Keempat roda brankar terus berputar sangat cepat di lorong rumah sakit ini. Membawa tubuh yati yang sedari tadi tak sadarkan diri menuju ke ruang IGD. Wajah kepanikan, takut, sedih, bingung dan marah menjadi satu di wajah tampan lian. Hanya satu doa nya pada tuhan kali ini, tolong selamatkan ibunya.
"Maaf pak, dimohon untuk tunggu diluar" ujar salah satu perawat yang berjaga sebelum menutup ruang IDG itu.
Lian hanya bisa pasrah menuruti. kaki lian tidak bisa berhenti bergerak. Mondar-mandir lian menunggu dokter dari dalam. Tidak berhenti lian memanjatkan doa agar ibunya bisa selamat. Lian takut, bahkan lian sangat teramat takut jika hal yang tidak ia inginkan akan terjadi.
"Gak boleh, bunda gak boleh pergi" gumam lian berulang kali sambil mengusap belakang kepalanya hingga ke wajahnya. Pria ini, sangat terlihat frustasi.
***
Di lain tempat, perempuan tua sedang menenangkan seseorang yang berstatus sebagai majikannya. Badan perempuan itu bergetar hebat bersamaan dengan tangisnya. Untungnya bi Ratih berhasil membawa tubuh perempuan hamil ini untuk masuk ke dalam kamar.
Salsa, dari tadi tidak bisa berhenti untuk menangis. Ia takut atas semua kejadian yang baru terjadi tadi. Di satu sisi ia khawatir dengan kondisi mertuanya, di satu sisi lain ia sangat takut kalau suaminya tidak dapat mempercayainya.
"Tenang ya mba salsa..." bi Ratih terus mengusap punggung salsa berulang kali dalam pelukannya.
Salsa mendongak, mantap bi ratih dengan matanya yang basah akibat tangis. "Salsa gak ada niat jahat sama bunda bi, salsa gak dorong bunda hiks, bibi percaya sama salsa kan?!"
"Iya mba... Bibi percaya sama mba salsa, bibi yakin ini bukan salah mba salsa. Tenang ya ndukk, jangan nangis" balas bi ratih disertai dengan anggukan yang mantap berulang kali.
"Salsa takut bi.... Salsa takut...." lirih salsa. Entah apa yang membuat salsa bisa setakut ini, yang jelas ia takut. Takut ibu mertuanya tidak bisa diselamatkan, dan takut kalau suaminya tidak berpihak padanya.
Bi ratih mengusap pipi salsa, menghapus air mata yang terus saja keluar. "Bibi memang gak lihat awal kejadiannya, tapi bibi percaya mba salsa gak mungkin lakuin hal itu. Bibi disini sayang, jangan takut"
"Salsa mau ke rumah sakit bi, salsa mau jelasin semunya sama mas lian. Salsa mau bilang sama mas lian kalau bukan salsa yang bikin bunda jadi kaya gitu" pinta salsa dengan sorot mata yang memohon ke bi Ratih.
"Nduk, cah ayu. Di rumah dulu saja yaa, jangan maksa untuk ke rumah sakit. Ingat ada bayi, ada tuan kecil disini yang lebih butuh mba salsa. Tenangin diri mba salsa dulu, atur nafas dan tarik nafas. Jangan sampai tuan kecil ikut kenapa-napa karena kondisi mba salsa yang sekarang tidak memungkinkan untuk ke rumah sakit. Nurut ya cah ayu..." ucap bi Ratih sambil mengusap-usap perut salsa.
"Tapi salsa mau jelasin semuanya sama mas lian bi... salsa gak mau mas lian salah paham sama salsa...."
"Tuan gak mungkin marah, apalagi istrinya sedang mengandung anak yang paling dia sayangi. Jangan mikirin hal yng buruk dulu ya, buang jauh-jauh pikiran itu. Justru kalau hal itu terus dipikirkan, nanti malah akan kejadian. Percaya kalau suaminya mba salsa pasti akan menaruh
percaya untuk istrinya" balas bi ratih kembali menarik salsa dalam pelukannya.
Perempuan tua ini sebenarnya ragu dengan semua kalimat yang barusan ia ucapkan, tapi bi ratih terpaksa berkata demikian supaya majikannya bisa juah lebih tenang saat mendengar kalimat penenang itu.
***
Sekian menit lian dilanda kegelisahan, menunggu dokter keluar untuk memberitahukan kondisi ibunya. Akhirnya, dokter yang ia tunggu keluar juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
Narrativa generaleBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)