19

10.9K 446 51
                                        


Lian dan Salsa baru saja sampai di rumah sehabis pemakaman tadi, kaki mereka langsung melangkah menuju ke kamar.

"Mandi duluan gih, habis itu langsung istirahat" ucap Lian menatap Salsa.

Salsa hanya mengangguk dan langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

Lian turun ke dapur mengambil minuman dingin di kulkas. Tenggorokannya sangat terasa kering saat ini. Kemudian kakinya melangkah ke arah kolam renang yang ada dirumahnya.

Ia nikmati pemandangan sore ini sambil meneguk minuman yang ia ambil tadi. Matanya salah fokus ketika melihat taman disebelah kolam, taman kecil ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Taman ini sekarang jadi lebih hidup karena banyak ditumbuhi bunga-bunga segar yang Salsa tanam.

Senyuman terukir di bibir Lian tanpa ia sadari. Salsa memang pintar dalam mengurus rumah, ditambah lagi Salsa sangat jago dalam hal memasak. Dan begitu sempurnanya Salsa, ia juga pandai melayani Lian dengan sangat amat baik. Jujur dari hati Lian, ia akan sangat gampang sekali menyukai Salsa. Tapi sayangnya, hatinya masih terlalu keras untuk menerima Salsa di hidupnya.

Setelah kepergian ayahnya dan musibah yang menimpa Syarla, kehidupan Lian jadi sangat keras. Itu juga yang membuat hatinya jadi ikut keras, dia menjadi sosok yang sangat amat dingin dan kejam pada siapapun yang hendak menyakiti orang yang ia sayang.

Lian berfikir, setelah kejadian meninggalnya Denis, apa yang harus ia lakukan ke Salsa. Apa ia harus bersikap baik ke Salsa sebagai istrinya? Apa ia justru harus semakin benci terhadap Salsa? Ia masih bingung harus seperti apa, ia ingin merubah sikapnya ke Salsa karena Salsa sudah begitu baik dengannya, tapi di satu sisi Lian juga masih belum bisa menerima Salsa atas masa lalu yang diperbuat oleh keluarganya.

Lian jadi pening sendiri memikirkan ini, ia jadi seperti terjebak dalam permainannya sendiri.

Tapi biarlah saat ini ia bersikap baik dulu ke Salsa, mengingat Salsa baru saja kehilangan Denis. Lian juga tidak mau menyiksa Salsa cepat-cepat, ia masih ingin melihat dan menikmati Salsa yang perlahan sakit ditangannya.

"Mungkin dendam ku ke ayahmu sudah tidak ada artinya lagi, Sa. Karena dia sudah mati. Tapi aku masih punya dendam di kakak laki-laki mu yang belum terbalaskan. Jadi bersiaplah merasakan penderitaan yang baru" ucap Lian dalam hati.

***

Salsa telah selesai dengan acara bersih-bersih nya. Ia tak melihat Lian di kamar ini, mungkin pria itu sedang mencari angin diluar.

Kakinya melangkah ke lemari untuk mengambilkan baju ganti untuk Lian, entah pria itu mau mandi sekarang atau nanti yang penting ia sudah menyiapkan kebutuhan suaminya.

Kemudian Salsa berbaring di sofa tempat yang biasa ia tiduri, ia ingin mengistirahatkan semuanya. Badan dan pikirannya butuh istirahat sekarang, apalagi dari semalam ia tidak bisa tidur dan terus menangisi ayahnya yang meninggal.

Salsa menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya, matanya menatap langit-langit kamar. Ia meyakinkan dirinya sendiri, walaupun ia tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi ia bisa melewati nya seorang diri.

Salsa menarik nafasnya dalam sambil memejamkan mata. "Tenang Sal, ikhlas..."

"Semua akan baik-baik aja, semua ini sudah takdir terbaik dari Allah..." salsa mengucapkan itu pada dirinya sendiri, dan perlahan ia mulai terlelap.

***

Lian kembali dari kolam belakang, ia masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Dilihatnya sudah ada baju ganti untuk nya di atas kasur, kemudian ia menoleh ke arah sofa, ternyata ada Salsa yang sedang terlelap disana.

Sorry For Your Grudge [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang