[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
Bosan. Sendirian dia lingkungan yang asing memang sangat membosankan. Apalagi jika dirimu diminta untuk menunggu tanpa di bekali dengan teman mengobrol. Begitulah yang saat ini keadaan Sion. Satu jam berlalu dan polisi yang membuat janji dengannya sama sekali belum menunjukan batang hidungnya.
"Lama menunggu?"
"Ah, tidak. Hanya saja aku sangat bosan." jawab Sion yang mengundang kekehan seorang polisi.
"Itu artinya anda telah lama menunggu, tuan Sion." inginnya Sion mengucapkan kalimat yang lebih pedas dari yang tadi. Tapi sadar dirinya bukan Yushi.
"Ini surat dendanya. Saya tahu ini bukan masalah yang besar untuk anda. Maksud saya memanggil anda adalah ... saya menangkap gelagat aneh dari adik anda tuan." Sion menatap petugas polisi didepannya dengan tatapan bertanya. Semua indra telah dia pasang untuk mendengar dan mencermati semua yang akan polisi itu katakan.
"Tuan, jika saya tidak membantu adik anda saat itu. Mungkin saja bukan satu orang yang perlu diantar kerumah sakit, tapi dua. ... "
Sion terus menyimak tanpa berniat untuk menyela cerita seorang polisi didepannya. Otaknya dapat menyimpulkan jika Jaehee memiliki trauma. Tapi trauma apa? Jadi selama ini mereka belum saling mengenal dengan benar. Masih ada sesuatu yang disembunyikan teman-temannya.
"Thanks for info pak. Saya pamit." Sion pergi setelah selesai membayar semua denda yang telah Jaehee perbuat.
Sion mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Matanya fokus pada jalanan tapi otaknya menyimpan banyak pertanyaan. Orang-orang yang selama ini tinggal satu atap dengannya ... Sion pikir dia telah mengenal mereka semua. Tapi kenyataannya tidak. Dia belum tahu bagiamana Jaehee sebenarnya, apa yang anak itu sembunyikan?
"Gue ga tahu gimana jalan pikiran Riku, Gua ga tahu latar belakang keluarga Yushi, Gue ga tahu ketakutan Jaehee ... payah Sion!" gumam Sion. Tangan Sion memutar gas, motor yang dia kendarai kini melesat begitu cepat. Yang dia pikirkan saat ini hanya sampai di rumah. Hanya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Papaa puyangg!! Jee paa Puyang!" tunjuk Uya pada pagar depan yang masih tertutup. Balita itu berlari mendekati pagar, berniat membukakan pagar untuk jalan Sion masuk.
"Halo jagoan. Bisa buka pagarnya? Papa mau masuk," ucap Sion diseberang sana yang masih terhalang oleh pagar.
Uya mengangguk cepat sehingga buntalan susu yang ada di pipinya ikut bergoyang. Tangan kecil dengan jemari gemuk itu mendorong pagar. Sangat sulit, namun balita itu tetap berusaha mendorongnya.
"Sudah biar papa aja ya,"
"No papa! Ya panggil Jee duyuu, papa diyam yaaa~" ucap Uya dengan senyum lebar, menampilkan deretan gigi susu yang putih dan rapi.