Seneng kan kalian aku update terus?? Pasti sih, udh ketebak soalnya HAHAHA🤣🤌
Lagi dan lagi 2400+ word semoga kalian ga capek bacanya yaaa.
Aku lagi senggang aja, jadi update lancar. Pencernaan ku juga sehat, keren banget!!!
Happy reading~~~
Sion menatap sendu balita manis yang bermain di pojok kamarnya. Saat bangun tidur tadi Uya masih enggan melihat kearah Sion. Bahkan julukan orang jahat telah melekat untuk Sion, menggantikan panggilan Papa.
"Uya ga mau main sama papa?" tanya Sion.
"Huh orang jahat!" ucap Uya yang melirik sekilas kearah Sion.
"Jangan dekat-dekat! Ya ndak cuka!" tambah Uya. Balita itu bahkan membuat benteng penghalang yang terbuat dari barisan mobil-mobilan. Batasan agar Sion tidak mendekat.
"Uya, papa juga mau main. Uya tega sama papa heum☹️" keluh Sion. Wajahnya dia buat semelas mungkin untuk meluluhkan hati anak angkatnya itu.
"Orang jahat. Buat Jee cedih!"
Pundak Sion meluruh sedih. Buntalan rotinya saat ini tengah merajuk. Sungguh apa yang dilakukan Sion tadi tidak sedikit pun berniat menyakiti Jaehee. Dia hanya memastikan, walaupun caranya salah.
Sion menyerah. Dia memilih bangkit dan kembali berbaring diatas ranjang dengan posisi membelakangi Uya. Perasaannya sangat sedih, balita manis yang selalu antusias bermain dengannya, suara teriakan yang selalu menyambut kedatangannya ... uhh Sion merindukan itu semua.
"Blumm~ tablak tablak ngenggg~~" ocehan Uya yang tengah bermain terdengar ditelinga Sion bagai lullaby pengantar tidur.
"Pulici datang wiu wiu wiu ... tu apa?" Uya menghentikan kegiatan mainnya saat melihat sesuatu tengah bersembunyi dibalik meja kerja Sion. Sikecil merangkak dengan pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang membuat hewan kecil itu ketakutan.
"IHH BUAYAA!! YE YE YE YA PUNAAA BUAYAA!!!" teriak sikecil saat tangannya berhasil menangkap seekor cicak yang bersembunyi dibalik meja.
Sion terperanjat. Sejak kapan di kamarnya terdapat buaya? Atau mungkin mainan buaya. Riku kan selalu membelikan mainan baru jika pulang kerja. Baru saja hendak kembali berbaring, Sion ingat jika hati ini Riku sama sekali tidak pergi bekerja, dan Yushi tengah mengambil libur.
"Uya papa boleh lihat buayanya?" tanya Sion yang mendekat kearah Uya. Tidak peduli dengan benteng pembatas yang dibuat sikecil, Sion melewatinya begitu saja.
"Ndak! Punya Ya! Mawu Ya rawat, biar bisa gigit orang jahat!" jawabnya.
"Papa liat dulu ya, takutnya bahaya." Sion tidak menyerah. Uya masih sangat kecil, dirinya takut sesuatu yang Uya sangka buaya ternyata berbahaya.
"Nih!"
"AAAAAA!"
Suara bariton Sion menggema hingga keluar kamar. Terdengar suara langkah yang bersahutan tengah menuju kamar Sion. Sementara sang pemilik kamar kini tengah duduk diatas kasur dengan satu tangan yang mencengkram baju diarea dada. Sion terkejut saat Uya menyodorkan seekor cicak kehadapan wajah Sion.
"Ada apa?" panik Jaehee. Tadi dirinya tengah mencuci kangkung dan hendak memasak. Namun tiba-tiba suara teriakan Sion terdengar membuatnya langsung berlari sambil membawa satu ikat kangkung.
"Ayah, mawu tuyun!" pinta Iyo yang berada dalam gendongan Riku. Bocah bermata bulat itu tadi tengah bersantai menonton televisi bersama Riku, harus terjengkang karena teriakan Sion. Akhirnya Riku menggendong Iyo menuju kamar Sion.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)