"Yang ditelpon satu. Yang datang lebih dari satu," keluh Riku.
Saat ini posisi Riku berada diantara para orang tua gagal. Beraninya Riku berkata demikian? Tantu semua telah terbukti jika masalah yang terjadi dalam suatu keluarga tak akan luput dari pengaruh orangtunya sendiri.
"Anda orang yang ingin memastikan Uya?" dua orang pria dengan setelan jas formal dari perusahaan berbeda saling melirik. Salah satu dari mereka mengangguk, dan satu lagi hanya diam.
"Uya tengah ditangani. Jika ingin melakukan tes DNA boleh saja. Tapi dengarkan dulu penjelasan saya sekarang," lanjut Riku.
Uya dan Iyo telah dia anggap sebagai anak sendiri. Memberikan kembali hak asuh mereka membuat Riku waspada. Takut-takut Uya ataupun Iyo kembali mengalami hal yang sama seperti keluarga mereka.
"Jadi orang tua itu berat bukan? Saya yakin jawabannya iya," Riku memulai pembicaraan mereka. Di taman rumah sakit. Tepat dibawah pohon untuk berteduh Riku mengajak orang-orang yang kini telah berstatus orang tua berkumpul.
"Saya bukan orang bijak. Tapi saya belajar dari pengalaman. Keluarga saya juga dulu tak baik-baik saja... " memori Riku berputar mengulang kembali masa-masa dimana Rama mengabaikannya. Hingga dengan baik hati Sion dan Yushi mengulurkan tangan. Lalu Jaehee datang semakin memberinya perhatian.
"Jaehee itu remaja lugu. Pertama kali dia ditemukan oleh Sion tengah tertidur di pinggir bank," cerita Riku.
Ayah dan Ibu Jaehee kompak terkejut mengetahui keadaan awal mula Jaehee pergi. Mereka kira Jaehee akan pergi mengunjungi salah satu temannya.
"Dua hari Jaehee hilang bahkan kalian tak berniat mencarinya. Jika bukan kami yang meminta Jaehee untuk mengabari kalian, mungkin saat ini kalian akan lupa dengan Jaehee-
Riku menjeda ucapannya. Melirik sekejap menatap secara bergantian sosok yang menjadi orang tua Jaehee. Kakehan remeh Riku keluarkan. Mengundang lirikan sinis serta penuh tanya dari orang tua Jaehee.
"Kalian ingat ketika membutuhkannya," lanjut Riku dengan tangan yang mengepal.
"Anak itu manusia yang memiliki hati, perasaan... bukan alat ataupun benda yang kalian gunakan untuk pertahanan," ucap Riku dengan nada miris. Kejadian hari ini banyak memberinya pelajaran. Riku pikir untuk apa mereka dilahirkan jika untuk menjadi sumber pertahanan?
"Tuan Riku. Tugas orang anak adalah menjaga orangtuanya," ucap seorang pengusaha yang entah ayah dari Uya ataupun Iyo, Riku tak tahu.
"Tugas? Anda pikir anak itu profesi? Anda pikir anak itu sebuah pekerjaan? Menjaga orang tua itu kewajiban seorang anak. Bukan tugas. Miris sekali anda berpikir seperti itu... " Riku semakin tak yakin untuk menyerahkan kedua anaknya.
"Iyo dan Uya di bawa oleh Jaehee kepada kami. Semula kami menolak keberadaan dua balita itu. Dengan sabarnya Jaehee merawat mereka berdua, meyakinkan kami untuk merawat kedua balita itu. Kalian tahu?... kalian gak akan menyangka jika anak yang belum menginjak lima tahun itu bisa memiliki rasa peduli yang kuat. Karena apa?" tanya Riku dengan menatap setiap orang tua disana. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan.
"Dalam segi ekonomi kami juga setara dengan kalian. Satu yang membuat kami unggul. Kami tulus saling menyayangi. Kami membentuk lingkungan yang baik untuk mereka tumbuh," ucap Riku dengan senyum bangga.
"Bu, Jaehee gak perlu les sampai malam buat bisa jadi pintar. Jaehee gak perlu uang atau harta bapak ibu. Jaehee gak perlu sekolah elit. Dia mau didengar pak, Bu. Tanpa kalian minta pun Jaehee pasti lindungi kalian,"
"Tanpa diminta? Dia saya minta pulang pun gak dituruti!" bantah ibu Jaehee. Riku hafal betul bagaimana kerasnya ibu Jaehee yang ingin putranya pulang.
"Ibu minta dia pulang. Setelah dia pulang ibu mau apa? Mendaftarkan Jaehee les? Kembali membuat Jaehee kabur?" serang Riku dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Sudah saya bilang anak itu bukan alat. Anak itu manusia bukan alat!" tekan Riku. Ibu Jaehee lantas membuang muka.
"Ibu mengharapkan perlindungan dari Jaehee. Sementara ibu gak membuat Jaehee merasa di lindungi. Apa itu sehat Bu?! Lalu anda, kenapa anda bersikeras membuat Jaehee kembali? Anak anda bukan hanya Jaehee. Ada Raisa," kini Riku bertanya pada ayah Jaehee yang sedari tadi terdiam, menyaksikan perdebatan antara Riku dengan mantan istrinya.
"Raisa itu wanita. Saya gak mau Raisa seperti mantan istri saya. Fokus terhadap karir sampai lupa dengan keluarga," emosi Riku sedikit mereda. Niat ayah Jaehee ternyata baik untuk Raisa. Caranya saja yang salah.
Riku meyakinkan pria yang berstatus ayah Jaehee itu untuk memberi kepercayaan pada Raisa. Riku yakin Raisa adalah gadis yang baik. Dia hanya ingin ayahnya percaya. Raisa merasa iri karena Jaehee selalu dibanggakan hanya karena dia anak lelaki.
"Percaya pada putri anda tuan. Temui putri anda, jelaskan segala kekhawatiran anda. Wanita itu makhluk lembut, meski begitu mereka gak mudah tumbang," jelas Riku.
Pria paruh baya itu berbalik pergi untuk mencari keberadaan putrinya. Riku hanya menatap kepergian ayah dari sang adik dengan air muka datar. Khawatir hingga memilih jalan yang salah. Bahkan orang yang dianggap pimpinan keluarga pun bisa memiliki kesalahan.
"Jadi Jaehee akan pulang dengan saya," ucap ibu Jaehee yang hendak pergi pula.
"Nyonya saya bilang anak bukanlah alat!" sentak Riku.
Riku berusaha tenang. Wanita itu makhluk lembut, rapuh, namun keras kepala dalam satu waktu. Egonya sangat tinggi.
"Saya perlu Jaehee untuk-
"Untuk kehormatan anda dimata keluarga baru anda? Apa sedikit pun anda tidak pernah terpikirkan alasan kenapa anda belum kembali memiliki keturunan?" Ibu Jaehee mematung. Pertanyaan Riku tepat pada sasaran.
"Mungkin karena anda belum bisa menjadi seorang ibu... " jawab pria yang kantornya tadi sempat disinggahi oleh Riku.
"Maaf sebelumnya. Bukannya saya ingin ikut campur, tapi apa yang dikatakan tuan Riku itu ada benarnya. Anak bukanlah alat... "
Riku menepuk pundak ibu Jaehee. Meminta wanita itu untuk menelpon suami barunya. Wanita itu tampak ragu. Lagi dan lagi Riku perlu menyakinkan orang yang lebih tua darinya. Riku bertekad semua masalah Jaehee akan selesai saat remaja itu bangun.
"H-halo... Jaehee... dia terluka karena aku," ucap ibu Jaehee saat panggilan terhubung.
"Kirim alamatnya, aku kesana sekarang." panggilan itu terputus. Ibu Jaehee melemas saat itu juga. Riku membantu agar wanita itu duduk. Memanggil satu perawat untuk dimintai minum.
Riku merasa tenaganya terkuras. Tapi sadar masih ada dua orang lagi yang perlu Riku selesaikan. Entah yang mana ayah kandung dari Iyo ataupun Uya, yang Riku inginkan mereka menjaga anaknya dengan baik.
"Jadi bagaimana dengan kalian?" tanya Riku yang beralih menatap dua pengusaha tersohor. Sedikit lucu pikir Riku. Anak dia kira dari keluarga kekurangan nyatanya adalah anak orang kaya.
"Saya ingin bertemu dengan anak saya. Dari penjelasan anda, sepertinya saya belum siap menjadi orang tua. Setelah tahu siapa ... saya rasa akan membiarkan dia memilih. Asalkan dia tahu jika saya juga ayahnya," jelas satu pria. Riku mengangguk paham.
"Saya akan membawanya. Ini bukan tempat kelahiran saya," ucap pria satu lagi. Riku sedikit takut dengan ucapan pria satu ini. Dari segi wajahnya Riku dapat melihat Iyo disana.
"Anda tidak akan membiarkan dia memilih?"
"Apa wajah saya familiar dimata anda?" pertanyaan yang dibalas pertanyaan. Pria ini adalah lawan yang sebanding dengan Riku.
"Dimana satu anak lagi?"
"Dia aman bersama dengan preman," jawab Riku acuh. Moodnya tiba-tiba turun setelah berbicara dengan satu pria yang mirip dengan Iyo.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)