Dentingan sendok mengisi ruang makan di kediaman Lian. Seperti biasa, setiap pagi penghuni rumah ini akan selalu sarapan bersama.
"Jadi, semalam pulang jam berapa bang?" tanya Yati.
"Sekitar jam 12, bun" jawab Lian.
"Malem amat bang? Sampai jam segitu, emang banyak banget ya kerjaan abang?" tanya Syarla.
"Iya lah, Dek. Kalau gak banyak juga gak akan pulang lama" jawab Lian bohong, karena sebenarnya Lian fokus pada urusan Denis dan Salsa, bukan benar-benar kerja.
"Iya juga ya, hehehe" balas Syarla menyengir.
Jujur saat ini Lian ragu untuk berbicara kepada ibu dan adiknya, tentang dia yang akan menikahi Salsa minggu. Ia takut kalau Yati curiga dan berhasil menebak rencananya.
"Ehem... Bun, dek ada yang mau abang bicarakan" ucap Lian serius.
"Bicara apa bang? Ada masalah?" tanya Yati.
"Iya, tumben banget" ucap Syarla.
"Abang mau menikah minggu depan" ucap Lian santai.
"HAH? NIKAH? ABANG GAK SALAH? ABANG BENERAN GAK BERCANDA KAN? KOK GAK PERNAH BILANG SAMA SYARLA KALAU PUNYA PACAR? EMANG ADA PEREMPUAN YANG MAU SAMA GALAKNYA ABANG? TERUS, KENAPA BARU H-7 BARU BILANG? JAWAB, BANG!" cecar Syarla yang begitu terkejut.
Lain hal nya dengan Yati, yang merasa senang karena akhirnya anaknya mau membuka hati untuk wanita.
"Alhamdulillah, abang serius mau menikah? Sama siapa? Kok gak dikenalin dulu sama bunda? Hm?" tanya Yati beruntun.
Lian sedikit bernafas lega, karena sepertinya Yati tidak curiga tentang pernikahan yang tiba-tiba ini.
"Bentar, abang jawab yang mana dulu ini? Satu-satu dong tanya nya"
"Ish, abang seriussss!" ucap Syarla penasaran.
"Jadi gini. Sebenarnya udah lama bun, dek, cuma abang gak cerita aja ke kalian. Kenapa abang baru bilang sekarang? Yaa biar surprise aja gitu. Tenang deh, semuanya udah siap, bunda dan adek tinggal datang, pake baju bagus dan duduk manis. Kita intimate aja, gak usah besar-besar pestanya"
"Setelah abang pikir, gak ada salah nya juga ucapan bunda kemarin malam, abang emang udah waktunya buat menikah" jelas Lian yang sudah pasti berbohong.
"Bang ini beneran? Abang serius? Siapa bang? Apa dia perempuan yang baik-baik?" cecar Yati.
"Bun, abang serius. Kapan abang pernah main-main?"
"Kalau gitu tolong pertemukan dulu dong bunda sama calon menantu bunda, masa bunda gak kenal sama mantu bunda sendiri?" ucap Yati penasaran bagaimana wujud dati calon mantunya nanti.
"Bener tuh bun. Masak iya Syarla gak kenal sama kakak ipar sendiri" timpal Syarla.
"Semoga dia beneran perempuan yang baik dan sesuai dengan kriteria bunda sama adek. Malam ini rencananya abang kenalkan dia ke bunda sama adek. Bunda sama adek bisa?" tanya Lian.
"Bisa gak bisa, harus bisa lah bang. Kita kan mau kenalan, gimana bentukan calon kakak ipar Syarla" jawab Syarla.
"Bunda sudah pasti bisa, bang. Apalagi buat calon mantu, nanti abang ajak kesini jam tujuh malam yaa, nanti bunda sama bibi masak lebih buat makan malam. Bunda tunggu kedatangan nya yaa" jawab Yati excited.
Lian mengelap mulut nya dengan tisu. Kepala pria itu mengangguk-ngangguk dengan segala ucapan adik dan ibu nya yang terlihat tampak begitu excited.
"Ya udah, kalau gitu abang ke kantor dulu ya. Takut macet, nanti telat" pamit Lian mencium tangan Yati.
"Iya bang, hati-hati yaa"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry For Your Grudge [END]
Ficção GeralBuat kalian yang baca cerita ini, mohon untuk memperhatikan part nya ya. Karena no part di cerita ini tidak berurutan. Jadi di mohon untuk teliti di setiap next part, trims 💙. ### Terpaksa menikah untuk menebus semua kesalahan dimasa lalu yang bahk...
![Sorry For Your Grudge [END]](https://img.wattpad.com/cover/371685023-64-k564799.jpg)