08. Weekend

2.1K 207 52
                                        

Senyum cerah terlukis diwajah Jaehee dan dua printilannya. Sesuai janjinya pada Uya, libur kali ini dia akan mengajak mereka bermain perosotan. Bukan hanya perosotan, banyak permainan lain seperti ayunan, jungkat jungkit dan yang lainnya. Taman pun terlihat sangat penuh dengan pengunjung, Jaehee telah memberi petuah pada Iyo dan Uya untuk jangan sampai jauh-jauh darinya. Kedua balita itu langsung membentuk barisan bak ular dengan posisi Uya memegang ujung kaos Jaehee dari belakang, lalu Iyo berpegangan pada pundak Uya.

"Naik kereta api?" Jaehee menyanyikan lagu anak-anak disepanjang jalan, untuk memastikan kedua balita itu tak hilang.

"Ttut Tut Tut ~~" sahut kedua balita itu dengan suara cemprengnya.

"Siiiiapa hendak?"

"Ttutt tut tut~~"

"Kok Tut Tut Tut mulu, kalian hafal lagunya gak?" kesal Jaehee karena sedari tadi mereka hanya menyahut dengan nada yang sama.

"Ndakk Mama," keduanya menggeleng kompak, walaupun tak dapat dilihat oleh Jaehee.

"Kita pulang aja deh. Kalian manggil Mama lagi," ancam Jaehee membuat kedua balita itu segera berlari untuk berada didepan Jaehee. Mereka memasang wajah melasnya dengan tangan yang disatukan seperti memohon.

"Kakak Jeyii!"

"Kakak Jee!"

"Nahh pinter," Jaehee mengecup singkat pipi Iyo dan Uya.

Kini Jaehee berjalan dibelakang, menyaksikan tingkah Iyo dan Uya yang sesekali melompati batu  kerikil jalanan. Jaehee hanya memperhatikan, dia tidak akan melarang selagi tak ada yang terluka.

"Uya lompat!" instruksi Iyo pada Uya.

"Hap!"

"Nah udah sampai! Ayok kearah perosotan sebelum mengantri lebih banyak!" melihat senyum senang kedua balita didepannya Jaehee menjadi semangat. Beruntung di taman bermain itu hanya ada mereka, jadi Iyo dan Uya tidak perlu berbagi dengan anak lain.

"Syuhh!" tunjuk Uya dengan semangat saat didepannya terdapat perosotan.

"Eih? Kakak ni apa?" Jaehee tersenyum, Iyo memang punya rasa penasaran yang lebih dari Uya.

"Ini perosotan. Coba ulang," pinta jaehee pada kedua balita didepannya.

"Pe," Jaehee coba mengeja.

"Pe!"

"Ro,"

"Lo!"

"So,"

"So!"

"Tan,"

"Tan!"

"Perosotan," ucap Jaehee sekaligus

"Pasotan!"

"Aduh bukan, tapi perosotan," Jaehee memijat keningnya, kira-kira umur empat tahun wajar tidak jika cara bicaranya kurang jelas? Apa perlu dia ajarkan menulis dan membaca?

"Ihhh main kakk!!" Uya menghentak-hentakan kakinya, kesal karena Jaehee malah menghalangi niatnya untuk bermain perosotan. Berbeda dengan Iyo, anak itu tidak terlalu tertarik dengan permainan perosotan, saat dikenalkan mengenai jenis-jenis wahana bermain pun anak itu hanya excited seperlunya.

"Cini Uya!" Iyo menarik tangan Uya menuju tangga perosotan yang lumayan tinggi untuk seumuran mereka berdua.

"Eits bilang apa anak-anak?" Jaehee muncul saat Iyo hendak menaiki tangga perosotan.

"Tolong ya Kakak Jeyii~"

"Tentu~"

Jaehee menemani mereka bermain, tawa riang yang dikeluarkan si kecil bagai obat lelah bagi Jaehee. Anak-anak itu terus bermain mengabaikan lelehan keringat yang keluar dari dahi, serta suara teriakan yang terus mereka keluarkan seakan-akan tak membuat tenggorokan mereka sakit. Bosan dengan perosotan, kedua balita itu beralih bermain kuda-kudaan. Sekalian beristirahat sejenak untuk minum.

"Kalian ini, gak capek?" tanya Jaehee sambil mengelap keringat Iyo dan Uya secara bergantian.

"Ndak, Mama. Hehe," wajah gemas Uya, mana mungkin Jaehee marah saat dihadapannya terpampang pemandangan menggemaskan.

"Yikuu!! Ushii!! PAPAAA!!" Iyo melompat dari kuda-kudaan. Jaehee sempat panik karena perlakuan tiba-tiba Iyo, dia berbalik menemukan tiga orang bujang lapuk dengan setelah kaos dan celana training.

Iyo sangat senang ketika melihat Sion. Diantara yang lainnya memang Sion yang paling jarang memberikan waktu untuk para balita. Tadi pun rencananya mereka bertiga tidak berniat ikut, makanya si kecil Iyo amat sangat senang ketika melihat Sion, bahkan sekarang balita itu tertawa lepas saat Sion mengangkatnya untuk duduk di pundaknya.

"Kitciii!" Uya menyapa kucing berbulu putih yang dibawa Yushi.

"Cucu gaK dibawa bang?" tanya Jaehee saat Riku hanya membawa bola sepak plastik.

"Lo kira cucu duyung yang bisa punya kaki? Biarin dia berenang dengan tenang tanpa gangguan si kitti." Riku mendudukkan dirinya didekat Jaehee dan Yushi.

"Bang Sion udah cocok jadi bapak tuh," komentar Yushi saat melihat interaksi Sion dengan para balita. Didepan mereka Iyo masih duduk dipundak Sion tertawa riang dengan Uya dan Kitty yang mengejar, Sion juga berlaku adil. Setelah Iyo kini berganti Uya yang duduk dipundaknya, kembali berlari dengan Iyo yang mengejar.

"Lo berdua juga. Mau sampe kapan jadi bujang lapuk, cari jodoh sana!" balas Jaehee membuat Riku dan Yushi tertohok.

"Andai cari pendamping hidup itu mudah, gue udah punya empat kali Jee sekarang," ketus Riku yang diangguki Yushi. Nyatanya mencari pendamping hidup yang satu prinsip dan benar-benar membuat mereka nyaman itu sulit, atau mungkin selera mereka saja yang sangat sulit ditemukan.

"Kalo lo, Punya gebetan Jee?" tanya Yushi. Masa putih abu-abu biasanya memiliki kisah love story yang menarik, berbeda dengan putih biru yang masih terbilang cinta monyet. Selain itu, Jaehee belum pernah membawa teman perempuan ke rumah. Bahkan teman kelompok pun biasanya penuh dengan teman laki-laki.

"Kagak punya, gatau belum. Ahh Mama sama Ayah aja dulu saling cinta, katanya. Ujung-ujungnya cerai tuh! Gue ngelajang aja kali ya, terus adopsi tu bocil-bocil," pandangan Jaehee terpaku pada Iyo dan Uya yang masih bermain, mereka bermain di tumpukan pasir, mengupulkan pasir ditengah untuk membuat gunung.

"Emang bisa, bukannya mereka udah ada yang ngambil ya?"

"Iya, orang yang adopsi mereka gak bener. Tuh buktinya mereka ngilang aja gak dicariin," Sion datang menghampiri, merebut botol air mineral dari tangan Jaehee. Meneguknya hingga tandas.

"Cape Lo? Keliatan banget jomponya."  Sion tak menanggapi ucapan Yushi, toh emang bener dia capek.

"Kalian kok mendadak kesini? Tadi pagi diajak gamau," akhirnya Jaehee ingat untuk menanyakan hal ini.

"Ouh itu, kita juga mau ikut family time. Yaa walaupun peran gue dalam keluarga cemara ini jadi selingkuhan Mama Jee. Gapapa kok, kan langkah pertama buat merebut istri orang itu harus deketin dulu anaknya," ucap Riku sambil menyisir rambutnya kebelakang, dengan raut wajah yang buat setampan mungkin.

"Oww oww kalo Lo selingkuhan gue mau jadi musuh dalam selimut. Jadi anak yang diam-diam suka sama ibunya sendiri. Kek Sangkuriang!" ucap Yushi lalu menggigit bibir bawahnya dengan alis yang dinaik turunkan.

"Gue sebagai kepala keluarga-

"Apa?! Mau bikin konspirasi apa?! Kepala keluarga kepala keluarga, kepala burung kalian gue tebas satu-satu terus dijadiin sop buntut mau?!" semprot Jaehee dengan galak. Sion yang hendak mengeluarkan perkataannya tiba-tiba langsung merapatkan kedua paha, tangannya dia gunakan untuk melindungi benda pusakanya.

"Sop Otong gaK sih?" Yushi langsung mengatupkan bibirnya saat melihat tatapan tajam Jaehee.

"IYOO UYAA AYOK KITA JAJAN, KITA KURAS HARTA TIGA BUJANG LAPUK INI!" teriak Jaehee memanggil printilannya.

"YEAYY JAJAN!!" seru kedua balita itu secara bersamaan.


















Akhirnya bisa update, jaringan jelek banget disini mau nangisss ajaaa saranyaa diri inii 🤧

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang