"Je tolong sumpah, gue ga bisa. Urgent banget! Lo bisa sengaja kalah kok biar cepet pulang." ucap Jungmin.
Siang hari yang begitu melelahkan bagi Jaehee. Setelah pagi hari dibuat lelah oleh tingkah laku Iyo. Siang harinya tanpa di harapkan Jungmin datang dengan membawa amanah dari salah satu pengajar.
"Jee tolong ... "
"Min. Gue punya Uya sama Iyo. Lagi pun Ayah bang Sion juga lagi tinggal disini. Ga mungkin gue tinggalin mereka." jelas Jaehee agar Jungmin mau mengerti keadaannya saat ini.
Ribut dari arah dapur mengundang kernyitan penasaran dari para penghuni yang tengah bersantai ria di ruang tengah dengan layar tipis menampilkan serial kartun Pororo.
"Paaa, Jee?" Sion menoleh pada panggilan si kecil yang tengah duduk di pangkuannya.
"Jeje lagi sama Juju. Eh kemana?" cegah Sion saat Uya berusaha untuk turun dari pangkuannya.
"Mawu jee paa!" ujar si kecil sambil berlalu menuju dapur. Sion hanya balas dengan anggukan, toh apa yang perlu dia khawatirkan? Disana ada Jaehee, pasti aman-aman saja jika Uya pergi kesana.
Kaki kecilnya melangkah menuju sosok yang amat begitu kagumi. Senyum manis terlukis dibibir sikecil. Mata bulat itu berkedip pelan, merekam setiap perdebatan dua orang remaja SMK.
"Jee Lo bisa ngisi ngasal, terus pulang sebelum pengumuman lolos." Jungmin masih terus berusaha membujuk Jaehee agar mau menggantikannya dalam olimpiade SAINS.
"Gila kali Lo! Pembimbing Lo itu pak Reman! Galak njer, harus sempurna! ... Lagian gue ga bisa ninggalin Uya sama Iyo, min." keduanya terus berdebat tanpa menyadari keberadaan balita mungil pecinta roti. Uya terus memperhatikan, otaknya tak mengerti dengan apa yang Jaehee dan Jungmin katakan. Namun satu kata yang balita itu pahami. Kata 'Ninggalin' yang Jaehee ucapkan, sukses membuat balita itu ketakutan.
"Hiks Jeee hiks hiks No pelgi hiks no no tinggalin Uya ma Yo hiks!" tangis Uya dengan tangan yang memeluk kaki jenjang Jaehee.
"Uya ... siapa yang mau pergi? Ga ada kok." Jaehee membawa Uya kedalam pangkuannya. Satu tangan dia gunakan untuk mengusap setiap lelehan air mata Uya.
"Uyaa dengal Jee huks Juu jahat! Syuhh janan bawa pelgi Jeje uyaa huks!" Uya melayangkan tatapan marahnya dengan tangan yang hendak mencakar Jungmin. Rasa gemas, tak enak bercampur menjadi satu dalam diri Jungmin. Jika bukan Jaehee, pada siapa lagi dia meminta bantuan. Jika saja bukan karena kedua orang tua dan nama baik sekolah yang Jungmin pikul, pasti dengan sangat mudah Jungmin membatalkan partisipasinya dalam olimpiade itu.
"Jeee kok diyam?? Jee mawu pelgi ya? Hiks janann hiks hiks PAPAAA!" tangis Uya semakin mengeras. Sion sampai terpogoh-pogoh berlari menuju dapur karena mendengar tangisan Uya.
"Uya?" panggil Sion saat telah sampai didepan punggung Uya.
"Paa Juu jahat! Hiks ... Juu mawu bawa peelgii Jee na Uyaa hiks." adu Uya dengan sesegukan. Jungmin lantas memasang wajah paniknya. Kepalang menggeleng ribut, matanya seakan berkata 'Bukan itu maksud gue bang!' .
"Udah ya nangisnya. Jeje jelasin dulu oke?" ucap Jaehee tenang yang langsung melangkah ketempat dimana Riku, Yushi dan Iyo berada.
Isak tangis Uya mengundang perhatian tiga penghuni rumah yang tengah bersantai. Iyo bahkan sampai meloncat dari pangkuan Riku untuk mendekat kearah Uya yang masih memeluk Jaehee dalam pangkuannya.
"Yaa Napa Jeje? Ya, mawu loti? Ayah Uya mawu lotii!" tanya Iyo secara beruntun. Tingkah peduli Iyo mengundang kehangatan bagi mereka yang melihatnya. Sifat peduli yang tertanam sejak dini, sepertinya mereka tak gagal mendidik Iyo dan Uya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)