4

9.2K 403 2
                                        

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam.... Eh, ayah udah pulang"

Salsa bangkit dari duduknya di kursi ruang tamu. Kakinya melangkah menghampiri Denis yang baru saja pulang.

"Gimana hari ini, Yah? Bekal yang Caca bawain dimakan kan? Ayah gak telat makan kan? Ayah gak boleh telat makan loh nanti magh nya kambuh" cerocos Salsa sambil mencium tangan Denis.

"Ayah baru pulang, udah banyak banget ini pertanyaan nya. Bingung Ayah, mau jawab yang mana dulu" ucap Denis terkekeh.

"Hehehe.... Lagian Ayah suka bandel, suka telat makan. Nanti Ayah bisa sakit kalau telat makan, Caca kan gak mau kalau Ayah sakit" ucap Salsa.

"Iya, Ayah usahain supaya makannya gak telat ya. Kalaupun memang telat, mau gimana lagi? Kalau Ayah masih kerja" ucap Denis sambil membawa tubuhnya duduk di kursi.

"Emang Ayah masih sering di suruh-suruh ambilin minum sama pegawai kantor di sana kalau jam makan siang?" tanya Salsa ikut duduk di sebelah Denis.

"Engga kok, nak" jawab Denis.

"Beneran?"

"Iyaa. Ayah janji deh, janji gak telat lagi makannya" lanjut Denis sambil memberikan jari kelingking nya kepada Salsa dan Salsa pun membalas itu.

"Ayah gak mau berhenti kerja aja? Biar Caca aja yang kerja, ayah di rumah istirahat. Lagian gajih Caca cukup kok, untuk menghidupi kita berdua, Yah" ucap Salsa.

"Ca, denger ayah ya, nak. Selagi Ayah mampu dan Ayah masih sehat, apapun Ayah lakukan untuk kamu, nak. Gajih mu tabung lah untuk biaya kamu kuliah nanti, biar gajih Ayah untuk makan kita sehari-hari" ucap Denis membuat Salsa terharu mendengarnya.

"Yahh..." Salsa menatap Denis dengan mata yang berkaca- kaca.

Tangan Denis terulur mengelus kepala Salsa. "Maafin Ayah yaa, belum bisa jadi Ayah yang baik buat Caca. Tapi Caca harus tau, kalau Ayah sayang sekali sama Caca. Karena cuma Caca yang ayah punya sekarang" ucap Denis sembari menarik Salsa dalam pelukannya.

"Ayah gak perlu minta maaf. Justru Caca seneng, punya Ayah yang seperti Ayah. Yang selalu mengusahakan apapun untuk anak nya. Dan Caca juga sayang sekali sama Ayah" balas Salsa turut memeluk Denis dengan erat.

"Semoga kamu bisa memaafkan kesalahan Ayah, nak. Ayah minta maaf sudah melakukan kesalahan besar. Ayah hanya bisa berdoa sekarang, semoga kamu selalu dalam lindungan nya dan kebahagiaanmu tidak terhalang karena Ayah" ucap Denis dalam hati.

***

Malam yang begitu dingin, masih terlihat pria yang melamun di balkon rumah megah itu. Ditemani secangkir kopi yang ada disamping nya, juga ada asbak rokok dan beberapa bekas puntung rokok.

Hampir setiap hari laki-laki itu melamun di setiap malam nya sebelum tidur. Entah apa yang ia pikirkan, tapi kegiatan ini selalu ia lakukan beberapa tahun terakhir ini.

"Ayah jangan pergi, jangan tinggalin Lian.... Lian, bunda dan Syarla masih butuh Ayah. Lian mohon jangan tinggalin Lian"

"Mas, tolong jangan tinggalkan aku. Lian dan Syarla masih butuh sosok Ayah"

"Maaf, aku terpaksa harus pergi"

"Lian, jaga selalu adikmu yaa"

"Ayah jahat! Lian benci ayah! Lian benciiiii!"

"Bang Lian, tolongin Syarla"

"syarla takut... Tolong bang. Abanggg, bundaaa, tolongggg"

Semua memori itu selalu terekam jelas di otak Lian hingga sampai saat ini. Entah harus bagaimana lagi ia harus melupakan kejadian itu. Kejadian yang sangat menyakitkan, kejadian yang membentuk Lian menjadi orang yang kasar, dingin, acuh dan bahkan bisa dibilang jahat. Terkadang ia tidak memiliki rasa empati terhadap siapapun kecuali hanya kepada ibu, adik dan Nando.

"Ck, gua benci ini semua" gumam nya sambil mengepalkan tangannya.

Ceklek

Mendengar pintu kamarnya terbuka, Lian langsung menetralkan kembali keadaan nya, ia tidak mau jika ketahuan siapapun.

"Abang" Yati melangkah menghampiri anaknya yang berdiri di balkon.

Lian menoleh, "Iya, Bun"

"Kenapa belom tidur? Ada yang abang pikirin?" tanya Yati peka melirik banyak nya bekas puntung rokok di meja balkon kamar anak nya.

"Gak ada, Bun. Cuma masalah kerjaan" jawab Lian dengan senyum, berusaha meyakinkan Yati bahwa ia  baik-baik saja.

"Bang, Bunda boleh minta tolong sama abang?" tanya Yati menatap Lian dalam.

"Kalau bunda minta abang untuk menikah, abang belom bisa, Bun. Bunda dan Syarla masih prioritas abang sekarang. Abang belom memikirkan hal itu, Abang masih menikmati pekerjaan Abang sambil memantau Syarla supaya cepat sembuh dan kembali seperti dulu lagi" jawab Lian.

"Abang juga usahakan kok, cari mantu buat bunda. Dan kalau masala-"

"Bang, Bunda paham" potong Yati.

"Bunda, tau isi hati anak bunda.  Walaupun anak bunda gak jujur sama bunda. Bunda sudah sadar tidak akan memaksa abang lagi untuk segera menikah. Tapi boleh, Abang sedikit membuka hati Abang? Bukan hanya soal perempuan, tapi tentang semua apa yang sudah merubah diri Abang"

"Bunda pengen melihat Lian yang dulu. Menatap seseorang dengan penuh kasih, bukan dengan tatapan tajam. Yang selalu memberikan senyum kepada siapapun, walaupun orang asing. Dan selalu bersikap baik kepada siapapun, bukan bersikap acuh dan gak peduli dengan orang lain" ucap Yati dengan air mata yang menyeluruh.

Lian mengambil tangan Yati untuk ia genggam. "Bun, Abang minta maaf kalau abang belum jadi anak yang baik dan menjadi anak yang sesuai dengan apa yang bunda harapkan. Tapi tolong mengerti Abang, Bun. Abang punya cara sendiri untuk berdamai dengan ini semua. Dan apa yang Abang lakukan juga hanya untuk kebaikan Bunda dan adek. Abang gak mau seperti yang dulu lagi, sehingga orang bisa berbuat semaunya sama kita"

"Jadi tolong Bunda cukup doa kan Abang aja yaa. Abang masih selalu mencari kebenaran nya, agar kita semua lega dan orang itu akan mendapatkan pelajaran yang sesuai" lanjutnya.

Yati membuang nafasnya kasar, sudah berulang kali ia selalu berusaha dan mengingatkan anak nya tentang hal ini. Tapi kebencian dan dendam itu selalu saja menyelimuti hati anak nya. Yati hanya bisa pasrah dan berdoa semoga semua ini akan berakhir dengan bahagia.

"Ya sudah terserah abang, bunda percaya sama abang. Tolong jangan kecewakan bunda yaa" mendengar ucapan ini, Lian hanya mengangguk samar.

"Kalau gitu sekarang Abang istirahat, udahan rokok nya, besok abang ke kantor. Jadi jangan begadang"

Lagi-lagi Lian membalas ucapan itu hanya dengan anggukan pelan.

"Bunda ke kamar dulu" pamit Yati, memberikan kecupan di kening sang anak sebelum ia pergi dari kamar ini.

"Maafin abang, Bun. Kalau memang cara Abang salah. Tapi orang itu harus membayar semua yang sudah terjadi terhadap kita dulu" ucap Lian dalam hati.

Ting

Lian menatap ponselnya yang berbunyi. Ia mengambil ponsel itu dan membaca sebuah pesan masuk.

Nando
"Li, gua dapatin lagi informasi pelaku itu. Sekarang datanya udah lengkap"

Lian
"Langsung keruangan gue besok"

###

Maaf untuk penulisan yang typo dan EYD yang tidak tepat.

Selamat membaca.

Sorry For Your Grudge [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang