[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
"Paa ... Ya mau cucu." tangan mungil serta gempal itu terus memukul pelan tubuh besar yang terbaring di sampingnya. Berharap Sion segera bangun lalu memenuhi keinginannya.
PLAKK!!
Tamparan cukup kencang Uya daratkan di pipi yang paling tua. Sion terlonjak sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Si pelaku yang menjadi tersangka hanya menampilkan wajah polos.
"Uyaa~ kenapa papa di tampar. Sakitt tau, papa lapor Jeje nih." ucap Sion dengan raut yang dibuat sekesal mungkin.
"Ya lapel! Pa nakal, ya lapol Jee!" ancam balik Uya yang membuat Sion mendengus. Sion segera bangkit. Dilihatnya jam yang tertera di atas nakas, baru pukul sebelas malam.
Baru beberapa jam Jaehee pergi, belum sampai sehari dirinya mengurus Uya. Rasa malas sudah menghampiri Sion. Biasanya tak ada apapun yang mengganggu waktu tidur Sion. Tapi kali ini, dia harus terbangun tengah malam hanya untuk membuatkan susu. Selesai membuatkan apa yang diinginkan balita pecinta Roti. Sion kembali ke kamar, dimana Uya berada.
"Riku sama Iyo gimana ya? Kek gue ga sih si Riku." Sion dengan rasa penasarannya hendak keluar menuju kamar Riku.
"Papa liat Iyo dulu ya. Takut dia mau minum juga." izin Sion pada Uya. Si kecil yang tengah meminum susunya dengan terbaring mengangguk dengan mata yang setengah terpejam.
Pintu bercat hitam itu Sion buka perlahan. Suasana kamar tenang yang hanya diterangi oleh lampu tidur. Sion tersenyum hangat saat melihat Iyo tertidur pulas di pelukan Riku dengan selimut yang membalut keduanya. Di samping nakas terdapat beberapa cemilan lengkap dengan botol susu.
"Set dah si Riku ga ngasih tips end trik."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Boy mandi!" teriak Riku dari lantai atas pada Iyo yang tengah bermain dengan Kitty dilantai satu.
"Ndak mawu." jawab Iyo seadaanya.
"Eits ayok mandi. Biar wangi." Riku membawa Iyo kedalam gendongannya. Tubuh kecil itu memberontak, menolak untuk melakukan ritual pagi yang di sebut mandi.
"Ndakk ayahh. Cucu aja Ndak wangi." Riku mengernyit bingung. Apa maksudnya? Apa hubungannya dengan ikan cupang kesayangan Riku?
"Bener yo. Cucu tiap detik dalem air tetep aja bau amis. Kitti dong mandi seminggu sekali tapi wanginya awet. Lembut lagi!" celetuk Yushi yang baru saja keluar kamar lengkap dengan setelan kerjanya. Yushi langsung melengos keluar rumah saat melihat tatapan tajam Riku.
"Pokonya Iyo harus mandi. Kalo Iyo mandi ayah beliin mainan baru." tawaran yang menggiurkan untuk setiap anak-anak.
"Jangan lari-lari. Jatuh nanti bukan mainan yang ayah kasih, tapi obat!" ucap Riku saat melihat Iyo dengan cepat menaiki tangga. Memang tak ada anak yang bisa menolak jika telah di iming-iming dengan mainan.
"Sion gimana ya di bank? Gue bayangin Uya lagi mandi duit di brankas duit Hahaha." tawa Riku pecah karena imajinasinya sendiri.
Hari yang berbeda, dimana untuk pertama kalinya Sion membawa seorang balita ke tempatnya bekerja. Uya tentu sangat senang, balita itu sama sekali tak merasa risih ketika pipinya menjadi sasaran cubitan rekan-rekan kerja Sion.