Double updatee lagiiii nihhhhh. Pada senang nggak??
"Abang!"
Ayu berlari menghampiri Raka yang sedang menebas rumput di pematang sawah.
"Kenapa sayang?"
"Besok Papa sama Mama mau ke sini."
Raka mematikan mesin nya. Ia menatap Ayu yang tersenyum sumringah.
"Kita jemput ke padang?"
Ayu mengangguk. "Papa minta jemput. Kalau kita nggak bisa jemput suruh orang aja kata Papa."
"Serius?"
"Iya. Bagus nya kita aja yang jemput bagaimana?"
"Boleh. Aku udah kangen sekali sama mereka."
"Oke sayang."
Ayu menatap pekerjaan Raka. "Pekerjaan nya masih banyak lagi nggak?"
"Lapar! Makan yuk!"
Raka mengangguk. "Ayo ke pondok."
"Ayo!" Ayu tersenyum girang. Topi lebar memayungi wajah nya dari terpaan sinar matahari.
"Itu cabe nya udah pada merah. Nggak di ambil memang?"
"Besok di panen."
"Beruntung nya yang punya ya. Harga cabe sekarang tuh mahal loh per kilo nya. Coba bayangkan berapa kilo itu semua nya dengan ladang seluas itu. Banjir duit lah pemilik nya."
Ayu tidak sadar kalau di belakang Raka tersenyum mendengar ucapan Ayu.
"Kenapa memang? Kalau misal nya Abang yang punya kamu mau beli apa?"
"Kalau Abang yang punya?"
Raka mengangguk. Ayu tersenyum lebar. "Duit nya buat aku?"
"Duit Abang kan memang duit kamu juga."
"Iya ya." Ayu tertawa. "Aku bakal gunain uang nya buat renovasi rumah abang habis habisan. Akan ku buat rumah Abang yang sekarang rumah jadi bagus."
Raka mendesah. "Memang kenapa mau renovasi rumah? Kan masih bisa di tinggali dan nggak ada yang patut di ganti juga. Nggak ada yang bocor juga," sahut Raka.
"Pokok nya mau aku renovasi. Rumah nya udah mode lama. Mau aku bikin yang mode baru. Kenapa Abang nggak mau?"
"Nggak ada Abang bilang nggak mau."
Ayu mengangguk tersenyum melihat Raka menyimpan mesin rumput dalam pondok.
"Kalau Abang nggak mau aku bakal buat rumah sendiri."
Alis Raka mengernyit.
"Mau buat rumah dimana?"
"Di jalan besar. Biar mudah akses ke sana."
Raka terdiam. "Kamu beneran mau buat rumah di jalan besar?"
Ayu mengangguk tapi menghela nafas. "Mau buatin?"
"Kalau bikin rumah di jalan besar terus rumah yang di sini gimana?"
Ayu terdiam berpikir. "Tinggalin aja atau suruh orang tinggal di situ sekalian jagain rumah nya."
"Nggak mungkin dong sayang. Tinggal begitu aja rumah nya. Kalau mau di jalan besar kan bisa tinggal di ruko."
"Mana bisa. Di situ tempat jualan. Penuh barang."
"Nanti di bangun di atas nya. Kita tinggal di lantai dua."
"Yang benar?" Ayu tersenyum sumringah.
Raka mengangguk. "Tapi kita nginap nya di sana sesekali aja. Rumah utama kita tetap di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
JEJAK RASA |
RomansaFollow dulu akun ini sebelum baca yaa!! Dunia Ayu Sekar Wangi jungkir balik! Dalam sekejap mata dirinya sudah berstatus sebagai istri dari laki-laki pilihan sang Kakek sebagai permintaan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas di dunia ini. Ayu...
