Ayu duduk di samping Raka. Ia baru saja selesai mencuci wajah nya sehabis tidur.
Ayu menatap taplak meja yang sudah kotor dan banyak bekas hitam-hitam atau noda membandel mungkin.
"Meja nya kotor. Kenapa nggak di bersihkan dulu?"
Raka sempat berhenti menuangkan sambal ke dalam mangkok mendengar perkataan Ayu.
"Tidak sempat."
"Kalau kotor begini mana bisa makan. Tuh lihat ada piring kotor juga. Mending di bersihkan dulu lah."
"Kamu mau makan atau tidak?"
Ayu berdehem saat melihat tatapan Raka.
Ia tidak mungkin tidak makan. Jujur saja ia memang lapar.
"Aku makan di kamar!"
Lagi lagi perkataan Ayu membuat Raka berusaha menahan emosi nya.
"Makan di sini atau tidak sama sekali."
"Aku tidak bisa makan di tempat yang kotor begini. Kamu ngerti nggak sih?"
Tatapan tajam Raka serasa menembus jantung Ayu. Mau bagaimana lagi ia memang tidak bisa makan di tempat kotor begini.
Raka memilih diam dan mengambil bagian nya sendiri. Tidak peduli dengan Ayu. Ia mulai makan dan menyuap nasi nya sendiri.
Ayu yang di diamkan menjadi kesal sendiri. Ia bangkit dari kursi dengan kasar dan pergi ke kamar.
Raka melanjutkan makan nya dan membiarkan Ayu dengan kekesalan nya sendiri.
Di dalam kamar Ayu menghapus air mata nya. Ia sedih dan tidak tahu harus bagaimana. Belum sehari ia sudah di buat makan hati di sini. Semua berada di luar harapan nya.
Ayu yang hidup bergelimang harta dan semua yang di butuhkan sudah ada. Mau apa tinggal minta tinggal di ambilkan sama pembantu. Di sini, ia harus mandiri dan bisa ngelakuin apa-apa sendiri. Keadaan seperti ini membuat Ayu merasakan cultur shock. Harus nya Raka paham.
Ayu tersentak saat pintu kamar di ketuk.
"Masuk!"
Ayu segera menghapus air mata nya. Raka tidak masuk ke dalam. Ia hanya menjulurkan tangan yang membawa piring berisi makanan yang sudah di beli Raka tadi.
"Makan!"
Ayu menatap tangan Raka. Ayu terdiam. Ia antara gengsi menerima makanan tersebut.
Tapi kalau tidak makan ia bisa kelaparan. Ayu menjadi dilema.
"Makan atau tidak?" Lagi pertanyaan bernada datar itu kembali terdengar.
"Ya sudah." Saat Raka hendak menarik tangan nya, Ayu segera mengambil piring tersebut.
Mereka di batasi oleh kain pintu. Tidak bisa melihat ekspresi lawan. Padahal saat ini Raka sedang menyunggingkan senyum kecil nya.
"Air minum ambil sendiri di dapur!"
"Hm."
Setelah nya terdengar suara derap langkah yang mengartikan kalau Raka sudah beranjak dari pintu kamar.
Ayu kemudian duduk di atas kasur. Ia menatap piring yang berisi nasi dan ikan berkuah. Ayu tidak tahu nama nya apa.
Ayu mulai menyuap nasi nya. Baru beberapa suap Ayu merasa kerongkongan nya terasa di tusuk. Seperti nya tulang ikan.
Ayu batuk. Ia berusaha memuntahkan namun tidak bisa. Ayu tidak bisa menutup mulut nya lama-lama karena ada yang tersangkut di tenggorokan nya.
Mendengar suara aneh dalam kamar Raka pun segera berdiri dari duduk nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JEJAK RASA |
RomanceFollow dulu akun ini sebelum baca yaa!! Dunia Ayu Sekar Wangi jungkir balik! Dalam sekejap mata dirinya sudah berstatus sebagai istri dari laki-laki pilihan sang Kakek sebagai permintaan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas di dunia ini. Ayu...
