47. Huft

1.2K 162 56
                                        

‎"Juju lontong!" teriak Iyo dari arah pintu rumah. Terlihat balita itu tengah kesusahan Membawa setumpuk mainan.

‎"Tolong bocah. Lontong lontong," dumel Jungmin saat paham maksud dari plesetan kata yang Iyo ucapkan.

‎"Pwiss Juju~" ucap Iyo yang kini telah berada didekat Jungmin. Menyatukan tangan didepan dada, dengan bola mata yang dibuat segemas mungkin.

‎"Elah anak si Jeje,"

‎"Gue denger jungmin!"

‎Kekehan kaku terdengar saat itu juga. Pelakunya tak lain adalah Jungmin yang kini mendapat tatapan tajam dari Jaehee. Tapi Jungmin tak mengerti, letak kesalahan yang dia perbuat itu ada di selah mana?

‎Siang itu, cuaca tampak bersahabat. Cerah tak panas ataupun hujan. Langit tampak memberi ruang untuk anak-anak bebas bermain. Terbukti kini Iyo serta Uya yang tengah bermain di halaman rumah.

‎Hanya di halaman rumah. Sion bilang di sekitar sini juga memiliki taman yang tak kalah bagus dari komplek perumahan sebelumnya. Tapi dikarenakan penghuni rumah baru nomor 24 itu mayoritas kaum jompo dan mager, alhasil kedua balita hanya dapat bermain di halaman rumah. Beruntung ada Jungmin yang mau membantu.

‎"Jee duduk. Ya doyong!" ucap si balita roti pada Jaehee.

‎Sosok yang diminta duduk menggeleng tanda menolak. Uya ingin mendorong Jaehee di ayunan. Jaehee sadar Uya terlalu kecil untuk dirinya yang bertubuh besar, dia tak akan kuat.

‎"No, Uya saja yang Jeje dorong," jawab Jaehee yang masih mendorong ayunan untuk Uya.

‎"Juju tau ndak kenapa langit biru?" tanya Iyo random. Bibirnya bertanya, tapi fokus anak itu berpusat melihat hamparan langit biru.

‎"Ngga tahuu kenapa tuh?" jawab Jungmin.

‎"Karena waktu itu ayah sama Iyo yang warnain pake krayon biluu~" jelas Iyo dengan nada meledek.

‎Jungmin merasa dibodohi bocah dibawah umur. Terhitung dua kali Jungmin dibuat berpikir oleh lontaran kata yang Iyo ucapkan.

‎"Jadi saudara Juju. Bagaimana rasanya menjadi tukang tipu yang di tipu balik? Mana ditipunya sama bocah lagi," Jaehee berkata dengan nada seorang pewawancara. Melihat bagaimana reaksi raut wajah Jungmin yang tampaknya kurang bersahabat membuat Jaehee tertawa.

‎"Rasanya emmmm anjim banget!" jawab Jungmin.

‎"Anjim banget!" ucap Uya meniru gaya bicara Jungmin.

‎"Heh! Juju!" Jaehee kembali melayangkan tatapan tajam pada Jungmin. Seharusnya sahabatnya itu bisa menjaga ucapan ketika berada di dekat anak-anak. Apalagi Uya yang memang tengah dalam masa meniru dan menerapkan.

‎Lain dengan anak-anak yang tengah berbahagia. Didalam rumah, tepatnya dikamar yang paling tua disana Sion tengah berdebat dengan sang ibu lewat sambungan telpon.

‎"Ma, Sion sama sekali gak tertarik dengan dunia bisnis. Lebih baik Sion kerja di bank. Dunia bisnis itu gelap ma, Sion punya Uya, Jeje, Iyo. Sion gak mau mereka jadi sasaran," ucap Sion panjang lebar.

"Tapi Sion, kamu belum masuk bisnis pun mereka udah di incar nak," jelas sang ibu lewat telpon.

‎"Ma serahkan saja semua bagian Papa. Berikan semua yang Omah mau. Mama jangan khawatir, Sion bisa kok tanggung kalian walupun cuma sekedar pegawai bank," ucap Sion sedikit memohon.

‎Dunia bisnis itu sangat misterius. Jarang sekali transaksi terjadi secara murni. Segala bentuk kejahatan untuk mendapat keuntungan lebih serta menjadi yang paling unggul bisa saja terjadi dalam bisnis. Hingga orang-orang tersayang pun menjadi sasaran, bahkan di korbankan.

‎Siang ini Sion mengerti maksud dari susunan kode yang Jungmin berikan. Perebutan harta, dan orang terdekat Sion yang tengah di incar.

"Sion itu hak kamu. Hasil kerja keras papa kamu! Mama gak mau begitu aja kamu serahin sama Oma!" ucap terakhir ibu dari Sion sebelum akhirnya panggilan terputus.

‎Sion menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang. Kepalanya terasa akan pecah sekarang. Dulu memang dia sangat teguh mempertahankan perusahaan sang papa dari omah dan pamannya. Tapi untuk kali ini, Sion sadar yang menjadi incaran bukan lagi dirinya. Melainkan orang-orang terdekatnya.

‎Pintu kamar Sion diketuk. Membuat sang pemilik kamar menoleh guna melihat siapa sosok yang ingin menemuinya saat ini. Ternyata kedua sahabatnya Riku dan Yushi.

‎"Lo kenapa bang. Kusut amat tuh muka. Makin keliatan aja keriputnya," ucap Yushi yang langsung mendapat lemparan bantal dari Sion.

‎"Keriput kata Lo?! Perawatan gue mahal!" jawab Sion dengan nada songong.

‎"Mau yang murah kagak? Gue bisa tuh Collab sama Yushi buat bikin pelembab pake bahan kimia dicampur bahan dapur," lanjut Riku.

‎Sion mendelik melihat Riku yang membuat gestur high five bersama Yushi. Memang keduanya bisa menjadi lawan dan kawan secara bersamaan. Disaat seperti ini Sion merasa hanya Jaehee yang ada di pihaknya. Walaupun terkadang satu-satunya remaja diantara mereka itu mudah sekali terhasut dengan kata-kata muslihat dari Yushi.

‎"Gue abis debat sama mama," Sion membuka pembicaraan serius.

‎"Kode itu... gue takut kalian kena imbas," lanjut Sion yang kini telah merubah posisi menjadi duduk.

‎"Maksud Lo?" Riku tak mengerti arah pembicaraan Sion yang mengatakan jika mereka, termasuk dirinya akan terkena imbas.

‎"Papa punya perusahaan. Karena sakit Oma sama Om mau ambil alih perusahaan Papa yang selama ini di urus Mama," jelas Sion.

‎Yushi paham. Masalah mengenai hal yang tak jauh berbeda dengan keluarganya. Harta selalu menjadi kunci utama untuk menjadi paling unggul. Di kehidupan yang kejam ini kemurnian hati tampak menjadi hal yang langka dan hal yang mustahil. Sebaik-baiknya manusia baik, pasti memiliki sisi kejam dan liciknya sendiri.

‎"Gue gak masalah kalo yang mereka incar itu gue. Tapi ini... orang-orang terdekat gue. Kalian... " ucap Sion dengan nada lirih.

‎"Lo bisa pecahin teka-tekinya?"

‎"Artinya ... Senyum gue, bakal jadi alasan jeritan gue sendiri," Sion terdiam sejenak. Matanya terpejam, telinganya menajam. Mendengarkan gelak tawa dari para balita diluar yang senang bermain.

‎"Uya, Iyo, Jaehee... kalian. Kebahagian gue," lanjut Sion yang masih enggan membuka mata. Saat terpejam saja rasa panas dapat Sion rasa dari mata. Sion takut ketika dirinya membuka mata, cairan bening akan terjun bebas.

‎"Gue takut. Gue yang bawa kalian kesini. Gue yang larang Jaehee pulang. Gue gak mau buat kalian dalam bahaya,"

‎Tak ada suara sedikitpun yang menyahuti perkataan Sion. Riku dan Yushi terdiam dalam pikiran masing-masing. Mereka pikir terbakarnya rumah lama adalah akhir dari segala masalah. Kenyataannya tak begitu.

‎"Tenang aja, kita punya Rama!" celetuk Riku yang menumbalkan ayahnya.

‎"Bapak Lo bisa apa njirt?!" sewot Yushi.

‎"Bisa jadi tumbal!" jawab Riku asal. Wajahnya terlihat malas. Mana mungkin Riku bersungguh-sungguh menjadikan Rama sebagai tumbal.

‎"Gitu-gitu si Rama temen premannya banyak. Kan mantan pemabuk dia," jelas Riku.

‎"Hubungannya apa?!"

‎"Gak ada. Gue lagi mau banggain si Rama aja hehe,"

‎Yushi menendang Riku hingga si empu terjatuh dari atas ranjang Sion. Keadaan tengah serius, bisa-bisanya tukang roti ini bercanda. Mentang-mentang Yushi sudah tak punya papah.

"Papaaa tolong! Jee jadi monster!" teriak Uya sambil berlari memasuki kamar Sion bersama Iyo.

"Ayahh tolong!" teriak Iyo kembali.

"WAAAA Kalian mau kemana? Sinii kalian anak nakal!" ucap Jaehee. Para balita berlari sambil tertawa mendekati sosok yang dipanggil papa dan ayah itu.

"Ihh ini mah monsternya di peluk juga kalah," jawab Riku.

Serentak Iyo dan Uya saling bertatap sebelum akhirnya menyerbu Jaehee secara bersamaan. "Waaa serang!!"

Jaehee bahkan tak menghindar ketika dua balita itu berlari kearahnya. Tangan Jaehee terlentang, tubuhnya merendah. Mencoba sejajar dengan tubuh si kecil.

"Aaaaakk monsternya kalah," akting Jaehee.

"No no monster ndak mati. Monster jadi baik!" ucap Uya ketika melihat Jaehee yang hendak berpura-pura.

Jaehee sengaja memejamkan matanya. Membuat seakan-akan dirinya tiada salam pertarungan. Kedua balita yang semua tertawa kini malah mengoceh meminta Jaehee untuk bangun.

"Bangun Jeje bangun!" ucap Iyo yang kini membuka paksa mata Jaehee.

"Ehh ehh geli iyaa hahaha," mata yang semula terpejam itu kini terbuka disertai tawa.

Iyo tersenyum lebar melihat tingkah Uya. Tak lama balita bermata bulat itu ikut serta menggelitiki Jaehee.

"Iyo jangan ikut ikutan heh!" ucap Jaehee tak terima.

Iyo tak peduli. Prinsip anak-anak itu selama mereka senang melakukan hal tersebut, akan terus mereka lakukan. Lagi pun apa yang diperbuatnya tak berbahaya.

Aksi anak-anak terhadap Jaehee menjadi hiburan tersendiri untuk Sion, Riku dan Yushi. Ketiganya ikut tertawa melihat bagaimana Jaehee yang kewalahan menghadapi Iyo dan Uya.

"Mereka juga kebahagiaan gue Sion," ucap Riku disela tawanya.

"Kebahagian kita. Inget dua empat. Jangan pernah lupa," koreksi Yushi yang masih tersenyum melihat hiburan didepannya.

"Kita lewati semua bareng-bareng. Inget ya dua empat bukan dua puyuh hahaha," sambung Riku yang semakin tertawa melihat bagaimana tersiksanya Jaehee.

"Iyo Uya geliii!" teriak Jaehee.

















Halloowww semuaaaa
Minal aidzin wal Faizin.
Mohon maaf buat kalian panik lagi HAHAHA 🤣🤣🙏

Maaf typonyaa jugaaa yaaa

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang