[NCT Wish Lokal ]
Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif.
"Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee
"Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi
"BUJUBUSE...
"Omah kita mana?" Balita manis yang duduk disamping pengemudi menatap heran jalanan. Wanita yang dipanggil Omah pun tampak tak seramah dulu. "Duduklah yang manis. Kita akan bertemu Ayah mu yang sesungguhnya," ucap ibu Sion yang fokus menatap jalanan. Bisa-bisanya Sion menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Setelah menyerah untuk mempertahankan harta Papanya. Kini anak itu menolak untuk mengembalikan anak yang dia pungut. Dulu dia menerima saja saat Sion merawat, tapi untuk mengadopsi... rasa tak setuju mulai hadir. Apakah Sion tak pernah berpikir untuk pulang ke rumah dan membantu dirinya merawat sang suami? Ayah Sion sendiri. Kenapa anak itu malah memilih merawat orang lain disaat ayahnya sendiri perlu dia rawat. "Omah, Opa?" "Opa tidur. Jangan mencari opah. Dia gak akan bangun," jawab ibu Sion dengan santai. Mobil yang dikendarai ibu Sion berhenti tepat di parkiran perusahan besar. Wanita paruh baya itu tampaknya telah lelah hingga memilih menyerahkan permata putranya sendiri. "Omah... Paa?" balita itu mulai merasa tak nyaman. Ini bukan tempat Sion bekerja. Ini bukan tempat biasanya dia kunjungi bersama Sion. Dengan rasa takut Uya tetap menurut. Baru kali ini Uya merasa tak nyaman ditatap gemas oleh orang-orang. Sisi lain dalam diri bayi itu meminta untuk berlari. Uya menatap pergelangan tangannya yang dicekal kuat. Inginnya balita itu menangis memanggil Papa atau siapapun. "Saya ingin bertemu pak Surya," cekakan tangan pada tangan Uya terlepas. Balita itu mengusap pelan pergelangan tangannya. "Hiks ... Jee, Paa cakit," ucap balita itu pelan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hati Sion berdebar. Entah mengapa sisi lain dalam dirinya merasa sangat khawatir. Fokusnya terbagi kesegala arah. ingin pergi untuk memastikan sesuatu, tapi yang dia tunggu juga perlu secepatnya diselesaikan. "Sion?" "Om! Om mana berkas yang perlu Sion tanda tangani. Sion mohon jangan ganggu orang-orang terdekat Sion," ucap Sion dengan cepat. Lelaki yang disebut om itu menghembuskan nafasnya pelan. Keponakannya ini terlambat menyadari keadaan. Sion terlalu baik untuk orang lain, menolong setiap orang untuk melupakan beban tanggungjawabnya. Bisa dikatakan Sion lari dari satu masalah. "Kamu terlambat Sion. Penjahat sesungguhnya bukan om, ataupun omah. Melainkan Mama kamu sendiri," jelas sang paman. "Pulanglah. Temui Papa mu untuk terakhir kalinya," lanjut sang paman pada Sion. "Maksud om apa?" "Mama kamu itu gila Sion! Om kecewa dengan pilihan kamu Sion," ucap paman sebelum akhirnya meninggalkan Sion yang termenung sendiri. Notifikasi ponsel terdengar. Sion ingin abai. Tapi saat melihat Riku sebagai pengirim pesan, Sion mengesampingkan rasa acuhnya. Satu kalimat yang mampu membuat Sion kalang kabut. 'Uya hilang'. "Uya... maafin Papa," lirih Sion saat hendak melajukan motornya. Perkataan sang paman terus berputar. Kecewa, Ibunya gila, Papanya tiada. Jika bisa Sion ingin menjerit saat ini juga. Apakah ini yang dimaksud senyumanmu akan menjadi jeritanmu? Dari pada melalui teka teki kenapa tak memberi tahu Sion secara langsung? Ibunya, wanita yang selama ini Sion percaya ternyata yang menghabisi suaminya sendiri, papa Sion. lalu saat ini dengan bodohnya Sion menitipkan permata yang amat dia jaga pada orang yang salah. Sion bersumpah tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Uya. "Uya, tunggu Papa nak... " tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut tangis Sion pecah. Membayangkan bagaimana keadaan balita rotinya itu. Setakut apa sekarang anaknya itu. Ibunya gila? Karena apa? Apa ini semua bermula dari Sion yang meninggalkan rumah dan lepas tanggung jawab terhadap perusahaan? Tapi bisnis bukanlah fashion Sion. Bukan bidang yang Sion minati.