Bab 11 PERHATIAN RAKA

8.6K 500 25
                                        

Ayu mengulurkan tangan nya sembari mata nya tertutup. Sebelah pun susah untuk di buka.

Raka menyambut tangan Ayu.

"Perih banget mata nya. Nggak bisa di buka," rengek Ayu.

"Di bilas pakai air nggak bisa?"

"Nggak bisa. Udah di kucek kucek juga. Yang ada tambah perih."

Wangi tubuh Ayu membuat Raka gamang seketika. Apalagi posisi mereka saat ini. Mata Raka pun tidak bisa di kondisikan padahal Ayu sedang dalam kondisi kesakitan mata nya. Apakah Raka termasuk orang yang mencuri kesempatan dalam kesempitan.

Persetan dengan pikiran semua itu. Toh dirinya sah sah saja jika ingin melihat istri nya dalam kondisi begini kan. Seharus nya iya.

"Duduk di sini!"

Raka menuntun Ayu duduk di kursi. Ia membuka mata Ayu.

"Aaa perih pelan pelan!"

"Ya tenang. Jangan gerak gerak."

Raka meniup mata Ayu yang sudah tampak merah.

"Coba buka!"

Ayu membuka mata nya pelan pelan. Ia membuka dan mengedip namun belum sempurna terbuka.

"Belum. Duh kok gini sih. Nggak bisa di buka mata nya."

"Iya tenang dulu," ujar Raka penuh kelembutan. Ia kembali mendekatkan bibir nya pada kelopak mata Ayu dan meniup nya.

Ayu mengucek.

"Jangan di kucek. Nanti makin perih."

"Spontan," Ayu mengerucutkan bibir nya.

"Coba di buka pelan-pelan!"

Mata nya sudah tidak seperih awal nya. Juga sudah bisa di buka tapi ia harus memicing.

"Bagaimana?"

"Tiup sekali lagi!" Pinta Ayu pelan. Raka pun meniup lagi. Ia benar benar harus konsentrasi.

Ayu mengedip ngedipkan mata nya dan membesarkan bola mata nya agar bisa melihat dengan jelas.

"Udah nggak se perih tadi. Nggak bisa di buka lama lama juga mata nya."

"Pelan pelan saja dulu."

Ayu mengangkat kepala nya saat mendengar suara berat Raka. Posisi mereka sekarang Ayu duduk di kursi di hadapan nya Raka berdiri menjulang.

"Bisa ke kamar sendiri?"

Ayu terdiam. Ia lantas menjawab

"Anterin. Nanti jatuh."

Raka mengangguk. Ia kemudian menggenggam tangan Ayu dan mengantar nya sampai ke kamar.

"Segera pakai baju nanti kedinginan."

"Ya."

Ayu segera masuk ke dalam kamar. Kemudian dia keluar lagi. Raka masih berdiri.

"Makasih." Ayu gengsi juga.

"Hm."

Ayu mencibir dalam kamar. Ia selalu kesal kalau Raka sudah mengeluarkan jawaban jawaban singkat seperti itu.

Ayu segera memakai pakaian nya. Pilihan nya jatuh pada daster sepanjang lutut. Bagian dada nya berkerut dengan tali spagetti yang menyangga di bahu nya.

Ayu mengeringkan rambut nya. Di sini nggak ada hairdryer dia lupa membawa dari rumah nya.

"Apa di sini ada orang jual ya?" gumam Ayu.

JEJAK RASA |Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang