya Lian dan Yati pun mengantar Syarla ke kamar untuk istirahat. Saat sudah di kamar, Syarla langsung merebahkan dirinya di atas kasur sambil di temani sang ibu di samping nya.
Sedangkan Lian, pria itu masih setia berdiri disamping kasur Syarla dan hanya menatap adik nya dengan tatapan sendu.
Syarla yang sadar ditatap oleh Lian pun akhirnya mengeluarkan suara. "Abang?"
"Hm? kenapa? Butuh sesuatu?" tanya Lian menatap Syarla.
"Abang jangan marahin Mang Ujang yaa" pinta Syarla takut-takut. Karena ia sudah paham sekali, pasti setelah ini Mang Ujang akan dimarahi habis-habisan oleh Lian.
Lian yang mendengar permintaan itu pun sudah dapat menduga, pasti hal ini yang akan di minta adiknya.
"Ini salah Syarla tadi. Syarla yang maksa mau pergi sendiri, gak mau di temenin Mang Ujang. Tapi tadi malah lihat..." ucapan Syarla ini terhenti karena tangis nya kembali hadir saat mengingat kejadian di toko buku tadi yang berhasil memicu trauma nya.
Lian duduk di pinggiran kasur. Ia menarik Syarla kedalam pelukannya. "Ssstt... Sudah yaa, gak papa. Abang gak marah kok sama Mang Ujang" ucapnya lembut.
"Tapi tadi abang bentak Mang Ujang, padahal yang salah Syarla" ucap Syarla pelan.
Lian melepas pelukan nya. Beralih menatap mata sang adik.
"Abang gak marah, Abang tadi gak sengaja bentak. Udah gak usah di pikirin, sekarang tidur ya istirahat" ucap nya seraya mengelus kepala Syarla.
"Sini, mau peluk Bunda gak tidur nya?" Tawar Yati merentangkan kedua tangan nya. Syarla pun langsung memeluk Yati dan mengambil posisi nyaman untuk tidur.
***
Lian menghampiri Mang Ujang yang berada di garasi sambil mengelap mobil.
Supir itu telah menyadari Lian akan menghampirinya dan akan mendapatkan omelan dari sang majikan. Pria tua itu sudah terlihat pasrah karena ia memang merasa dirinya salah telah meninggalkan Syarla sendirian di toko buku.
"Mang" panggilan yang terdengar dingin itu membuat Mang Ujang langsung menoleh dan gugup.
"Eee iya, tuan?"
"M-maaf, tadi say-"
"Lain kali jangan dibiarkan sendiri lagi" potong Lian.
"Ini terakhir kalinya ya, Mang. Saya tidak mau kalau ini terjadi lagi. Maaf, tadi sempat saya bentak. Mang Ujang tau sendiri, saya gak mau hal itu terjadi lagi nanti. Paham mang?" lanjut Lian.
"Iya tuan, saya paham. Saya minta maaf, saya janji ini tidak akan terulang" ucap Mang Ujang sambil menunduk takut.
Lian mengangguk sembari menepuk pundak mang ujang dan berlalu pergi meninggalkan garasi.
Bersamaan dengan pergi nya Lian, Mang ujang langsung bernafas lega. Beruntung dirinya terselamatkan kali ini. Ia merasa majikan nya sedang baik hati hari ini.
***
Di lain tempat, Salsa dan Nabilla sedang menikmati ice cream yang mereka pesan. Kedua nya sangat menikmati dessert itu.
"Ca, kamu hutang cerita ya sama aku" ucap Nabilla sambil menyuap sendok ice cream ke mulutnya.
"Apaan?" Salsa mengernyit heran.
"Ihh, itu loh. Cewe yang tadi ngamuk di toko buku tadi" ucap Nabilla.
"Oh itu, kirain apaan" balas Salsa santai.
"Dih... Sekarang jawab dong, kenapa kamu bisa tau kalau cewek itu tadi stress, teriak-teriak gak jelas begitu?" tanya Nabilla lagi.
"Nab, kasar banget ngomong nya. Itu trauma, Nab. Traumaaa..."
"Iya pokoknya itu deh, sekarang cepetan jelasin" desak Nabilla tak sabar.
Salsa membuang nafasnya kasar. Lalu menatap Nabilla lekat. "Emang kamu lupa ya? Alasan ibuku meninggal karena apa?" tanya nya lirih.
Seketika Nabilla tersadar sekaligus panik atas pertanyaan nya kepada Salsa barusan. Bisa-bisanya ia melupakan hal itu.
"Eh, Ca. Sorry, aku gak maksud buat kamu ingat lagi kejadian itu. Maafin aku ya, pertanyaan aku memang dodol banget" ucap Nabilla memukul kepalanya sendiri.
Salsa tersenyum melihat itu, "Gakpapa, Nab. Santai aja, aku tau kok otak kamu kan kadang lemot. Aku paham" lanjutnya mengejek.
"Yeee kamu mahh, kita kan sama 11 12. Sama-sama lemot juga" balas Nabilla kesal.
"Tapi, Ca. Aku beneran minta maaf ya, aku beneran gak ada maksud kok..." ucap Nabilla tak enak hati karena telah menanyakan pertanyaan yang asal ceplos ke Salsa.
"Iya, Nab. Santai aja" balas Salsa dengan senyum manis nya.
"Balik yuk, Nab. Takut nanti keduluan Ayah ku pulang nya" ajak Salsa.
"Iya udah yuk balik" ucap Nabilla.
###
Maaf untuk penulisan yang typo dan EYD yang tidak tepat.
Selamat membaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
Fiction généraleBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)