05. Ternyata oh ternyata

2.6K 253 58
                                        

Tok tok tok

Ketukan pintu membuat si pemilik kamar mengernyit bingung. Si pemilik kamar yang sudah merebahkan tubuhnya dikasur hendak menjemput alam mimpinya, terpaksa bangkit. Pukul sepuluh malam, siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Tangan kekar dengan tonjolan urat-urat itu memutar kenop pintu. Terpampang wajah orang yang telah dia anggap sebagai adik -Jaehee- memasang senyum, matanya seakan memberi kode pemilik kamar untuk melihat kebawah. Ternyata ada sosok lain berdiri sambil bersembunyi dibalik kaki jenjang Jaehee.

"Uya ayok bilang sama Bang Riku,"

Riku si pemilik kamar menatap Uya dengan raut penasarannya. Menunggu si kecil berkulit putih itu untuk mengutarakan keinginannya.

"Bang Yiku ... Uya mau roti, ada?" ucap Uya malu-malu. Tangan kecilnya memeluk erat kaki Jaehee.

"Uya mau Roti? Abang adanya donat, mau?" tawar Riku yang langsung mendapat anggukan cepat serta senyum lebar Uya.

"Ada di dapur. Mau tunggu atau ikut?" Uya melirik kearah Jaehee, seakan meminta izin apakah dia boleh ikut Riku mengambil donat? beruntungnya Jaehee paham dengan tatapan Uya. Tanpa ragu Jaehee mengangguk, membuat si kecil keluar dari persembunyiannya. Menarik tangan Riku untuk segera pergi kedapur. Kamar Riku dan Jaehee terletak dilantai dua, lalu kamar Sion, Yushi serta dapur dilantai satu. Karena khawatir Jaehee meminta Riku untuk memangku Uya saat hendak menuruni tangga.

Lampu ruang tengah serta dapur memang jarang mereka matikan. Tapi setiap kamar jika pemiliknya akan tidur pasti dimatikan. Hal yang menarik perhatian Jaehee, pintu kamar Sion sedikit terbuka, lampu kamarnya juga masih menyala. Jaehee yang penasaran pun memilih melangkah kakinya menuju kamar Sion, alih-alih mengikuti Riku dan Uya kedapur.

"Bang, ngapain?" kepala Jaehee menyembul dibalik pintu kamar Sion.

"Nyari informasi soal anak-anak tadi. Sini deh pasti lo kaget juga," ucap Sion.

Jaehee mendekat, matanya membaca setiap tulisan yang tertera di laptop Sion. Semua data tentang kedua anak tadi. Jaehee tahu sekarang nama asli mereka buka Iyo dan Uya.

"Sakuya Radhika Putra itu nama lengkap Uya. Lalu Ryonald Xaviero Agustin itu Iyo. Mereka bukan kepisah dari orang tuanya Jee. Tapi emang sengaja lari, mereka tinggal di panti asuhan. Ada yang adopsi. Tapi orang gak bener," jelas Sion, padahal Jaehee bisa baca sendiri. Disana Tertulis tanggal dan tahun lahir Iyo dan Uya, mereka lahir di tahun yang sama ternyata.

"Jadi usia mereka baru tiga tahun ya. Ga kebayang banget mereka naik bus berdua, untung ngikutin gue kalo ngga ...  amit-amit dah," Jaehee merinding sendiri membayangkan kemungkinan jika Uya dan Iyo mengikuti orang yang salah.

"Terus mau gimana? Kan gak mungkin dibalikin ke yang ngadopsinya. Masa ke panti?" tanya Jaehee. Awal mulanya dia membawa kedua balita itu kan untuk membantu mencari orangtuanya.

"Biar Abang aja yang urus. Kayaknya kita bakal nambah personil. Daycare dibuka buat umur berapa tahun?" Jaehee mendengus, Sion malah menjawabnya dengan pertanyaan lain. Ya mana dia tahu daycare untuk berapa tahun.

"Bang liat deh data Iyo. Besok dia ultah!" telunjuk Jaehee tepat mengarah pada tanggal lahir Iyo.

"Rayain kecil-kecilan aja kali ya, Jee? Bolehlah Lo ajak sahabat lo si Jungmin itu. Tapi rayainnya malem, abis Abang kerja,"

"Ga usah ajak Jungmin. Nanti kaget, biarin aja. Dia tuh biang kerok penyebar gosip gue punya tiga papa gula." mulutnya berkata, tapi otaknya tengah berpikir hadiah apa dan bagaimana jalannya nanti perayaan ulangtahun si balita Iyo.

"Ga bener tuh si Jungmin. Yang bener kan cuman satu papanya. Iya gak Jee?" ucap Sion mengundang emosi Jaehee. Jika saja Sion bukan abangnya, bukan orang yang memungutnya pasti tangan Jaehee telah mendarat diwajah tampannya.

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang