[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
Dalam keheningan malam Sion menatap sedih petugas seragam putih yang tengah berbicara dengan sang ibu. Baju hitam lusuh yang dipakai Sion menjadi warna paling mencirikannya saat ini. Setelah pemakaman jasad sang ayah, Sion mengantarkan sang ibu untuk ditangani oleh pihak ahli. "Mama maaf," lirih Sion ketika hendak pergi. Bukan bermaksud membuang. Tapi yang diperlukan ibunya saat ini adalah tenaga medis yang ahli. Rasa bersalah dihati bertambah. Rasa sesak menumpuk didada. Menimbulkan sakit hingga rasa berat untuk mengais udara. Bibir serta mata yang selalu terlihat ramah kini tampak menampilkan gurat lelah. "Ini belum selesai. Uya!" ucap Sion tiba-tiba. Sepasang kaki yang semula berjalan pelan itu kini mulai menambah kecepatan. Sion terlalu larut dalam kesedihan, hingga lupa dengan balita kulit putihnya. Uya pasti mencarinya, Riku pasti kerepotan menangani dua orang, lalu belum lagi Yushi dan Jaehee.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hasilnya cocok," Riku menampilkan senyum tipis mendengar hasil tes DNA antara pengusaha bernama Surya dengan Uya. Jika begitu dapat dipastikan Iyo adalah anak dari Renal, pengusaha negri sakura yang tengah menyelesaikan permasalah pekerjaan di sini. "Tu- "Panggil Riku aja," potong Riku yang telah muak dengan kata-kata formal. "Riku, bisa temani saya untuk bertemu Uya?" pinta Surya pada Riku. Pengusaha itu tampaknya bahagia mengetahui keberadaan anaknya. Sebelum hendak menjawab, indra pendengar Riku menangkap derap langkah kaki cepat yang mengarah pada posisinya saat ini. Pandangan yang semula menatap Surya kini beralih menatap sumber suara. Menyipitkan mata guna memastikan apakah itu derap langkah sosok yang ditunggu. "Riku gimana Uya?" Riku tersenyum tipis. Pandangannya kembali mengarah pada Surya. "Anda bisa masuk dengan Sion. Papa angkat Sakuya," ucapnya. Sion mengerti keadaan saat ini. Berjalan lebih dulu untuk memasuki kamar rawat sang permata kecil. Gurat wajah ramah dengan senyum lembut Sion tampilkan. Berbanding terbalik dengan suasana hati yang tengah berduka. "Paaa!" panggil Uya. Balita kulit putih pecinta roti itu telah bangun. Tangan mungilnya terlentang meminta untuk di gendong. "Anak Papa gak nangis?" tanya Sion yang kini telah membawa tubuh mungil itu kedalam gendongan. "No no Ya dah becal!" jawab Uya yang kini menatap wajah Sion. "Pa ngiss ya?" (Papa nangis ya?) Pertanyaan macam apa itu? Mana bisa anak sekecil Uya mampu memiliki rangsangan yang kuat? "Uyaa. Maafin omah ya? Omah sakit, jadi lupain Uya. Terus doain Opa juga. Sekarang Uya gak bisa main lagi sama Opa. Opa udah gak sakit lagi... " jawab Sion dengan suara bergetar. Surya kagum dengan interaksi Sion dan Uya. Matanya sama sekali tak melewatkan setiap detik interaksi didepannya. Bagaimana si kecil Uya merespon Sion, hingga kini balita itu memeluk Sion. Bibir kecilnya terus mengucap kata "Cup Cup Cup" bagaikan orang tua yang tengah meminta anaknya untuk berhenti menangis. Lucu, membuat Surya merasa gagal menjadi orang tua. "Papa bukan anak kecil. Ouh iya Papa mau kenalin Uya sama seseorang," ucap Sion mengalihkan pembicaraan. Balita itu menyadari kehadiran sosok lain. Tangannya melambai dengan bibir yang tersenyum polos. Surya diserang kecemasan Uya secara bertubi-tubi. Senyuman si kecil, mata yang menatap dengan polos, dan pipi dengan semu merah yang seperti hendak tumpah. "Hai Uya," sapa kembali Surya. "Uya, Ini Papa Surya. Dia... " Sion menggantungkan ucapannya. Kepalanya menyusun kata untuk menjelaskan kepada Uya. "Papa kamu juga," lanjut Surya disertai senyum. Sion menatap Surya yang tetap tersenyum. Surya sama sekali tak berniat untuk membebani Sion. Surya sadar diumur Uya yang masih kecil, balita itu belum mengerti apapun. Temasuk masalah mereka. "Yaa puna igaa?" tanya Uya dengan menampilkan lima jari. (Uya punya tiga?) "Hahaha kamu lucu banget sih. Ini tiga," koreksi Surya yang melipat jari Uya menjadi bilangan hitungan tiga. "ehehe pa, roti?" tangan si kecil mengarah pada Sion. Kebiasaan Uya yang selalu berbagi roti pada setiap orang baru yang dia temui. "Tas Uya mana?" tanya Sion kembali. Permata kecilnya itu selalu membawa tas yang berisi tiga sampai empat roti. Itu menjadi hal yang sangat diharuskan ketika hendak keluar rumah. "Tuh!" Sion mengambil tas yang tadi sempat Uya pakai. Beruntunglah roti yang dia siapkan sebelumnya masih utuh. Uya mengambil satu untuk Surya. "Buwat Papa!" Surya menerima dengan senang hati. Pria yang merupakan ayah kandung dari Uya itu tak dapat menahan laju air mata. Terharu akan kebaikan Uya. Surya bersyukur putranya dibesarkan oleh orang baik. "Papa boleh gendong Uya?" tanya Surya. "Kiss Uya uga boyeh!" kata si kecil dengan suara lucunya. Sementara itu diluar ruangan Riku serta Renal hanya menyaksikan dari balik kaca. Mungkin hanya Renal yang memperhatikan, karena sedari tadi Riku terus di hantui rasa takut. Takut jika dirinya dan Iyo akan berpisah. "Kalian mendidik mereka dengan baik ya," ucap Renal tiba-tiba. "Kami tahu bagaimana rasa pahit hidup tanpa kasih sayang. Mereka datang dengan rasa takut. Meminta perlindungan saat itu," cerita Riku. Senyuman terukir ketika mengingat bagaimana dirinya yang selalu kewalahan untuk menghadapi tingkah Iyo yang begitu aktif dan cerewet. Belum lagi balita kecil itu sering kali mengeluarkan kalimat pedas. "Anda sedih ketika Iyo saya bawa pergi?" tanya Renal. "Bawa aja. Kalo nanti dia bawel, jangan di lelang ya hahaha," canda Riku untuk menutupi kesedihannya. Renal dapat melihat sorot sedih dari netra Riku. Sejujurnya Renal sempat berpikir apakah anak sekecil itu akan baik-baik saja jika dia tinggal berkerja ataupun dia ajak bepergian. "Saya Reynald Xavier. Saya lebih nyaman di panggil Renal. Salam kenal Riku Fashil Athariz," Renal mengajak Riku untuk berkenalan. Pengusaha asal negri sakura itu berusaha untuk menurunkan ego. "Bagaimana anda- "Jangan pikir saya ini orang yang berpikir lambat ya Riku," ucap Renal memotong kalimat Riku. Detik itu pula Riku mulai merasa nyaman dengan Renal. Rasa perselisihan yang semula ada diantara keduanya mulai memudar. Riku mulai menceritakan bagaimana aktif dan pintarnya Iyo selama ini. Renal merespon dengan baik. Hl itu semakin membuat Riku bersemangat untuk menceritakan segalanya tentang Iyo. "Ayahhh!!" suara melengking milik balita yang tengah menjadi topik pembicaraan pun terdengar. Iyo datang dengan Rama dibelakangnya. "Halo boy!" sambut Riku tak kalah riang. "Ayah ayah tadi Iyo Brumm brumm Kakek! Yo bocan ayah. Ndak ada Uya, teyus pintu tok tok tok Iyo di gendong. Teyus brumm brumm ... " Renal berkedip tak percaya. Jadi ini Iyo, putranya? Sangat cerewet dan aktif. Riku sampai tertawa melihat wajah yang semula sangat dan berwibawa itu berubah menjadi orang bodoh. "Riku... mencari baby sitter itu susah kan? Saya banyak pekerjaan, titip Iyo boleh?" ucap Renal. "Ehhh kamuuuuu sapa?? Haii, Iyo!" "Aku? Aku ayah kamu juga," jawab Renal dengan tangan yang menjabat uluran tangan Iyo. Riku yang telah selesai dengan tertawanya pun menjelaskan sedikit. Tidak terlalu detail karena Iyo masih kecil, cukup memberi pengertian jika Renal juga adalah ayah Iyo. Balita bermata bulat itu mengangguk paham sebelum akhirnya memeluk Renal. "Tadi anda bilang Baby sitter ya? Gak perlu. Kita punya Rama," kata Riku sambil menepuk pundak kokoh Rama. "Gampang. Paling nanti Iyo jadi ketua mafia," celetuk Rama saat itu juga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Abang bangun!" Yushi terusik dalam tidurnya. Merasa sebuah tangan dengan tak sopannya memukul pipi mulus Yushi. "Bang Yushi bangunnnn," Dengan malas Yushi membuka mata. Mengerjap berapa kali untuk memperjelas penglihatan. Dilihatnya sekeliling. Tenyata dirinya masih berada di taman. Tertidur dengan kursi sebagai alas dan daun dari pohon rindang yang lebat. Angin malam berhembus. Menimbulkan rasa dingin ketika menyapu permukaan kulit. "Ayok pulang bang," ucap orang itu sekali lagi. Yushi mengalihkan padangan, melihat siapa pemilik dari suara yang sedari tadi mengusik tidurnya. Rasa perih hadir menghampiri mata ketika netra bulat itu menangkap rupa orang yang amat dia khawatirkan. Tanpa diminta satu tetes cairan terjun bebas. Membuat jalan untuk tetesan berikutnya. "Jee... " panggil Yushi dengan suara parau menahan Isak tangis. Jaehee hadir didepannya dengan pakaian khas rumah sakit. Yushi menelisik wajah yang amat dia rindukan. Bersih tanpa luka dengan bibir pucat yang menampilkan senyum. "Bang Yushi selamat Ulang tahun!" Yushi mengangguk cepat mendengar kalimat Jaehee. Bibir yang bungkam itu dia gigit untuk mengurung suara isak tangis yang ingin keluar. "Jee... " panggil Yushi sekali lagi. "Pulang. Disini dingin," jawab Jaehee. Yushi termenung melihat Jaehee yang mulai berjalan jauh. "Jee arahnya bukan kesana. Jee! Jaehee! JAEHEE ADIPTA GUNAWAN!" Yushi mengejar Jaehee yang terus berjalan menjauh. Kaki Yushi terasa berat, menyusahkan untuk berlari. Jaehee semakin jauh, sulit untuk Yushi gapai.
"JAEHEE!!" teriak Yushi dengan kesadaran penuh. Tadi itu hanya mimpi. Yushi masih berada ditempat yang sama. Yushi mengacak rambutnya kasar. Pikirannya tak karuan. Mimpi yang baru saja dia alami tampak begitu nyata. Arloji ditangan menunjukan pukul delapan malam. Berapa lama kiranya Yushi tertidur? "Mimpi sialan!" Yushi bergegas pergi meninggalkan taman. Benda persegi yang selalu dia pakai untuk bertukar kabar serta informasi itu telah mati kehabisan daya. "Balik Jee. Pulang... gue sendiri..."
OKE KEUTTT!!!!! Kalo ada Typo komen yaaa, ga aku baca ulang soalnyaa maafkannnn okeee