"Apa yang kamu sembunyikan dari mas, Sa?"
Seketika Salsa menyatukan kedua alisnya. "Maksud mas Lian apa? Salsa gak ngerti"
"Masih gak mau jujur apa yang udah kamu lakukan tanpa seizin mas?" tanya Lian membalik badannya menghadap Salsa.
"Ini apa? Jelasin sama mas" Lian memberikan nota transaksi nya di salah satu Rumah sakit di tempat ia melahirkan Naka.
Mata Salsa membulat melihat nota itu. Terjawab sudah penyebab suaminya bisa bersikap dingin dan mengajaknya berbicara serius sekarang. Pertanyaan Salsa kini hanya satu, darimana Lian tau soal ini? Dari mana Lian bisa mendapatkan nota itu di dalam tas nya yang sudah sengaja ia sembunyikan jauh-jauh?.
"Mas, Sal--"
"Jawab dengan jujur, ngapain ke rumah sakit selain imunisasi Naka?" tanya Lian penuh penekanan sambil menatap Salsa lekat.
Salsa langsung keringat dingin, ia takut jika Lian akan kembali marah dengan nya padahal mereka baru saja berbaikan.
"M-mafin S-salsa mas" malah kalimat itu yang Salsa keluarkan dengan terbata, air matanya mulai turun dan rasa takut yang mulai menyelimuti.
"Kamu anggap mas ini apa, Sa? Harusnya kamu diskusikan dulu sama mas sebelum mengambil keputusan untuk KB. Harusnya jangan main ambil keputusan sendiri tanpa izin dulu dari suami"
"Salsa takut mas gak setuju" ucap Salsa pelan dan sudah diiringi derai air mata.
"Itu makanya kita harus bicarain!" sentak Lian mulai kelepasan.
"Dari mana kamu bisa menyimpulkan mas gak setuju kalau kita aja belum pernah diskusikan sama-sama"
"Kamu itu istri, dan mas ini suami. Gimana ceritanya seorang suami gak tau istrinya udah pasang KB?!!"
"Kamu jangan begini dong, Sa. Jangan suka menyembunyikan sesuatu dari mas. Mas berhak tau semuanya tentang kamu"
"Katanya mau memperbaiki semua nya pelan-pelan, mau memperbaiki semuanya sama-sama. Tapi kenapa hal penting kaya gini kamu gak terbuka sama mas?!"
"Sekarang mas tanya ke kamu. Kenapa kamu ambil keputusan ini sendirian? Kamu gak anggap mas ini suami kamu? Kamu anggap mas ini orang lain?! Iya?!"
Salsa semakin terisak dengan tangisnya. Lagi-lagi hanya penyesalan yang ia rasakan. Sejujurnya, ia hanya takut jika Lian tidak setuju dengan keputusannya memilih untuk menunda anak lagi. Tapi disini ia telah sadar, bahwa dirinya memang salah karena tidak mendiskusikan nya dulu bersama suaminya.
"Maaf mas... Tapi Salsa belum siap kalau harus hamil lagi" ucap Salsa dengan menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap mata suaminya.
Mendengar jawaban itu Lian malah bertambah semakin kecewa. Bukan karena ia egois ingin memiliki anak lagi dalam waktu yang cepat. Tapi justru, dengan begini Salsa malah masih meragukan dirinya. Itu artinya Salsa masih menganggapnya laki-laki yang suka mengekang dan penuh paksaan. Padahal Lian juga memiliki ketakutan yang sama seperi Salsa takutkan. Tapi kenapa, disini Salsa malah mengambil keputusan sendiri yang secara tidak langsung, Salsa tidak menghargai nya sebagai suami.
Lian membuang nafasnya, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Lian marah, ia emosi dan ia sekuat tenaga berusaha untuk tidak kelepasan. Ia marah ke Salsa yang selalu saja berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Istrinya sama sekali belum belajar dari yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Salsa, selalu saja tidak terbuka dengan Lian.
"Mas kecewa sama kamu!"
Setelah mengatakan itu, Lian langsung meninggalkan kamar ini begitu saja. Ia membiarkan Salsa yang kini mengejarnya, menahan tangannya agar tidak pergi sambil menangis-nangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
General FictionBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)