Setelah pulangnya Nando dari kantor, sesuai dengan apa yang dikatakannya tadi pada Lian, ia ingin menjenguk Lian yang sedang sakit di rumah.
Mobil berwarna hitam itu terparkir rapi tepat di teras rumah Lian bersama Salsa. Segera Nando turun dan masuk ke dalam rumah.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu terdengar, mengalihkan fokus Salsa dan Lian yang hendak makan malam.
"Sebentar, Salsa buka pintu dulu mas"
Salsa langsung melangkah ke arah pintu depan.
Ceklek
Pintu itu terbuka lebar menampakkan pria tampan yang masih memakai jas kantornya.
"Ehh, kak Nando. Cari mas Lian ya?"
"Iya, Sal. Katanya dia sakit?"
"Iya, tapi alhamdulillah sudah mendingan. Mari masuk kak" Salsa mempersilahkan Nando masuk ke dalam rumahnya.
Kaki Nando lebih dulu melangkah dan langsung menghampiri Lian yang berada di meja makan. Salsa masih menutup dan mengunci pintu depan.
"Gimana keadaan lo? Masih pusing?" tanya Nando menepuk bahu Lian.
"Udah aman, besok gue ke kantor" jawab Lian melahap makan malamnya.
"Lo makan gih, pasti lo belom makan kan? ambil sendiri" titah Lian ke Nando.
"Hehehe tau aja lo gue laper" jawab Nando menyengir.
Salsa kembali datang dan menghampiri mereka berdua. "Kak Nando, makan kak, bareng sama mas Lian"
"Eh, iya sal. Gak papa kan gue minta makan disini?" Nando tak enak hati dengan Salsa. Pria itu cukup sungkan dengan istri sahabatnya.
"Gak papa dong kak, ayo mari makan. Mau aku bantu ambilin nasinya?" tawar Salsa.
"Ambil aja sendiri, gak usah manja!" kini Lian yang menjawab. Entahlah, ia hanya tidak suka jika Salsa mengambilkan makan untuk laki-laki Lain selain dirinya, walaupun Nando sahabatnya sendiri.
"Ck, iya iya. Galak banget lo!" balas Nando melirik Lian.
Salsa hanya menyimak dua manusia berbeda sifat ini. Sesekali Salsa tertawa mendengar celotehan antara suami dan sahabatnya. Lian yang dingin tidak banyak ngomong bertemu dengan Nando yang suka sekali berbicara dengan ceplas ceplos.
"Lo mau jenguk gue tapi gak bawa apa-apa buat gue?!"
"Ya lo kan dah kaya. Gue harus bawa apa lagi buat lo?! Semuanya juga udah lo punya" jawab Nando asal.
"Gak sopan, bilang aja lo mau minta makan kan?"
"Hehehe tu lo tau. Gue kan jarang makan masakan rumahan, Li. Lo tau sendiri" keluhnya. Nando memang lah hidup seorang diri di Jakarta. Dulu, sewaktu Lian belum menikah, ia sering ke rumah Lian untuk sekedar makan bersama dengan Yati dan juga Syarla. Yati pun sudah menganggap Nando seperti anaknya sendiri.
"Iya, gue bercanda. Nanti pulang bawa aja sisanya buat lo di apart" ucap Lian menunjuk makanan yang dimasak oleh Salsa.
"Gak papa? Sal, lo gak keberatan?" tanya Nando memastikan. Menatap Lian dan Salsa bergantian, karena sekarang sahabatnya bukan bujangan lagi.
"Gak papa kak, aku malah seneng. Jadi makanannya gak mubazir. Nanti aku bungkus kan ya" ucap Salsa dengan senyum ramahnya.
"Thanks ya, Sal"
"Sama-sama, kak"
"Tapi masakan lo emang enak banget sih, Sal" puji nando dengan lahap memakan masakan Salsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
General FictionBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)