Cie malming nya main di wahana permainan Mimi
Chap ini panjang, 2800 Word. Semoga terhibur dan ga bosen yaa.
Typonya mohon dimaafkan, dikoreksi juga boleh~~
SELAMAT BERSENANG-SENANG!!
Seorang pria paruh baya berdiri didepan rumah yang bertuliskan angka 24. Menatap lamat-lamat seakan-akan bisa menerawang keadaan rumah. "Disini tempat dia berlindung?" tanya pria itu entah pada siapa.
Baru hendak pergi, Jaehee sampai tepat berhenti disampaing pria paruh baya itu. Mata Jaehee melirik sebentar sebelum membayar ongkos jasa ojek yang ditumpanginya.
"Bapak cari sesuatu?"
"Riku, saya ayah Riku."
Jaehee terkejut. Reflek tangangannya menggapai tangan orang yang mengaku sebagai ayah dari salah satu Abangnya itu. Menyalami dan tidak lupa meminta maaf karena tidak mengenali beliau. Pria paruh baya itu hanya tersenyum maklum dan mengangguk.
"Masuk dulu, om. Jee buatkan minum. Bang Riku biasanya pulang sore, nanti biar Jee telpon buat pulang cepet deh." ucap Jaehee dengan ramah. Gagal sudah rencananya untuk beristirahat. Jika saja pria yang dia jumpai ini bukan orang tua dari Riku mungkin sudah Jaehee minta untuk datang lain kali.
Seperti yang biasanya dilakukan ketika ada tamu. Jaehee menyediakan teh, cemilan, mengajak ngobrol selagi menunggu Riku datang. Sayang sekali telpon Riku tidak aktif, beberapa kali Jaehee mencoba untuk menghubungi Riku, hasilnya tetap tidak ada jawaban.
"Kamu tahu betul mengenai putra saya." puji ayah Riku pada Jaehee.
"Tidak semuanya, om. Jee cuman tahu sedikit. Mungkin bang Sion atau bang Yushi lebih tahu." jawab Jaehee dengan sopan.
PRANGG!!!
Suara kaca jendela pecah mengusik kegiatan obrolan dua orang yang berbeda usia. Ayah Riku berdiri melindungi Jaehee. Memeriksa apa yang terjadi, jendela ruang tamu pecah karena dilempar satu batu besar.
"Ahh mungkin orang stres yang melakukannya. Biar Jee bereskan nanti. Om bisa tunggu dulu-
"Tidak. Saya akan pulang. Sampaikan pada Riku jika saya kemari." ucap pria paruh baya itu pada Jaehee. Tidak mau mengambil ribet, Jaehee hanya mengangguk mengizinkan pria yang berstatus ayah Riku itu untuk pergi.
Sepertinya ayah Riku, Jaehee mengambil sapu dan kantung pelastik untuk membersihkan pecahan kaca. Takut-takut ada yang terluka jika tidak langsung dibersihkan. Apalagi Jaehee ingat jika dirumah ini ada Uya dan Iyo yang masih kecil.
Ditengah kegiatannya terdengar suara pintu yang dibuka serta suara benda yang diseret. Jaehee tebak itu adalah salah satu dari abangnya yang baru saja pulang.
"Hati-hati tadi ada yang iseng lempar batu. Jadi jendela pecah." ucap Jaehee tanpa menoleh.
"Saat ini orang iseng itu juga ingin bermain dengan remaja disini."
Suara asing yang terendam karena orang tersebut memakai penutup wajah. Jaehee menoleh dengan hati-hati. Saat ini, jarak tiga langkah dari posisinya berdiri terdapat sosok berpakaian hitam yang membawa balok kayu serta Jerigen berisi cairan kuning keemasan.
"Mau apa Lo?!" teriak Jaehee pada orang itu.
"HAHAHA gue mau Yushi menderita!" jawab orang itu dengan suara tinggi.
Tanpa menunggu lama pria itu melayangkan pukulan dengan balok kayu pada Jaehee. Beruntung Jaehee dapat menangkis serangan dari balok kayu itu, walaupun tangannya tetap merasa sakit. Tidak diam saja, Jaehee mencoba melawan dengan kemampuan seadanya. Dalam hati Jaehee mengumpati dirinya yang menolak didaftarkan pelatihan bela diri oleh Sion, saat kelas sepuluh dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfic[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)