BAB 15-16

8.6K 497 43
                                        

Doubleeeeee updateee nihhhhh!!!!

Sukaa nggak??

Angkat tangann!

Hujan turun membasahi bumi sejak sore tadi. Bahkan sampai malam seperti ini tidak berhenti atau sekedar memberikan gerimis. Apalagi memberikan jeda bagi para makhluk di muka bumi ini.

Di dalam kamar Ayu tidak berhenti menangis menyaingi suara hujan di luar. Lampu mati membuat seluruh penerangan dalam keadaan gelap gulita. Ayu masih beruntung karena ia menghidupkan senter handphone sebagai penerangan.

Bunyi petir bersahutan di luar. Sejam lebih sejak lampu mati Ayu tetap berada dalam kamar karena takut sendirian di rumah.

Raka sejak pergi jam tiga siang belum kembali sampai malam ini. Kemana laki-laki itu? Kenapa ia tidak cepat pulang. Lupakah ia kalau di rumah ada Ayu yang ia tinggal sendirian.

Ayu tidak bisa melakukan apa apa. Menghubungi Raka pun tidak bisa karena signal tidak ada. Yang di lakukan Ayu hanya menangis di sudut tempat tidur nya.

Tok tok tok

Ayu mengangkat kepala yang semula menunduk. Ia mencoba mendengar suara.

Tok tok tok

Ternyata memang ada yang mengetuk pintu. Ayu memegang erat ponsel nya sembari mengarahkan senter ke luar.

Ia berharap yang pulang adalah Raka.

Tok tok tok

Ayu segera menghapus air mata nya yang masih mengalir.

"Siapa?" Teriak Ayu karena suara hujan yang menggema.

"Saya."

Bunyi suara Raka. Ayu segera memutar kunci dan membuka pintu.

Ayu menyenter wajah orang tersebut dan memang Raka.

Tangis Ayu kembali pecah. Raka terkejut mendapati mata Ayu bengkak dan merah. Raka segera masuk ke dalam rumah dan meletakkan kantong belanja di atas sofa.

Ia menutup pintu dan mengambil ponsel Ayu.

"Tunggu di sini!"

Ayu duduk di sofa menutup mata nya dengan tangan. Bahu nya bergetar dengan isakan tidak tertahan.

Dengan cahaya dari ponsel Ayu, Raka mencari lilin dan menghidupkan nya.

Raka meletakkan lilin di atas meja. Ruangan yang gelap perlahan bercahayakan lilin. Ponsel Ayu dimatikan.

Raka duduk menghadap Ayu. Ia memegang bahu Ayu.

"Kenapa?"

Ayu masih menangis. Ia memukul Raka bertubi tubi sampai Raka kewalahan. Awalnya Raka membiarkan namun seperti nya Ayu sudah keterlaluan. Raka mencekal tangan Ayu.

"Ada apa?"

Raka tidak bisa lembut lembut. Ayu yang mendengar bentakan kembali menangis histeris.

Raka membuang nafas kasar. Ia tahu suara bentakan nya barusan membuat Ayu semakin menangis.

Raka mengambil tangan Ayu dengan lembut. Pipi nya bersimbah air mata. Seketika Raka mendadak Iba dan merasa bersalah.

"Kenapa menangis?" Raka bertanya lembut dan pelan. Ayu menghapus air mata nya asal. Ia menatap Raka dengan mata bengkak dan hidung merah.

"Abang kemana? Kenapa baru pulang? Aku takut. Hari hujan lampu mati. Aku di rumah sendirian. Petir di luar menggelegar. Aku ketakutan," ujar Ayu melirih di akhir kalimat nya.

JEJAK RASA |Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang