"Kitci!! tayang tuuuu~" senang Iyo saat berhasil menangkap kucing berbulu putih.
"Iyo pangku diperut jangan dileher, ke cekek itu heh!!"
"Gapapa Yo. Di leher aja, lanjutkan lanjutkan!" kompor Riku pada Iyo, membuat balita itu tersenyum berlari kearah Riku dengan memeluk Kitty sangat erat.
"SIRIKKU!" kesal Yushi saat Riku mengajarkan hal yang tidak benar pada Iyo.
Kedatangan balita yang dibawa Jaehee membuat para bujang tua memiliki kegiatan tambahan. Biasanya menjelang malam Riku dan Yushi hanya akan berdiam diri didalam kamar, atau sekadar berduduk santai sambil menonton televisi selagi Jaehee menyiapkan makan malam. Sion? Dia akan pulang sekitar jam 08.00, itu pun jika tidak ada pekerjaan mendadak.
Mata Iyo berbinar saat melihat Yushi menggendong seekor kucing putih. Kaki kecilnya melompat dari pangkuan Jaehee mengejar si kucing. Yushi tak masalah, hanya saja Iyo masih belum bisa menggendong kucing dengan benar.
"Yikuu!! Kitcii!!!" Iyo menyodorkan kucing itu ke hadapan Riku.
"No no. Bukan Yiku tapi Abang Yiku. Apa?" ucap Riku membenarkan.
"Om Riku!" sahut Yushi.
"Diem Yushi!" Riku menatap Yushi galak.
"Diem Ushi!" tiru Iyo, bahkan dengan raut yang dibuat segalak mungkin. Riku tersenyum bangga. Wahh sepertinya anak kecil ini bisa dia jadikan pasukan untuk melawan Yushi.
"Gue punya pasukan dong!" bangga Riku, lalu mengangkat Iyo untuk duduk di pangkuannya. Sepertinya Iyo akan menjadi bocil favorit Riku mulai saat ini. Yushi tak mau kalah, jika Iyo ada di pihak Riku maka bocah bernama Uya itu harus ada di pihaknya. Yushi pergi meninggalkan Riku. Tujuan langkahnya adalah dapur, dimana disana Jaehee tengah menyiapkan makan malam.
"Jee, Uya sukanya apa?" tanya Riku pada Jaehee yang sedang mencuci piring.
"Ngapain nanya gue, Bang?" jaehee menjawab tanpa menoleh.
"Kan Lo Mamahnya." Yushi cengengesan saat melihat tangan Jaehee hendak melemparkan gelas plastik.
"Ga tau. Tapi anaknya suka roti Bang Riku. Gue mau mandi dulu. Kalo kalian laper bisa makan duluan." Yushi mengangguk, agaknya dia akan makan nanti saja menunggu yang lain. Tapi laper, mungkin dia akan mengajak Riku dan si bocil Iyo.
Dikamar Jaehee, Uya beberapa kali mengerjapkan mata. Balita kulit putih itu baru saja bangun, matanya berkaca-kaca saat melihat keadaan kamar yang gelap. Baru saat ingin mengeluarkan suara tangisnya lampu mendadak menyala.
"Haloo~" Sion berdiri di samping saklar lampu kamar Jaehee. Beruntungnya dia lewat kamar Jaehee tadi.
"Uh? Papa!" girang Uya dengan senyum lebar. Tangannya merentang meminta agar Sion mau memangkunya.
"Aduh jangan Papa. Abang. Panggilnya Abang Sion," koreksi Sion sambil membawa Uya kedalam pangkuannya.
"Cion."
"Bukan, Abang. A-bang coba,"
"Coba!" ucap Uya. Sion menarik bibirnya untuk tersenyum paksa. Iyo dan Uya sama-sama memanggilnya Papa. Apa dia setua itu? Padahal tadi saat Riku dan Yushi berkenalan dengan Iyo, balita itu memanggilnya Abang.
"Uya udah bangun?" Sion menoleh.
"Mama!! Mama!!"
"Sudahlah Uya, panggil kakak aja. Titipin aja ke bang Yushi sama Riku. Sekalian minta disuapin Uya sama Iyonya. Gue mau mandi, Bang Sion juga belum mandikan? Kalo mau makan dulu sih boleh aja, terserah lu bang," Jaehee berucap sambil memainkan pipi Uya. Lucu pikirnya, seperti akan tumpah.
"Wahh Papa dan Mamah kamu coswitt bangett Iyo~" Riku dan Yushi datang bersama Iyo yang memangku Kitty. Bocah itu berlari kecil menuju kearah Jaehee.
"Uya! Kitciii!" Uya memberi kode pada Sion untuk menurunkannya. Bola mata Uya berbinar saat Iyo memperlihatkan kucing berbulu putih.
"Mpuss~"
"Kitcii Uyaa bukan mpuss!" Iyo memberi tahu Uya jika kucing yang dia bawa bernama Kitty. Disaat Jaehee dan Sion fokus pada interaksi kedua balita dengan sikucing. Yushi tersenyum jahil, tangannya mencolek Riku. Kernyitan bingung terlihat pada wajah Riku, bibirnya membulat membentuk huruf O saat mengerti maksud Yushi.
"Adek-adek yuk ikut Abang. Kita kasih waktu Papa sama Mamah kalian buat berduaan," Riku dan Yushi masing-masing memangku satu anak. Uya sempat memberontak saat hendak akan dipangku Yushi. Untungnya kembali tenang saat Yushi merayunya dengan iming-iming sebuah Roti.
"RIKU YUSHI!!" teriak Jaehee yang emosi karena kelakuan kedua Abangnya.
"Jee mulutnya,"
"Uww keknya mulut Mama minta di tampar deh Pa," Riku langsung berlari, tak lupa dia membawa Kitty juga dalam pangkuannya.
"Tampar pake bibir Papa, iya ga Rik?" Yushi ikut mengejar Riku dengan Uya pangkuannya.
"CUCI DULU TANGAN IYO SAMA UYA KALO MAU MAKAN!"
"IYA MAMA!!" jawab Riku dan Yushi bersamaan diiringi tawa yang menggelegar.
"Lo ngapain masih disini Bang?! Sono pergi juga!" usir Jaehee dengan galak pada Sion.
"Sabar napa Ma," Sion buru-buru pergi saat Jaehee telah mengepalkan tangan. Seru juga ternyata menjahili Jaehee. Jika dipikir-pikir bukankah Sion pemilik dari rumah ini? Jaehee, Riku dan Yushi kan cuma menumpang. Yaa walaupun itu atas ajakan dari Sion sendiri. Tapi kenapa kelihatannya Sion tak ada harga dirinya sekali sebagai tuan rumah.
Okeee segini dulu, aku ada sesuatu yang perlu diurus ehehe
Mau ngajak adek Jaehee kepasar malam
paiipaii semuanya~~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)