[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
"Hiks ... Hiks ... peyihh hiks ... cakit ... hiks peyih ... hiks." rancau Uya saat Jaehee tengah mengobati luka di lutut sikecil. Jungmin dan Iyo telah dia urus, tersisa Uya yang paling susah untuk diobati. Jaehee menghela nafas, otaknya berpikir keras mencari cara agar Uya bisa diam saat dia obati.
"Nih!" bak pahlawan Iyo datang dengan menyodorkan satu buah roti pada Uya. Jaehee tersenyum senang saat melihat Uya berhenti menangis. Kini perhatian Uya hanya berfokus pada roti yang dia kunyah.
"Pinternya." puji Jaehee pada Iyo. Tangannya memberi usapan lembut pada surai hitam Iyo.
Selesai mengatasi dua balita ditambah Jungmin sekarang tujuan Jaehee adalah tempat kerja Riku. Sedikit aneh, jika dipikir-pikir bukankah Riku selalu mengawasi pergerakan Iyo dan Uya lewat cctv cafe. Kenapa tadi dia tidak melihat Riku yang turun? Atau mungkin karena ada dirinya? Tidak. Walaupun Jaehee ada pasti Riku akan tetap menghampiri mereka.
"Aneh."
Sampai didepan pintu. Jaehee mencoba untuk mengetuk. Beberapa kali ketukan telah Jaehee lakukan, sama sekali tak menghasilkan apapun. Rasa khawatirnya semakin besar. Tanpa menunggu Jaehee langsung membuka pintu. Tampilan Riku yang tengah menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan menjadi hal yang pertama kali Jaehee lihat. Ini bukan hal yang buruh kan? Bisa saja Riku tertidur karena lelah?
"Bang?" panggil Jaehee saat dirinya telah didepan Riku. Tidak ada sahutan, Jaehee memilih berpindah menjadi di samping Riku. Menggoyangkan pelan pundak Riku supaya si pemilik pundak mau membuka matanya.
"Bang Rik!"
"Jee?" Sahutan terdengar. Namun rasa khawatir Jaehee belum sepenuhnya hilang. Mendengar suara Riku yang begitu lemah serta pergerakannya yang terlihat lambat malah semakin membuat Jaehee takut.
"Lo pucet banget bang! Kita kerumah sakit sekarang." alangkah terkejutnya Jaehee saat melihat keadaan Riku yang jauh dari kata baik-baik saja. Bibir pucat serta mata yang menyiratkan rasa sakit, terlihat jelas tertangkap oleh Jaehee.
"Jee, maaf ... " lirih Riku.
"Tunggu gue dapet laporan kesehatan lo dari dokter. Biar gue tau maksud maaf dari Lo." ucap Jaehee yang kini tengah berusaha membopong tubuh lemas Riku. Meski sulit karena dirinya harus melewati tangga, Jaehee tetap berusaha membawa Riku. Sampainya di lantai satu teriakan histeris dari Iyo dan Uya menyambut. Kedua balita itu kembali terisak saat melihat keadaan Riku yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Ayah kenapa jee ... "
"Yayah Yayah hiks."
"Kalian percaya sama Jeje ya. Sekarang kalian tunggu disini sama Juju, nanti Ushi jemput kalian. Ju ... " belum sempat Jaehee menyelesaikan perkataannya anggukan kepala lebih dulu dia terima dari Jungmin.
"Thanks, Ju." ucap Jaehee denga pelan.
"Titip Abang Lo, ya." Jungmin memeluk erat kedua balita yang terus saja memberontak ingin ikut bersama Jaehee dan Riku. Sangat sulit untuk membuat dua balita ini diam, Jungmin sampai meminta bantuan pekerja Riku untuk menenangkan Iyo dan Uya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.