"Mangkuk apa baskom ya?"
Jaehee menimang-nimang mangkuk dan baskom yang kini tengah dicekal tangan kanan dan kirinya. Membandingkan mana benda yang lebih tepat dia gunakan untuk sup yang telah dia buat. Jaehee telah membantu Riku dan Yushi untuk pindah ke kamar Sion, agar Jaehee lebih mudah untuk memantau mereka.
"Apa gue bawa aja mejikom sama pancinya? Biar kek hajatan gitu ... " Jaehee menatap bergantian panci yang berisi sup serta tempat nasi, pada akhirnya dia memilih mangkuk. Dari pengalamannya mengurusi orang-orang sakit, mereka memang jarang sekali makan banyak.
Rumah terasa sepi saat Sion, Riku dan Yushi sakit. Biasanya saat ini mereka tengah berkumpul sambil menonton siaran TV, kali ini malah terdengar suara bersin serta ringisan. Jaehee membuka pintu kamar Sion, terlihat sang pemilik masih setia menyumpal hidungnya dengan tisu, lalu disampingnya ada Yushi yang terlelap. Riku ada diposisi paling ujung, orang dewasa itu terlihat lelah menanggapi ocehan si bocil Iyo.
"Yikuu kok ham hem teyus! Yikuu cariawan ya? Ooo Yo lupa Yiku cakitt ..." celoteh Iyo, yang hanya dibalas dehaman oleh Riku.
"Iyoo, Kakak bilang apa sebelumnya? Jangan deket-deket abang-abang. Mereka lagi sakit, Iyo mau kayak mereka? Nanti indung Iyo kek bang Sion tuh," Jaehee meraih tangan Iyo, menariknya perlahan agar sedikit tercipta jarak dengan Riku. Matanya mengedar mencari satu lagi sosok balita yang selalu berada didekat Iyo, biasanya Uya akan selalu ada satu tempat dengan Iyo. Sekarang dimana keberadaan balita roti itu?
"Uya mana?" tanya Jaehee entah pada siapa.
"Diciniiiiii ... BWAAA!!" kepala Uya muncul dari dalam selimut, wajah putih di balita terlihat merah karena kepanasan, dengan cepat Jaehee meminta Uya untuk segera keluar dari selimut.
"Uyaa kan Kakak udah bilang jangan deket-deket mereka. Kamu ngapain sembunyi di balik selimut! Iyo juga, abang-abang lagi sakit. Mereka perlu istirahat jangan dulu di ajak main," omel Jaehee sambil menggendong Uya dan menarik tangan Iyo untuk keluar dari kamar Sion. Raut kesal Jaehee membuat Iyo dan Uya menciut, saat diruang tengah kedua balita itu hanya bisa diam menunduk sambil saling menautkan satu tangan.
"Maaf Mama ... " ucap Iyo dengan suara yang terdengar bergetar, balita kecil itu menahan tangis. Berbeda dengan Uya yang menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara isak tangis.
"Kalian- huft," Jaehee memejamkan matanya sejenak untuk mengatur luapan emosi yang ada, didepannya ini hanyalah seorang anak-anak, mereka perlu bimbingan, perlu diajarkan dengan sabar.
"... jangan ya, Kakak takut kalian sakit kayak abang-abang. Iyo sama Uya jangan sakit, Kakak sedih nanti kalo kalian sakit," raut kesal Jaehee melunak, bahkan dia berucap sangat lembut dan penuh hati-hati agar balita didepannya ini tak salah mengartikan ucapannya.
"Tunggu disini, Kakak buatkan susu sama ngambil kue buat kalian. Abis tugas Kakak selesai, kita mewarnai bareng-bareng. Mau?" Jaehee tersenyum hangat saat melihat anggukan kepala dari Iyo dan Uya, sangat gemas! Sampai Jaehee tak bisa menahan tangannya untuk mematikan pipi gemas mereka.
Kedua balita itu menatap Jaehee takut-takut, rasa bersalah karena membuatnya kesal masih ada. Bahkan saat ditanya pun mereka hanya akan menjawab dengan anggukan kepala. Biarlah nanti Jaehee urus masalah itu, untuk sekarang dia perlu memastikan tiga orang bujang lapuk yang terbaring sakit dalam satu ranjang itu makan dengan benar.
"Lo marahin mereka Je?" pertanyaan dari Sion menjadi sambutan pertama Jaehee ketika memasuki kamar Sion.
"Bukan! Mereka dia potong-potong terus di masak jadi sup, tuh sup daging mereka," kesal Yushi saat mendengar pertanyaan yang jelas sudah dapat mereka ketahui.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)