[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
"Suhu tubuhnya memang tinggi, tapi tenang saja saya telah menuliskan resep obat untuk anak-anak anda,"
Suara menahan tawa terdengar dikeheningan kamar Yushi pelakunya tak lain tiga orang dewasa Sion, Riku dan sipemilik kamar Yushi, beberapa kali Jaehee menjelaskan jika dua anak yang terbaring itu bukan anaknya. Tapi dokter itu tetap saja menyangka mereka adalah anak dari Jaehee.
"Mereka bukan anak gue anjir! Udah dibilang juga," ketus Jaehee membuat dokter itu tersenyum canggung.
"Ehh maaf-maaf. Habisnya mereka manggil kamu mama," dokter anak yang merupakan teman Yushi merasa tak enak. Terlanjur kesal Jaehee mengambil selembar kertas kecil yang berisi resep obat dari tangan sang dokter secara kasar.
"Ini kan obatnya? Makasih, Bang Yushi yang bayar lo. Gue mau ke apotik!" dagu Jaehee terangkat menunjuk Yushi. Matanya membaca tulisan yang tertera di kertas, sangat sulit terbaca jelek sekali tulisan dokter padahal gelarnya tinggi, pikir Jaehee.
"Duit!" Sion menghembuskan nafasnya kasar, kenapa tidak sekalian Yushi yang membayar obatnya? Atau uang Jaehee sendiri. Sion mengeluarkan tiga lembar kertas warna merah dari dalam dompet.
"Segini cukup?" Jaehee mengedikkan bahu, tanda tak tahu, Sion melirik kearah dokter yang berdiri disebrangnya.
"Itu kelebihan,"
"Yaudah gue mau keluarin mobil du-
"Gue pergi sendiri, pake motor. Titip Iyo sama Uya," Jaehee berlalu pergi keluar, meninggalkan empat pria yang berdiri tegang. Aura remaja SMK itu mendadak menakutkan, entah emosi karena si dokter atau memang moodnya jelek.
"Dia cowo? Kok galaknya melebihi cewe ... " akhirnya dokter itu berani menyuarakan pendapatnya saat Jaehee pergi.
"Sadis malah, dia pernah ngancem mau bikin sop buntut pake rudal kita," ucap Yushi sambil menunjuk Riku, Sion dan dirinya sendiri, sang dokter merinding, lebih baik dia segera pergi dari sini sebelum menjadi korban kemarahan Harimau.
Lima menit berlalu dari seperginya dokter yang memeriksa Iyo dan Uya, kedua balita itu masih terlelap dengan nafas berat. Yushi mengganti kain kompresan dikening Uya dan Iyo, sementara Sion dan Riku duduk disofa kamar, hanya melihat kegiatan Yushi. Entah kemana perginya rasa sakit kepala mereka, mungkin lari karena takut dengan Jaehee atau memang karena Jaehee pintar merawat mereka. Tersisa dua balita kecil yang sakit juga dengan flu yang Sion masih belum sembuh, flu memang sangat sulit untuk disembuhkan.
"Mama ... " gumam Uya dalam tidurnya.
"Ni bocil dua nempel banget ya sama si Jee," ucap yushi yang telah selesai dengan kegiatannya.
"Yang mereka liat pertama kali kan Jaehee, ibaratnya kek anak bebek aja. Yang diliat pertama kali, itu yang dikira induk," jelas Sion.
"Paham gak Lo! Kalo gak paham kebangetan banget sih, padahal udah diibaratin sama bebek. Lo juga dokter hewan," ucap Riku yang melihat Yushi hanya termenung setelah mendengar penjelasan Sion.
"Tukang roti gak diajak!" ketus Yushi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.