[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua pasang kaki kecil berjalan cepat melewati pagar yang baru saja dibuka. Tawa riang mengiringi langkah kaki mereka. Ransel punggung dengan telinga kelinci yang menjuntai terlihat bergoyang kala kedua balita itu melangkah.
Rumah yang dipilihkan Sion memang tak main-main. Jalan depan tampak begitu luas, lengkap dengan dua pasang ayunan untuk sikecil bermain. Sontak ayunan tersebut menjadi daya tarik pertama Uya, yang memang penuh dengan rasa penasaran.
"YUNAANN!!" teriak Uya dengan suara melengking nya.
Empat orang dewasa yang melihat itu tak kuasa menahan gemas. Tingkah Uya mendadak menjadi super aktif ketika rasa penasaran melingkupi dirinya. Si kecil berpipi putih menarik tangan si kecil bermata bulat untuk menuju ayunan.
"Yo dorong ya, yaaa!" pinta Uya pada Iyo ketika telah sampai didepan ayunan. (Iyo dorong Uya, yaa!)
"Dorong ndakk?!" pinta Uya pada Iyo dengan sedikit berteriak. Dirinya telah duduk manis di ayunan. Menatap kesal Iyo yang berjalan menuju satu ayunan kosong. Senyum manis nan gemas Iyo tampilkan saat merasakan tekstur datar ayunan.
"Ndak.Mawu. Ayah, dorong Iyo hehe😁" Iyo beralih menatap Riku yang berdiri disamping Sion.
"Gak mau. Iyo gendut!" jawab Riku dengan menirukan nada bicara Iyo yang sebelumnya. Sontak saja Sion yang memang memiliki selera humor yang rendah pun tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah jengkel Iyo.
"Ayahhh," rengek Iyo pada Riku.
"Iyoo,"
"Mending kita masuk dulu. Lihat-lihat bagian dalamnya," ucap Jaehee menengahi pertengkaran karena ayunan. Posisi Jaehee saat ini diapit oleh Sion dan Yushi. Dengan senyum yang sangat sumringah akibat melihat wajah masam Iyo, Uya turun dari ayunan lebih dulu. Kaki kecilnya melangkah menuju Jaehee. Menggeser posisi sang Papa untuk bisa menggandeng tangan Jaehee.
"Ayok, Jee. Ya bantu," ucap si kecil sambil melangkah menuntun Jaehee.
"IHH UYA!" teriak Iyo tak terima.
"Cil, cil. Pundungan sih. Kan jadi kalah start," ledek Yushi yang diarahkan untuk Iyo.
Riku menghela nafas sejenak saat melihat sikecil yang merajuk membelakanginya. Riku tahu pasti saat ini Iyo tengah memasang wajah cemberut dengan bibir yang dimajukan. "Boy ... yok masuk," panggil Riku sebelum ide jahil kembali melintas di otaknya.
"Ndak mawu! Ayah ndak sayang Iyo!" Rajuk si kecil.
Tak lama tubuh kecil yang duduk diatas ayunan itu terangkat. Riku pelakunya. Merasa gemas dengan tingkah sang anak, akhirnya Riku memilih untuk menggendong Iyo. Mendudukkan balita itu di pundaknya.
"Ayahhh no! Ayah Cakit,"
"Ayah sehat! Iyo pegangan kita terbang. Misi merebut Jejee dari Uyaaa," ucap Riku yang berhasil membuat wajah masam itu terlihat berseri kembali.