"Yah ... Ayah ... Ayah marah ya?"
Suara Yushi bagaikan sebuah kicauan burung yang mengiringi kegiatan masak Jaehee dipagi hari. Sedari pulang siang kemarin Riku tampak mendiami Sion dan Yushi.
"Rik Lo marah?"
Jaehee menghela nafas lelah ketika mendengar suara Sion. Pagi harinya telah disuguhi drama bujang lapuk pundung. Andai saja Jaehee memiliki kesabaran yang tipis, dapat dipastikan ketika abangnya itu akan dia marahi sedari tadi.
"Yah .. ayah?"
Yushi dan Sion terus saja mengikuti kemana pun Riku pergi. Si pemilik nama dan julukan yang sedari tadi dipanggil menuliskan pendengarannya. Mengabaikan kehadiran dua oknum yang telah membuatnya malu saat di toko.
"Rik-
"Bang ... " instruksi Jaehee entah pada Abang yang mana.
Tiga orang lelaki yang tak lagi muda itu menoleh secara bersamaan. Wajah melas Yushi dan Sion mengundang rasa empati Jaehee. Kasian sekali dua Abang ini harus membujuk Riku yang tengah merajuk.
"Ga mau duduk? Kalian udah kayak anak bebek sama induknya. Ngintil bang Riku terus. Biasanya juga ngintilin gue," ucap Jaehee.
"Wekkk" Jaehee membuat pose ingin muntah ketika Riku, Sion, dan Yushi kompak menarik garis bibir kebawah. Kenapa dengan ketiga abangnya ini?
"Jee ... Riku marah," ucap Sion pertama kali yang diangguki oleh Yushi.
"Jee ... mereka buat gue malu!" balas Riku dengan sedikit nada jengkel.
"Yushi yang pertama Jee!" kali ini Sion berkata untuk membela dirinya sendiri.
"Jee niat gue baik. Riku suka kuromi! Gue cuma mau dia dapetin yang dia mau!" Yushi tak terima ketika dirinya dipojokkan oleh Sion. Seakan akan dirinya adalah orang paling salah disini.
"Jee ... gue malu!" kekeuh Riku untuk mempertahankan tembok rasa kesalnya.
"Bang Sion salah beli rumah apa ya? Kok mereka malah jadi serem ... " ucap Jaehee dalam hati. Tubuhnya seketika merinding mengingat dulu abang-abang nya tak seperti ini.
"Sini,"
Ketiganya cepat-cepat merespon isyarat tangan Jaehee yang melambai. Posisi Jaehee yang berada ditengah sofa panjang membuat ketiganya berebutan untuk bisa duduk disisi samping kosong.
Riku kalah cepat. Wajah kesalnya semakin menjadi ketika baik Sion ataupun Yushi enggan mengalah. Tak mau ambil pusing, Riku memilih duduk didepan Jaehee. Memeluk kaki sang adik dan menyembunyikan wajah kesalnya disana.
"Kalian ini udah kek Iyo sama Uya aja,"
"Mereka kan bapaknya, Jee ... " celetuk Yushi.
"Diem Lo!" ucap Riku yang masih sensi dengan Yushi.
Sion tak mau mengeluarkan kata apapun. Dirinya cukup bingung dengan cara agar membuat mood Riku kembali. Setelah ini dia janji tidak akan lagi membuat si owner roti itu merajuk. Rasa senang karena bisa menjahili Riku ternyata tak semenyenangkan dan semudah dalam membujuknya.
"Kalian gak mau baikan?"
"Mau/nggak,"
Sion dan Yushi kompak memeluk tangan Jaehee saat mendengar kata penolakan dari Riku. Kini Jaehee merasa tubuhnya dikunci. Kaki dipeluk oleh Riku dan tangan yang dipeluk oleh Sion, Yushi.
"Gamauu Jee, gue maluuu. Gamau lagi belanja disana! Pasti nanti gue diketawain. Emang apa salahnya kalo gue suka kuromi? Toh kuromi itu lucu," celoteh Riku. Jika saja saat ini mereka tidak bermusuhan pasti keadaan rumah akan sangat rusuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)