52. Menyapa Hari [END]

2.1K 190 137
                                        

‎Hujan deras disertai angin dengan guntur yang saling bersahutan. Menyulitkan pandangan untuk menatap arah. Rasa basah mengundang dingin yang amat menusuk. Meski begitu Yushi tetap memacu langkah kakinya untuk segera bertemu raga yang terbaring lemah.

‎"Lo harus pulang Jee...  Lo harus pulang!" ucap Yushi yang langsung memacu langkah lebih cepat.

‎Lorong rumah sakit yang dipenuhi manusia yang berlalu lalang tampak tak mengganggu kaki Yushi untuk melangkah. Tubuh itu mampu menjaga keseimbangan dengan sorot mata tajam, fokus pada tujuan.

‎"Yus-

‎Panggilan dari Riku yang sempat bertemu Yushi abaikan. Sekumpulan pria yang tak lagi muda disana menatap heran Yushi. Dokter hewan itu terlihat terburu-buru hingga mengabaikan keberadaan mereka.

‎"Itu ibu Jaehee?" ucap Sion dengan ragu. Siluet wanita yang dia kenal sebagai orang tua dari satu-satunya remaja yang dia kenal. Sion menangkap gelagat aneh dari Riku. Saat itu pula Sion meminta Surya dan Renal untuk menjaga anak mereka masing-masing.

‎"Dia juga anak gue. Ouh iya panggil gue Abang. Keknya umur kita gak beda jauh ya? Kalo pun beda jauh. Gue menolak tua," kata Renal sambil menelisik satu persatu wajah Sion dan Riku.

‎"Makasih Bang," jawab Riku disusul anggukan dari Sion.

‎Ditempat yang sama namun tempat berbeda. Yushi, dengan pakaian basah dan air yang menetes dari helai rambut. Menatap kosong jendela pasien yang tertutup gorden biru. Berat rasanya kaki melangkah untuk masuk. Tangan pun terasa enggan untuk memutar kenop pintu untuk terbuka.

‎Tubuhnya tetap diam. Mata sedikitpun tak tertarik untuk menoleh meski terdengar panggilan sedari tadi. Hingga Sion mutar paksa tubuh itu untuk menatapnya. Sorot tajam dari mata sembab menjadi suguhan Sion yang pertama saat membalik tubuh Yushi.

‎Tanpa ragu Sion membawa tubuh basah itu kedalam pelukannya. Ikut merasakan dinginnya suhu tubuh Yushi hingga getaran ketakutan yang Yushi pendam. "Dingin, ganti baju dulu,"

‎"Jee ...  gak pulang?" tanya Yushi dengan suara yang sangat pelan.

‎"Lo jangan sakit kalo mau dia pulang," Yushi menggeleng pelan saat kalimat itu keluar dari bibir Sion. Kembali dirinya memeluk tubuh Sion disusul isak tangis yang perlahan mulai terdengar kencang.

‎"Bang dia yang buat adek gue begini! Dia! Dia juga!" teriak Yushi saat melihat ibu Jaehee serta Raisa.

‎Sion mengeratkan pelukannya, Yushi terus memberontak. Menunjuk secara bergantian dua wanita yang membuatnya murka. Bahkan Riku pun turut ikut meminta agar Raisa serta ibu Jaehee menunggu di tempat lain.

‎"Saya ingin mene-

‎"Gak! Pergi Lo! Lo berdua gak boleh ketemu adek gue!" teriak Yushi dengan marah.

‎"Yushi dia ibunya," ucap Sion mencoba untuk menenangkan.

‎"Tapi gue yang jaga dia Bang!" sentak Yushi. Tangannya mendorong tubuh Sion dengan kasar untuk melepas pelukan.

‎Riku mendekat. Merasa jika Sion kewalahan untuk menenangkan Yushi. Satu pelukan tak cukup untuk membuat Yushi tenang. "Yush gue tahu ini gak cukup. Tapi Lo harus tenang. Jaehee gapapa, dia lagi istirahat. Dia gak pergi Yushi. Tenang...  "

‎Yushi kembali berbalik. Kaki yang semula melangkah ragu untuk masuk itu kini berani melawan. Tak tinggal diam Sion serta Riku mengikuti dari belakang. Diluar sana Rama mencoba memberi pengertian pada orang tua Jaehee.

‎"Saya menyesal. Saya ingin meminta maaf. Tolong izinkan saya," mohon ibu Jaehee pada Rama yang menahan.

‎"Saya mengerti. Ini bukan waktu anda nyonya, ini waktu mereka...  " jawab Rama dengan tenang.

‎"Saya juga orang tua. Anda tahu...  mungkin jika dibandingkan dengan kita, ikatan mereka lebih kuat," lanjut Rama.

‎Ibu Jaehee terdiam. Lebih memilih memperhatikan dari celah kaca yang tak tertutupi. Dapat dia lihat jika saat ini tiga orang yang mengaku kakak dari putranya tengah saling merangkul peluk saling menguatkan.

‎"Jee... Lo gak iri? Kita disini bisa berdiri. Kita pelukan loh Jee. Masa Lo mau tidur aja," ucap Riku.

‎"Dia pasti iri," sambung Sion yang membuang muka kearah lain. Kemana pun asal netranya tak melihat wajah pucat Jaehee.

‎"Makanya bangun. Bangun Jee... BANGUN!" teriak Yushi tiba-tiba. Siom serta Riku kompak mengeratkan pelukannya pada Yushi pada saat itu juga.

‎"Jarinya gerak!...  Bang, Rik lihat," ucap Yushi dengan haru.

‎"Panggil dokter Rik!" perintah Sion pada Riku untuk segera menekan tombol.

‎"Gak perlu. Gue juga dokter," cegah Yushi yang mengundang dengusan Riku.

‎"Lo kira ni Jee beruang apa hah? Lo dokter hewan kocak!" ucap Riku dengan kesal. Disaat seperti ini pun sifat menyebalkan seorang Yushi masih bisa keluar.

‎"Bang li-

‎"Diem! Malu udah tua," potong Sion yang muak dengan pertengkaran antara Yushi dan Riku.

‎Kedua tersangka langsung bungkam. Ketiganya menunggu dengan senyap. Menantikan mata yang semula terpejam itu untuk terbuka. Pelan namun pasti Jaehee mulai menjemput kesadarannya. Mengerjap pelan hingga pandangan yang semula buram menjadi jelas.

‎"U-ya Iy-yoo...  "

‎"Gue yang kesetanan. Malah nama si tuyul yang disebut!"

‎Tawa Sion pecah saat itu juga. Kalimat yang terucap serta wajah masam Yushi saat ini patut untuk ditertawakan. Bahkan Riku sampai ikut tertawa karena hal yang sama.

‎Petugas medis telah datang. Sion, Riku serta Yushi diminta untuk menunggu diluar. Rama mengernyit bingung saat melihat wajah suram Yushi yang berbeda terbalik dengan Sion dan Riku.

‎"Ada apa?" tanya Rama mewakili yang lain.

‎"Jaehee udah bangun abis diteriakin Yushi. T-tapi yang dicari pertama kali bukan Yushi ...  malah bocil HAHAHA" jelas Riku lalu disusul tawa yang lain. Sion bahkan telah terduduk lemas karena tertawa.

‎"Diem lu semua. Gue mau ganti baju. Kalo Jaehee nyari-

‎"Gak bakal nyari Lo dia HAHAHA,"ledek Riku.

‎Akhirnya setelah pagi yang diawali dengan kepanikan, lalu siang hingga petang penuh dengan air mata. Dimalam hari mereka bisa tertawa lepas. Hujan pun mulai mereda, menyisakan gerimis tipis. Yushi tersenyum lega saat menerima pesan jika keadaan Jaehee telah membaik.

‎"Cukup. Gue capek. Mama Papa...  bujuk tuhan. Tolong jangan kasih Yushi sedih lagi... " ucap Yushi sambil menatap bintang.

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang