"Gimana Ma? Enak? Enak kan Pa?" Ayu menatap wajah orang tua nya dengan sorot mata menanti.
Lia mengangguk sembari mengacungkan jempol. "Enak banget sayang. Pintar kamu bikin rendang ini. Mama aja nggak bisa."
Ayu tersenyum senang dan bangga di puji sama orang tua nya.
"Nggak nyangka ya Ma. Anak yang dulu nya cuma tahu makan sekarang udah pintar masak. Rendang lagi," tambah Abram ikut bangga.
"Iya dong. Manusia itu kan berproses. Nggak mungkin dong aku nggak bisa. Kalau ada niat pasti bisa. Aku kan orang nya cepat nangkap kalau di ajarin sekali dua kali."
"Mama senang mendengar nya." Lia menggenggam tangan anak nya.
"Ayo Ma makan lagi. Nambah lagi tuh daging nya. Tadi Abang beli dua kilo daging nya. Banyak tuh."
Lia mengangguk. Diam diam ia sangat bersyukur anak nya tampak bahagia di sini.
"Abang mau nambah juga nggak?"
"Nggak. Ini udah cukup."
"Eh Abang dapat hati nya ya. Kok bisa. Di pilih tadi?"
Raka menggeleng. "Mau?"
Ayu mengangguk. Raka langsung menyuapkan istri nya. Mereka tidak sadar kalau sedang di perhatikan.
Lia mencolek bahu suami nya. Abram pun mengkode istri nya untuk diam.
"Hmm. Enak."
Ayu sangat bangga sama dirinya sendiri karena sudah sampai sejauh ini kepandaian nya. Seperti nya nanti ia harus memberi reward untuk dirinya sendiri.
****
Lia dan Ayu sedang berada di dapur. Membereskan sisa makan mereka. Sedangkan Abram bersama Raka sudah ke depan. Ayu tidak tahu mereka lagi apa.
"Sini duduk dulu, Nak. Mama mau bicara."
Lia menepuk kursi di sebelah nya.
"Mama mau ngomong apa? Kok kayak nya penting gitu?" Ayu duduk. Mereka saling berhadapan.
"Kamu bahagia di sini?"
Ayu langsung mengangguk. Sekarang Ayu paham maksud Mama nya.
"Bahagia Ma."
Lia tersenyum. "Mama juga lihat nya begitu. Semoga saja memang begitu. Raka memperlakukan kamu dengan baik seperti nya."
"Awal awal seperti yang Mama tahu jelas lah nggak baik. Kita kan di nikahkan Kakek. Nggak saling kenal. Jadi ya gitu. Aku nggak terima. Aku sering melawan sih sama Abang tapi Abang sabar banget ngehadapin aku, Ma. Sesekali ada sih Abang kesal atau marah tapi ya nggak yang besar gitu. Pokok nya aku bahagia sama Abang Ma."
Ayu kembali mengingat masa masa awal di sini. "Aku kan nggak bisa masak tapi Abang selalu menyuruh aku masak. Dan hasil nya ya seperti yang mama lihat sekarang. Aku bahkan bisa rendang yang proses masak nya ribet dan lama. Aku bisa se sabar itu ternyata Ma."
Lia menggenggam tangan Ayu. "Mama senang kalau kamu bahagia bersama suami kamu saat ini. Tapi, Mama lihat di sini rumah nggak banyak. Kamu nggak kesepian?"
Ayu mengangguk. "Kadang kadang aku kesepian Ma. Gabut nggak tahu mau ngelakuin apa. Tapi kalau udah bosan banget. Suntuk Aku ke Ruko kalau nggak ke ladang sih nemenin Abang. Tapi nggak ikut kerja."
Lia mengangkat alis nya. "Ke ruko? Ngapain? Belanja?"
"Bukan Ma. Abang punya Ruko kayak semacam toko bangunan Ma. Ada pegawai nya juga di sana. Sesekali kita akan ke sana."
Lia menatap tepat bola mata anak nya." Banyak dong duit suami kamu. Bisa shopping dong."
Ayu tertawa. "Mama tenang aja. Nggak usah cemas. Abang itu uang nya banyak. Mama pasti mengira kalau Abang miskin kan? Aku juga begitu dulu. Tapi ke sini nya aku tahu kalau Abang itu banyak uang nya. Aku aja kalau belanja nggak tanggung tanggung juga habisin uang Abang. Tapi dia nya nggak pernah marah sih. Lebih ke membiarkan aja. Santai aja gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
JEJAK RASA |
RomanceFollow dulu akun ini sebelum baca yaa!! Dunia Ayu Sekar Wangi jungkir balik! Dalam sekejap mata dirinya sudah berstatus sebagai istri dari laki-laki pilihan sang Kakek sebagai permintaan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas di dunia ini. Ayu...
