86

7.8K 772 361
                                        


06:13 WIB

"Dan satu lagi, jangan tampakkan wajah mas lian lagi di hadapan salsa. Salsa gak mau lihat mas lian, semakin salsa sering lihat mas, itu justru yang buat salsa jadi semakin sakit. Mas bilang gak mau nyakitin salsa lagi kan? Berarti mas harus menjauh dari salsa. Jangan tampakkan wujud mas lian lagi ke salsa"

"Jadi tolong, tolong hargai keputusan salsa. Tolong kabulkan permintaan salsa yang ini"

"Salsa harap ini terakhir kalinya kita ketemu mas. Selebihnya, salsa harap kita ketemu hanya di ruang persidangan nanti"

Masih di dalam mobil, Lian memandang taman komplek itu dari kaca dengan lamunan nya. Tatapan nya kosong tapi kepalanya berisik dengan suara salsa yang terus terdengar.

Sakit, disaat orang tercinta nya malah tidak menginginkan dilihat lagi oleh nya. Bagaimana lian harus menjalani ini? Mungkin, menuruti keinginan orang tersayangnya memang jalan yang terbaik.

Mendengar Toni yang bersuara, lamunan lian seketika buyar.

"Pak lian yakin?" tanya toni menatap lian serius.

Lian mengangguk, tanpa menatap Toni. "Hanya dengan cara ini, saya bisa lihat dia..." jawab lian.

"Paling tidak, saya masih bisa lihat dia sebelum saya mengambil keputusan yang sudah saya kasih tau ke kamu kemarin" lanjut lian.

Toni hanya mengangguk menatap lian sendu. Lian yang ia pandang sekarang, seperti bukan lian yang biasa ia lihat dan kenali.

"Baik, kalau memang itu yang bapak mau. Saya gak punya kuasa apapun untuk melarang" ucap toni.

Toni beralih menatap sebuah kostum badut karakter yang ada di kursi penumpang mobilnya. Lalu ia kembali menatap lian seolah tak percaya, kalau bos nya akan melakukan hal ini.

"Pak lian... Apa bapak beneran yakin?" tanya Toni sekali lagi.

Kali ini lian menoleh, ia menatap toni sambil mengangguk mantap.

"Tapi kostum itu berat, dan panas. Apa bapak tahan? Bapak kan tidak biasa suhu panas"

"Bukan masalah besar" jawab lian. Yang lagi-lagi membuat toni menatap lian tak percaya. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menganggukkan kepalanya.

Toni akhirnya mengambil kostum badut itu untuk ia berikan pada lian. Dan lian segera cepat menyambutnya dan langsung memakai baju berat itu. Memang terasa cukup berat baju ini, ia pun sedikit sulit bergerak karena belum terbiasa memakai baju ini. Tapi hal ini, memang bukan masalah besar untuk lian.

"Aman pak?" tanya Toni memastikan lian sebelum lian memakai kostum yang bagian kepala.

"Aman" jawab lian singkat, lalu ia segera memakai kostum bagian kepalanya.

"Tukang penjual es cream gerobak itu sudah sempat saya briefing kemarin, dia gak akan heran lagi dengan kedatangan bapak. Dia sudah paham dan mengerti" ucap toni pada lian.

Lian kembali menganggukkan kepalanya dengan kostum berat itu. Kemudian ia mulai berjalan untuk mendatangi penjual es cream itu untuk menjalankan aksinya.

****

Salsa dan Nabilla telah berjalan keluar rumah untuk menuju ke taman komplek. Seperti biasa, salsa akan jalan pagi sesuai dengan perintah dokter agar proses persalinan nya nanti bisa lancar. Ditemani oleh nabilla yang pada hari ini turut menemani.

Nabilla sengaja, tidak mau membahas permasalah salsa dan lian. Ia mau, salsa fokus terlebih dahulu pada kehamilannya sampai lahiran. Setelahnya, mungkin salsa akan ia singgung lagi untuk membahas masalah rumah tangga nya. Karena Nabilla terlalu takut, jika kalau pembahasan ini terus ia singgung, salsa akan semakin stress dan terus menangis. Jadi sebisa mungkin, nabilla akan selalu membahas hal-hal yang menurutnya ringan saja.

Sorry For Your Grudge [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang