"Bang serius gue diginiin?" ucap Jaehee tak terima.
"Bang gue mau ikut main juga ish!" lanjut Jaehee yang kini tengah mengajukan protes pada Sion. Besok adalah hari cuti Yushi. Dokter hewan itu berencana untuk mengajak dua balita bermain. Hanya sekedar bermain bola di taman sebetulnya. Tapi tetap saja Jaehee ingin ikut.
"Bang ga inget waktu bang Yushi jagain Iyo sama Uya sendiri? Uya ditinggal dirumah, Iyo main kerumah tetangga, kitti ditinggalin di baskom. Mending gue ikut!" Jaehee tak menyerah. Dia terus melemparkan kalimat pendukung agar Sion mau memberinya izin pergi.
"Gak!" jawab Sion dengan singkat. Tawa yang Riku tahan sedari tadi pecah seketika. Dirinya merasa puas saat melihat wajah melas Jaehee. Jarang-jarang Sion menghukum Jaehee, jadi ini adalah tontonan yang sangat langka.
"Jangan kasih izin, yon. Biarin dia belajar buat ujian akhir. Mampus Lo dirumah sendirian." kompor Riku.
"Kata siapa dia sendiri? Lo juga di rumah." ucap Sion. Kini Yushi tertawa disusul para balita. Walaupun Iyo dan Uya sendiri tidak mengerti arah pembicaraan para orang dewasa itu.
"Lo sih pake segala kambuh bang!" kesal Jaehee pada Riku.
"Lahh bocah! Yang nyuruh Lo bawa mobil Saha? Gue mah tepar ga bisa ngomong!" bela Riku.
"Kan gue panik!" bela Jaehee untuk mempertahankan dirinya.
"Ya makasih udah panik!" sewot Riku. Pada akhirnya Jaehee dan Riku saling membuang muka. Enggan saling melihat wajah masing-masing.
"Tumben nih ga akur. Iyo ayah sama mama bentar lagi pisah noh." ucap Yushi pada Iyo yang kini menatap bergantian Jaehee dan Riku.
"Lambe mu bang." ucap Jaehee yang diakhiri dengusan kesal. Remaja SMK itu langsung beranjak menaiki tangga tanpa berpamitan pada yang paling tua.
"Jee/Jeje!" panggil Iyo dan Uya pada Jaehee. Kedua balita itu lantas mengikuti Jaehee yang kini melambaikan tangan seakan meminta mereka untuk ikut.
"Pundung tuh anaknya." ucap Yushi dengan dagu yang terangkat untuk menunjuk Jaehee.
"Biarin aja. Besok gue mau ke Polsek. Lo jagain Uya sama Iyo, jangan sampe kek kejadian dulu." ucap Sion.
Yushi mengacungkan kedua jempolnya tanda paham akan perintah nasehat Sion. Lain hal nya dengan Riku yang kini masih memasang wajah kesal. Jaehee dan Riku jarang sekali bertengkar, karena bagaimanapun juga Jaehee selalu memperhatikan keadaan Riku, membantu setiap kali Riku merasa sakit atau perlu bantuan.
"Lo ga perlu segitunya sama dia, yon." ucap Riku tampan melirik Sion.
"Ini salah gue, dia cuman mau bantu." lanjut Riku. Dari kalimat yang diucapkan dapat ditangkap dengan jelas jika Riku kini tengah merasa bersalah.
"Gue abis kirim pesan ke polisi tadi. Dia cuma bahas sekilas soal tilang itu. Tujuan dia ngajak gue ketemu karena dia nangkap gelagat yang aneh dari Jaehee." jelas Sion yang mengundang kernyitan bingung Riku.
"Maksud Lo apa? Gelagat aneh? Jaehee pake obat-obatan?" ucap Yushi. Tak lama tendangan dari kaki Riku mengenai betis Yushi. Riku tak terima dengan perkataan Yushi yang menurutnya berlebihan. Selama sekolah Riku selalu mengantar jemput Jaehee tepat waktu. Kamar mereka juga berhadapan, Jaehee selalu mengijinkan siapa saja masuk keluar dengan bebas kekamarnya itu.
"Dia mendadak gemetar waktu liat suami istri berantem. Tadi waktu dirumah sakit juga dia peluk gue erat banget. Gue curiga Jaehee punya trauma. Tapi dia ga bilang." Sion memijat keningnya. Kepalanya mendadak pusing, remaja yang dia kira selama ini baik-baik saja ternyata menyimpan sesuatu yang tidak diketahui.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)