Lian mengeluarkan tiga buah map yang ada di brangkas kantor nya. Ia menatap tiga buah map yang ada di tangannya itu. Lalu, ia memberikan tiga buah map itu pada Toni yang sedang menatapnya sedari tadi. "Ini" ucapnya.
Toni menyambut tiga buah map itu, menatapnya bergantian dengan wajah lian.
"Saya percaya sama kamu, Ton. Kalau kamu pasti akan amanah" ucap lian.
Toni menatap lian dalam, memegang berkas penting ini cukup membuatnya merasa was-was. Ia harus bisa menjalankan tugasnya dengan baik, dan yang paling terpenting, ia harus menjaga amanah yang sudah bos nya ini berikan.
"Baik pak, saya pastikan saya tidak mengecewakan bapak" ucap toni yang mendapat anggukan pelan dari lian.
"Tapi, maaf sebelumnya pak. Kenapa bapak tidak mau kasih sendiri secara langsung saja?" tanya Toni tanpa ragu.
"Jadi kamu gak mau bantu saya?" tanya lian balik.
Toni langsung menggeleng kuat, "Bukan begitu maksud saya pak, tap--"
"Ini tugas terakhir dari saya buat kamu, Ton. Setelah ini saya gak akan nyuruh kamu lagi, atau minta bantuan kamu lagi" potong lian.
Toni seketika terdiam sejenak, lalu menjawab. "Baik pak, akan saya lakukan sesuai perintah"
"Kalau kamu terpaksa, atau gak mau bantu saya. Saya bisa bayar orang lain" ucap lian.
"Tidak pak, saya mau. Maaf kalau bicara saya tadi lancang, saya hanya merasa heran karena bapak tidak mau memberikannya sendiri secara langsung" ucap Toni menunduk.
"Tanpa kamu suruh saya pasti melakukannya sendiri, tapi kalau saya menyuruh kamu, itu berati karena ada alasannya" balas lian.
Tidak ada lagi yang berani Toni ucapkan sampai beberapa menit, namun ia teringat dengan Nando.
"Oh iya, pak. Pak Nando kemarin ada tanya bapak" Ujar Toni.
Lian menatap Toni sekilas, lalu ia kembali menatap sebuah kalender yang ada di meja kerjanya. Kalender yang memiliki sebuah angka yang di lingkari oleh lian.
"Pak Nando tanya kabar bapak, intinya mencari tau semua tentang bapak akhir-akhir ini. Karena dia bilang udah seperti gak kenal bapak kaya dulu lagi" jelas Toni.
"Ada sedikit masalah, tapi bukan perkara besar. Kalau dia cari saya lagi, bilang saya titip salam sama dia" ucap lian.
"Apa itu artinya dia gak tau tentang ini pak?" tanya Toni lagi.
"Cukup hanya kamu yang tau" jawab lian.
"Satu lagi..."
Toni menatap lian untuk menunggu ucapan bos nya.
"Saya titip salam sama Kevin"
***
Sudah beberapa hari terakhir, lian selalu tidur bersama yati. Memantau dan mengurusi ibu nya sendiri tanpa bantuan suster jika malam hari.
Malam ini, lian masih terjaga dari tidurnya. Lian menatap sebuah kalender dan jam yang ada di dinding kamar Yati. 14, itu adalah tanggal yang mendapat garis lingkaran pada kalender itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
Ficțiune generalăBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)