[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
Sorak riuh suara anak-anak saling bersahutan di ruangan Riku. Para tenaga medis yang hendak menegur pun merasa segan saat melihat betapa bahagianya Iyo dan Uya kini. Yushi menghubungi Sion mengenai pendonor yang dengan senang hati mau memberikan ginjalnya untuk Riku. Tentu saja Sion sangat senang dan bahagia. Air mata haru pun tak dapat dia tahan.
"Ayah Ayah Ayah!" celoteh Iyo yang saat ini duduk diatas ranjang Riku bersama Uya.
"Hmm?" respon Riku.
"Yayah!" panggil Uya kali ini.
"Kalian ini manggil terus. Ada apa sih?" ucap Riku dengan gemas karena sedari tadi dua balita didekatnya ini terus saja berceloteh menyebut nama Ayah.
"Ehehe Iyo sayang, Ayah!" lanjut si kecil dengan menampilkan cengirannya.
Siapapun yang melihat itu pasti tersentuh. Bahkan Rama tak kuasa menahan laju air matanya. Sungguh indah menjadi seorang ayah. Memiliki tanggung jawab yang besar, menjadi payung ketika sang anak tengah di hujani masalah. Menjadi lilin yang menerangi juga menghangatkan kala gelap gulita nan dingin. Riku, anaknya yang kurang mendapatkan peran ayah, mampu menjadi ayah yang hebat untuk Iyo dan Uya.
"Sayang, pelita kecil kita telah besar ... " lirih Rama dengan suara pelan. Melihat betapa telatennya Riku dalam menanggapi celotehan tak berguna Iyo dan Uya. Semakin membuat Rama merasa gagal menjadi seorang Ayah.
"Yayah cudah mam?" tanya Uya yang dibalas gelengan oleh Riku.
"Yahh preman kok nangis. Uya Iyo, tolong kasih Kakek makan ya. Kakek lagi proses penuaan, perlu asupan yang cukup biar tulangnya kuat," ucap Riku pada kedua balita didekatnya.
Si kecil menoleh meminta pertolongan pada siapapun disana yang mau membantu turun dari atas ranjang. Sion melihat Jaehee yang hendak membantu pun mencegahnya. "Biar Abang aja,"
"Kasian banget kamu. Makanya jangan sakit, Ayah! kan jadi kurang momen sama Mama," celetuk Rama saat melihat interaksi Sion dan Jaehee.
"Om! Kita satu tim yak!" Yushi merangkul pundak Rama seraya melakukan tos. Riku mendengus kesal. Sahabat dan Ayahnya memang sangat cocok, terlintas dalam otak Riku. Mungkinkah sebenarnya Yushi itu adiknya yang memang sengaja dibuang lalu di pungut orang kaya raya?
"Jangan pulang cepet ya, Rik. Gue masih mau sama Jeje tanpa berbagi," ucap Sion yang semakin membuat Riku tersenyum miring.
"Justru gue harus cepet balik. Kasian lo harus rawat dua anak," jawab Riku dengan senyum ramah.
"Jee, aktor dramanya nambah satu ya?" tanya Jungmin dengan sedikit berbisik pada Jaehee. Remaja SMK itu masih enggan untuk berangkat sekolah. Kelasnya terasa sangat sepi dan kurang jika sahabatnya tak hadir.
"Tampung gue dong. Capek gue," mohon Jaehee pada Jungmin.
"Ehh ehh Mama gak mau tinggal bareng Papa atau Ayah? Yaudah, sama Ushi aja yok!" sorak Yushi dengan heboh.
"No! Jee sama Iyo!"
"Ma Ya ugaa!" (Sama Uya juga!)
"Diem, Cil. Lo gak punya rumah!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.