66

8.1K 787 262
                                        


Lian memasuki rumah mewahnya yang ditempati oleh sang ibu. Mau bagaimanapun yati adalah ibunya dan Lian harus tetap berbicara dengan Yati tentang apa alasan nya menutupi fakta itu semua.

Lian berjalan dengan buru-buru, art yang ada rumah ini tadi mengatakan saat lian tinggalkan yati begitu saja, yati langsung sesak nafas karena terus menangis sesenggukan. Alhasil, setelah lian memastikan istrinya tertidur pulas dirumah, lian langsung kembali mendatangi rumah nya yang ditempati yati.

Ceklek

Pintu kamar yati terbuka lebar, menampakkan sosok perempuan paruh baya yang sedang bersandar dengan selang yang ada di hidungnya. Sudah bukan penampakan yang aneh bagi lian, jika yati akan kambuh sudah pasti selang oksigen itu akan terpasang di hidung ibu nya. Dan sudah dipastikan juga tabung oksigen akan selalu berdampingan di sisi ranjang kamar yati.

Yati sadar ada yang membuka pintu kamarnya, ia langsung menoleh ke arah pintu. Namun saat ia tau itu adalah lian, Yati malah memalingkan wajahnya dari lian.

"Bun...."

"Ngapain kamu kesini? Urusin aja itu anak pembunuh" ucap yati tanpa menatap lian.

Mendengar itu, lian hanya membuang nafasnya kasar lalu mendekat ke arah yati. Lian duduk di pinggiran kasur sambil menggenggam tangan sang ibu.

"Bun, abang minta maaf sempat bentak bunda tadi. Abang minta maaf..." ucap lian lirih.

"Udah mulai kurang ajar sama bunda nya?!!!" sarkas yati.

"Maaf bun... abang punya alasan untuk nutupin semuanya dari bunda. Seperti yang abang bilang tadi, ini untuk kebaikan kita semua"

"Bun, abang sudah jauh lebih dulu menyakiti salsa dibanding bunda sekarang" ucapan ini berhasil membuat yati menatap sang anak lekat. 

"Apa maksud mu?"

"Salsa sudah pernah sakit di tangan abang, abang udah nyakitin dia di awal pernikahan kita"

"Salsa yang dulu pernah jadi menantu kesayangan bunda sudah pernah abang sakiti batin dan fisiknya. Bahkan abang hampir melakukan hal yang sama seperti ayahnya lakukan ke ayah, abang hampir bunuh salsa waktu itu" ucap lian jujur tanpa ada yang ia tutupi.

Plakkkk

Lagi-lagi yati menampar pipi lian yang ada dihadapannya. Entah dari mana yati mendapatkan kekuatan melakukan ini, tapi yang jelas ia pun jadi kesal dengan tingkah laku anak nya yang hampir saja membunuh orang lain.

"Keterlaluan kamu lian!!" Bentak yati.

"Bunda boleh lakukan apapun ke abang, bunda mau pukul atau mau marahin lian juga gak papa. Memang itu kesalahan besar yang susah untuk di maafkan" Ucap lian.

"Tapi bun, please... Untuk masalah ini abang mohon jangan terlalu dibesar-besarkan lagi. Abang pun sulit untuk menerima ini semua, abang juga sakit, tapi sekarang keadaan nya juga sudah berbeda bun, pelaku sudah meninggal dan yang satu sudah di tempat yang seharusnya untuk menjalani hukuman" jelas lian.

"Adik kamu meninggal liannnnn!! Itu gara-gara kakaknya salsa!!. Dengan dipenjara apa adik mu bisa kembali lagi disini? Hah?!" Bentak yati.

"Kamu lupa dengan apa yang udah dia lakukan dulu ke adikmu. Jauh sebelum dia buat adik mu meninggal, dia dulu yang udah perkosa syarla, bahkan dia bikin mental adik mu keganggu! Terus sekarang dengan gampang nya kamu bilang jangan dibesar-besarkan hanya karena pelakunya udah di penjara?!"

"Selama ini aja dia selalu kabur entah kemana. Hidup bebas tanpa adanya beban rasa bersalah, tau-tau muncul untuk bunuh orang!! Apa kamu bisa jamin dia akan tetap menjalankan hukuman nya?! Kalau kabur lagi gimana?! Hah?! Nunggu bunda lagi yang mati karena bisa aja kakaknya salsa yang mau bunuh bunda sekarang? Karena dendam sama kamu karena udah mau bunuh adiknya?!! Iyahh?!!" ucap yati yang benar-benar dengan suara tinggi. Dan hal ini pun membuat lian seketika jadi kepikiran. Apakah itu akan terjadi? Apakah benar yang dikatakan yati? Kevin memang bukan manusia yang gampang menyesali perbuatannya, melihat ayahnya meninggal saja ia malah senang tanpa ada rasa iba ataupun sedih sama sekali.

Sorry For Your Grudge [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang