41. Rumah

1.6K 186 123
                                        

Halloo Hai semua!!
Selamat datang, selamat bersenang-senang, selamat Membaca!!!

Pegangan yang erat semuanyaa, hati-hati yaaaa

Btw typonya tolong yaaa

Have fun!!!
















Apa yang terlintas ketika kata rumah terdengar? Tempat berteduh, tempat beristirahat, tempat mengisi tenaga, tempat mengeluh. Rumah itu tempat yang hangat. Mampu menenangkan tanpa berkata, menyalurkan kehangatan tanpa pelukan, melindungi tanpa bertarung, memberi kenyamanan dan rasa aman. Rumah yang diharapkan setiap orang termasuk Jaehee.

"Gue sekarang gelandangan," ucap bibir tipis itu. Air mata meluncur begitu saja tanpa diminta.

Jaehee mencoba untuk terlelap disaat malam telah larut. Dirinya sendiri saat ini. Sion izin pergi untuk melihat kondisi Uya dan Iyo sebentar. Riku perlu istirahat setelah penyakit yang dideritanya kembali terbangun, beruntung karena kali ini Rama selaku ayah Riku ikut berperan dalam menjaga Riku. Lalu Yushi ... dia juga memiliki seorang ayah yang masih belum sadarkan diri.

Kini Jaehee benar-benar sendiri. Tidak memiliki apapun. Bahkan untuk sepasang pakaian. Semua telah hangus terbakar. Barang-barang yang selama ini menopang hidupnya telah ludes dimakan si jago merah. Ponsel pintarnya, dompet serta kartu-kartu, alat elektronik dan buku pelajarannya, pakaiannya, Jaehee tak memiliki apapun saat ini. Kemana dia pulang?

"Jee Lo mau pulang kemana?" tanya Jaehee pada dirinya sendiri.

Tubuhnya masih terasa sakit. Kakinya bahkan sulit digerakkan karena balutan gips. Tendangan ditambah tertimpa sofa akibat Yohan membuat tulang kaki Jaehee mengalami keretakan. Jaehee pastikan untuk kedepannya dia tidak bisa berlari kencang, atau mungkin untuk sekedar melompat pun akan sulit.

"Mereka punya keluarga, Jee. Lo gelandangan," ucap Jaehee pada dirinya sendiri.

Mengingat Riku yang telah mendapatkan kebahagiaannya bersama sang Ayah. Begitupun Yushi, meski keadaan Pak Amzar belum bisa dikatakan pulih. Tapi lelaki yang tak lagi muda itu selalu menyebut nama Yushi di alam bawah sadarnya. Sion? Dia memang memiliki keluarga. Bahkan paling lengkap.

Rumah yang menjadi tempatnya berteduh telah hangus terbakar. Kemana dia harus pulang sekarang? Tidak mungkin Jaehee menumpang pada salah satu abangnya. Jaehee masih punya malu. Jika pulang kerumahnya yang dulu pun dia akan tetap sendiri. Apalagi dengan kondisinya yang sepertinya ini, itu sulit.

"Gue yakin Uya sama Iyo aman sama mereka. Gue pulang ke rumah nenek aja kali ya? Gila Lo Jee, ke kalimantan sambil jalan pincang. Haha," Jaehee tertawa miris saat mengingat betapa jauh jarak akan dia tempuh dengan keadaan kaki terluka.

Angin berhembus melalui jendela yang belum tertutup. Jaehee melirik, bukan rasa takut yang dia rasa saat melihat jendela yang terbuka dan gorden yang diterbangkan angin. Jaehee tertegun melihat langit malam yang dihiasi bulan dan bintang yang gemerlap.

"Tuan bulan sama nyonya bintang mau hibur Jee ya?  Makasih ya. Selain dari rumah, tenang juga bisa didapat dari menatap kalian." ucap Jaehee yang kini menatap banyaknya bintang yang menghiasi malam.

"Tuan angin ... Jangan terlalu dingin. Jee ga punya rumah lagi." keluh Jaehee saat lagi-lagi angin malam menyusup masuk.

Malam itu Jaehee habiskan dengan menatap bulan dan bintang. Ditemani rasa dingin dari hembusan angin. Tangannya sangat malas untuk bergerak menekan tombol bantuan. Jaehee tahu, mereka tengah beristirahat. Biarlah Jaehee menikmati satu malam dengan menatap langit ditambah dinginnya angin malam.

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang