17. Ngomel

1.7K 168 51
                                        

"Lo mau ngapain Je. Sadar nan-

"Gue mau obatin luka di badan kalian. Gak usah sok baik-baik aja. Gak inget umur, gak sayang nyawa, bikin orang khawatir. Dikasih tau malah ngeyel, omongan gue masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Lain kali dengerin omongan gue pake hidung! Biar langsung jleb kena paru-paru!" cerocos Jaehee tiada henti membuat tiga orang dewasa didepannya menunduk merasa bersalah. Jaehee beranjak dari duduknya sambil menenteng kotak P3K, membuat yang paling tua segera mengambil posisi duduk di atas karpet.

"Bang Yus, duduk di sofa gue mau liat luka kaki lo," perkataan Jaehee membuat Yushi tertegun, Jaehee tahu? Padahal dirinya sebagai pemilik tubuh tidak sadar dengan adanya luka di kaki.

"Gak usah ngerasa aneh. Gue punya mata, gak kek lo punya mata gak dipake buat ngeliat. Indra perasa lo juga keknya mati, luka kek gini bisa-bisanya masih kuat main air!" omel Jaehee pada Yushi saat melihat lukanya. Ringisan keluar dari mulut Yushi ketika tangan Jaehee menyentuh bagian ujung lukanya, hanya bagian ujung.

"Ssss Jee udah perih," keluh Yushi saat Jaehee baru sekali menempelkan kapas yang basah karena alkohol.

"Sekarang baru ngerasa perih? Tadi kemana aja! Gue nyuruh udahan malah lanjut main lintas bambu. Untung gue pelan, belum aja ni luka gue teken atau sobekin biar makin lebar!"

"AAAA JEE PERIH!" jerit Yushi, ucapan Jaehee tak main-main buktinya dia menekan luka Yushi dengan kapas yang dibaluri alkohol.

Yushi merenggut dengan bibir yang dimajukan, tidak ada harga dirinya sekali dia sebagai Abang saat ini. Membuang muka ke sembarang arah, enggan melirik kearah Jaehee. Yushi hanya diam dan menurut ketika Jaehee memintanya untuk berbalik, menelisik setiap tubuh bagian atas Yushi, berjaga-jaga jika ada lebam. Jaehee mengingat dengan pasti jika Yushi tak pernah tergelincir saat melintasi bambu, malah dengan lihainya dia berjalan hingga ujung menarik berbagai hadiah.

"Gak ada lebam. Ini punya Iyo sama Uya sih, tapi gapapa. Nanti gue sedia stock buat kalian, jangan dilepas," tangan Jaehee membuka satu plester penurun demam, Yushi hanya berdeham membiarkan Jaehee berlaku semaunya. Dia kehilangan mood karena lukanya tadi.

"Bang Rik," ucap Jaehee melirik kearah Riku. Dia telah selesai mengobati Yushi, kini saatnya meriksa keadaan Riku.

Riku dengan ragu melepas bajunya, menghela nafas pelan mempersiapkan diri untuk menerima Omelan Jaehee. Dari respon pertama Jaehee yang memijat pelipisnya sendiri, membuat Riku tahu jika adiknya itu tengah menahan rasa marahnya.

"Itu lebam di depan, balik belakang coba." pinta Jaehee. Riku mengangguk, luka lebam diarea belakang lebih banyak.

"Ini sakit ga?" telapak tangan Jaehee mendarat diarea ginjal. Rasa hangat dari kulit tangan Jaehee dapat Riku rasakan. Gelengan kepala dari kepala membuat Jaehee bernafas lega. Luka Riku hanya terdapat di lengan atas serta pundak dan punggung. Jaehee sangat teramat panik saat Riku tergelincir dengan punggung yang terkena bambu.

"Gue seneng liat kalian menikmati perlombaan tadi, kalian keliatan antusias banget. Tapi gue ga suka kalian terlalu larut sampe lupa diri sendiri. Gua ga bakal asal ngomong kalo nyangkut keadaan kalian. Setiap omongan gue jangan kalian anggap angin lalu, jangan mentang-mentang gue adek, kalian sepelein omongan gue!" Riku dan Sion terlihat menunduk, merasa bersalah. Lain hal dengan Yushi yang masih enggan melihat kearah Jaehee.

"Sakit?" tanya Jaehee pada Riku saat tangannya mengoleskan salep pada lebam di lengan atasnya.

"Hm." hanya dehaman sebagai jawaban. Riku menatap lamat-lamat wajah Jaehee yang menelisik lukanya, menunggu bibir tipis itu untuk mengeluarkan ocehannya.

"Suara lo habis bang? Tadi aja bawel banget mau ikut panjat pinang, kek iye aja Lo. Paling malem nanti sebelum tidur Lo manggil gue, minta tolong pijitin. Sorakannya heboh bener waktu bang Yushi nyanyi, gak ada malu minta kerupuk sisa lagi. Malu sama posisi lo sebagai owner Roti, karyawan Lo nonton tadi. Jatuh harga diri lo sebagai bos!" cerocos Jaehee tanpa henti dengan tangan yang terus memberikan salep pada setiap luka. Riku senang, omelan Jaehee tak pernah gagal membuatnya terasa hangat, membuat Riku merasakan rasanya dipedulikan, dikhawatirkan hal yang tak pernah dia dapatkan setelah ibunya tiada.

"Giliran gue kan Jee," Sion menggeser posisi Riku.

Jaehee mengangguk, mengeluarkan minyak Sapu jagat. Minyak yang biasanya dioleskan saat masuk angin, rasa hangatnya melebihi minyak kayu putih. Tanpa Sion katakan pun Jaehee tahu jika dirinya tengah masuk angin. Tinggal satu atap bersama membuat Jaehee tahu kebiasaan setiap penghuni rumah, ditambah dengan daya ingat Jaehee yang kuat.

"Abis makan nanti jangan lupa minum obat nyeri otot. Joget asoy banget sampe gak takut tu sendi lepas. Segala pake ngajak Uya joget lagi, gak tau malu emang. Tuh celana udah robek satu, tetep aja joget. Kalo main apa-apa tu pikirannya pengen menang terus, Sendi sama tulang lo tuh pikirin. Badan aja kek bugar, taunya suka ngeluh sakit pinggang," omelan Jaehee mengalun bagai musik ditelinga Sion, rasa panas bukan hanya dirasakan punggungnya tapi juga telinga.

Telinga Sion terasa pengang terus menerus mendengar ocehan Jaehee yang tiada habisnya. Sepertinya saat perlombaan tadi Jaehee mengamati dengan sangat teliti, tak ada satu kejadian pun yang terlewat. Sion berusaha abai, memilih menikmati pijatan tangan Jaehee.

"Udah, pake lagi bajunya. Gue minta maaf udah ngomelin kalian. Gue harap kalian sadar diri, alasan gue ngomel kenapa. Tunggu disini, gue buatin dulu teh jahe," setelah berkata seperti itu, Jaehee membereskan semua peralatannya, untuk sementara dia simpan diatas meja. Baru setelah selesai mencuci tangan dan membawa teh, akan dia simpan ke tempatnya semula.

"Bisa-bisanya anak sebaik itu punya keluarga yang berantakan," ucap Riku dengan melihat punggung Jaehee yang semakin menjauh.

"Keluarga kita gak ada yang bener Rik," benar yang diucapkan Yushi, jika saja keluarga mereka baik-baik saja tak mungkin memilih tinggal berpisah.

"Kita disini saling melengkapi, saling menguatkan," ucap Jaehee sambil membawa nampan berisi teh jahe. Tanpa disuruh ketiga orang dewasa disana mengambil satu gelas, meminumnya perlahan, menikmati rasa hangat setiap aliran yang melintasi tenggorakan.

"Ouh iya bang Yus, Lo gak dapet duit saweran tadi?"

"Ogah gue disawer mereka. Bau ketek semua," ketus Yushi.

"Sayang banget hadiahnya cuman dapet perabotan, sama kerupuk doang," keluh Jaehee, pikirnya hadiah perlombaan itu berupa uang atau parcel Snack seperti di televisi, kenyataannya bukan.

"Bersyukur napa sih! Tu baskom bisa dipake buat nyuci. Buat nipuk juga bisa. Lo mah enak cuman ngomel doang, lah kita kudu berjuang!" ucap yushi menggebu-gebu, agaknya Yushi masih kesal soal luka yang ditekan tadi.

"GUE NGOMEL NYURUH LO PADA BERHENTI YA!" teriak Jaehee sampai menggema.

"Jejee huwaaa," tangisan Uya terdengar hingga lantai bawah.

"Urus tuh Bocil. Gue mau masak."

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang