42. Usai

1.6K 177 135
                                        

Hai eum ... siap-siap yaa!!!
Enjoy!!!
Happy Reading!!!










Sore hari di taman rumah sakit diisi tawa riang dari para balita. Sinar mentari yang menyoroti hendak redup, hendak berganti dengan terangnya rembulan. Anak-anak mana peduli dengan waktu, mereka hanya tahu tertawa, menangis. Keinginan mereka hanya bermain dan bermain. Begitupun dengan Iyo dan Uya.

Tak terasa dua jam lamanya mereka bermain diluar. Iyo dan Uya tampak senang bermain dengan Rama. Wajah sangat yang Rama tampilkan ternyata pahatan semata. Kenyataannya dibalik wajah sangat itu tersembunyi jiwa seorang ayah sekaligus kakek yang ingin mengajak anak dan cucunya bermain.

"Kakek capek! Kalian ga mau pijit kakek? Yang pijit kakek, nanti dibelikan hadiah!" ucap Rama.

Balita yang semula tidak peduli dengan keluhan Rama seketika mengembangkan senyumnya. Hadiah katanya, siapa yang menolak jika diberi hadiah? Iyo dan Uya lantas berlari mendekat kearah Rama. Kedua balita itu tertawa sambil tangan mungilnya memukuli pundak Rama.

"Wahh baik sekali cucu kakek ini," puji Rama atas perlakuan Iyo dan Uya.

"Ujan batuuu!!! tututututututu," celoteh Uya sambil memukuli pundak Rama.

"Kekuatann penuhhh!!" instruksi Iyo pada Uya untuk menambah tempo dan kekuatan pukulannya.

"Duh sakit, jangan kencang-kencang. Nanti tulang kakek patah!" keluh Rama saat merasakan pukulan di pundaknya semakin brutal dan sakit.

Riku dan Jungmin tertawa paling keras saat melihat Rama kesakitan. Kedua balita itu berpikir jika Rama hanya berpura-pura memilih untuk terus melanjutkan kegiatannya memukuli pundak Rama, dengan niat awal memberikan pijatan.

"Uya, Iyo jangan kencang-kencang. Kasian kakek," instruksi Jaehee. Dua balita itu lantas menghentikan gerakan tangannya. Beralih duduk dipangkuan Rama.

"Kakek Cakit?" tanya Uya. Jika saja yang melayangkan pertanyaan itu bukan balita berwajah polos dengan pipi yang kelebihan muatan, Rama pasti akan melayangkan kalimat pedasnya saat itu juga.

"Huhu sakit, kalian gak sayang kakek ya?" ucap Rama dengan sedikit berlebihan.

"No no Iyo cayang kakek, iya kan Ya?" Iyo langsung memeluk Rama dari satu sisi. Melihat itu, Uya pun meniru tindakan Iyo dengan memeluk Rama disisi lainnya.

"KAKEK JUGA SAYANG KALIAN!" ucap Rama sambil membalas memeluk dengan erat sampai kedua balita itu berteriak meminta tolong. Rama tidak peduli, kedua makhluk kecil yang sedari tadi bermain dengannya ini sangat menggemaskan. Sangat sayang jika melepaskan mereka.

"Ayah, udah lepasin," pinta Riku yang kini duduk dibelakang Rama. Memberikan pijatan di pundak Rama.

"Mereka lucu," ucap Rama yang telah melepaskan pelukannya. Rama merilekskan tubuhnya, menikmati pijatan Riku pada pundaknya. Sangat nyaman.

Menjelang malam Iyo dan Uya telah dibawa pergi meninggalkan taman oleh Sion dan Yushi. Menyisakan sepasang Rama, Riku dan dua remaja SMK. Riku masih belum diperbolehkan untuk pulang, lalu Jungmin pastinya menunggu Jaehee karena dia yang membantu menjaga Jaehee saat ini.

"Jaehee ... " panggil Rama pada Jaehee yang masih bergabung dengannya.

"Masuk lah, istirahat ya. Besok om bawakan kamu sarapan. Ga usah makan makanan dari rumah sakit. Ga enak. Okay?" Jaehee terkekeh mendengar ucapan ayah dari salah satu abangnya. Jaehee jadi ingat bagaimana ayahnya amat memanjakannya setelah berpisah dari sang ibu.

"Jungmin, bawa Jaehee masuk. Lo nginep juga?" Jungmin mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan dari Riku. Sepasang ayah dan anak ini memang terlihat memperlihatkan betapa mereka menjaga dan menyayangi Jaehee.

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang