14. Cukup gue jangan mereka

2.2K 185 102
                                        

Waktu berlalu, mentari semula tepat diatas kepala kini beranjak turun tenggelam. Semu merah serta orange menghiasi langit biru, memancarkan kehangatan serta ketenangan dalam satu waktu. Sebelum gelap menjemput sebaiknya Jungmin segera pergi, berpamitan pulang pada sang pemilik rumah.

"Jujuu tega banget sama Jeje! Jangan pulang nginep ajaaaa guee takuttt Jungminnn!!!" Jaehee memeluk satu kaki Jungmin, susah payah Jungmin berjalan dengan satu kaki menyeret tubuh bongsor Jaehee hingga sampai pagar rumah. Ojek online yang dipesan jungmin sampai keheranan melihat tingkah mereka.

"Jeee! Gue juga takut, gue mau balik! Kasian Abang ojolnya!" ucap Jungmin yang tengah berusaha menjauhkan tubuh Jaehee yang memeluk kakinya.

"Juju jahat ih sama Jeje! Mamang ojol pergi aja, dia gak jadi pulang. Biar nanti Jeje ganti uangnya,"

"Kagak ye anjir! Ehh liat Iyo kesini! Ehh cil jangan lari nanti jatuh!" ucap Jungmin berbohong agar Jaehee melepaskan pelukannya sebentar, berhasil Jaehee menoleh melepaskan pelukannya di kaki Jungmin.

"Ayok pak jalan, Gas!" ucap Jungmin terburu-buru.

"IHH JUNGMINN TEGAA!!!" teriak Jaehee saat melihat motor yang dinaiki Jungmin berjalan menjauh.

"Jee, masuk mandi," suara Sion terdengar dari arah belakang, seketika tubuh Jaehee menegak kaku. Tanpa menoleh Jaehee mengangguk patah-patah sebagai respon, sebelum akhirnya lari kearah kamarnya.

Makan malam terasa berbeda, obrolan random yang biasanya mengiringi sesi makan kini senyap, hanya terdengar suara benturan sendok garpu dengan piring. Canggung, Jaehee tak suka suasana seperti ini. Ditambah dua balita yang biasanya menebar kegemasan sedang jatuh sakit, semakin membuat Jaehee tak nyaman.

"Gue selesai," ucap Jaehee dengan lesu, kakinya melangkah menaruh piring serta gelas kotor di wastafel, biarlah dia cuci nanti sekalian dengan piring bekas Uya dan Iyo.

Sampainya dikamar Yushi, tempat Uya dan Iyo beristirahat, hal pertama yang dia lihat adalah senyum gemas Iyo yang menanti Jaehee datang sedari tadi. Tak seperti Uya yang akan menangis jika tak melihat Jaehee saat terbangun, Iyo akan menunggu hingga Jaehee datang.

"Jejeee," ucap Iyo dengan suara lucunya.

Satu masalah yang tidak terlalu penting berhasil Jungmin atasi tadi sore. Iya tak terlalu penting, Jaehee tak keberatan sama sekali dengan panggilan Mama, tapi Jungmin berkata jika panggilan itu bisa saja membuat orang-orang salah paham, seperti dirinya. Perlahan dengan sedikit tipuan Jungmin mencoba mengganti panggilan itu dengan panggilan lain.

"Panggilnya Jeje ya, Jeje itu artinya Mama. Tapi bahasa magicnya. Iyo Uya tau magic gak? Keren tau,"

Hingga mulai saat itu Jeje resmi mengganti panggilan Mama untuk Jaehee.

"Aloo anak ganteng, Jeje lama ya?" sapa Jaehee dengan tangan yang membelai pipi bulat Iyo. Senyum yang ditampilkan sikecil membuat Jaehee sekejap melupakan beban pikirannya.

"No, mawu mam! Aaaa,"

"Iyoo kenapa kamu lucu banget sih! Kalian berdua lucu. Cepet sembuh ya, Jeje gak suka liat Iyo sama Uya sakit." Jaehee membawa Iyo untuk duduk di pangkuannya, tangan besarnya melingkari tubuh kecil itu, memberikan pelukan hangat, menyalurkan segala kasih sayang yang dia punya untuk si kecil Iyo. Balita itu tersenyum lebar hingga menampilkan jejeran gigi susunya yang rapi.

"Mam Jejeee, Iyo mawu mam," ucap Iyo sambil menepuk-nepuk pipi Jaehee dengan tangan kecilnya.

"Ayok makan dulu, nanti biar Uya nyusul. Jangan ganggu dia yang lagi tidur ya," Jaehee berusaha adil, sedari tadi siang hingga terlelap Uya selalu menempel padanya, membuat Iyo sedikit iri karena itu. Walaupun Iyo mengangguk tak apa, Jaehee tahu pasti hati kecilnya menaruh kecewa padanya. Maka dari itu, biarlah Uya istirahat sekarang dan Iyo mendapat perhatiannya.

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang