48. Rumit

1.2K 154 109
                                        

‎Hari berlalu begitu cepat. Matahari yang semula bangun lalu ditenggelamkan tak pernah menyerah untuk kembali menyinari bumi. Bulan pun terus menunjukkan keindahannya, meskipun terbatas oleh waktu. Menuntaskan rindu para pengagum purnama yang selalu menanti disetiap pergantian warna langit.

‎Butiran embun pagi terjatuh membasahi permukaan tanah. Diserap akar lalu disalurkan hingga membuat warna hijau semakin menawan. Angin halus datang dengan sopan menggoyangkan setiap tangkai dengan hati-hati.

‎Bukan dingin, tapi rasa sejuk dan segar yang mengundang ketenangan. Jaehee terpejam merasakan belaian angin halus yang menyentuh permukaan kulit. Menghirup aroma segarnya pagi yang bersih tanpa polusi. Sinar mentari yang menyelinap dari sela-sela daun pohon rindang memberikan kesan hangat.

‎"Kenapa berdiri disana pagi-pagi sekali, Jee?"

‎"Hm?" yang ditanya berdeham dengan senyum tipis. Matanya masih enggan untuk terbuka. Suasana pagi yang tenang sudah lama tak dia dapatkan.

‎"Kami berisik ya?"

‎Pertanyaan lucu yang Jaehee dengar pagi ini. Jaehee tahu siapa pemilik suara berat ini. Abang paling tuanya, Sion.

‎"Nggak kok," jawab Jaehee yang kini telah selesai menyelami ketenangan pagi. Remaja SMK itu kini duduk di ayunan yang sering dimainkan oleh anggota termuda disana.

‎"Nggak salah lagi maksudnya," lanjut Jaehee yang diakhiri kekehan geli.

‎"Lo pernah nyesel gak sih Abang ajak kesini?" tanya Sion yang kini mendorong ayunan tempat Jaehee duduk.

‎"Nggak pernah. Malah Jee bersyukur banget ketemu abang-abang semua. Maaf ya, Jee malah ngambil personil tambahan,"

‎Awal yang baik untuk menyambut pagi. Sion selalu memperlakukan Jaehee layaknya adik. Walaupun terkadang Sion ikut serta dalam membuat Jaehee kesal. Dibalik itu semua ketiganya memiliki sisi seorang kakak tersendiri. Anggap saja membuat Jaehee kesal adalah usaha kakak untuk menjahili adiknya. Membuat ikatan semakin dekat dan lebih erat.

‎"Kalo pun nanti Lo udah damai sama orangtua Lo. Jangan pernah tinggalin rumah ini ya," ucap Sion. Tangan yang lebih tua itu tetap mengayunkan ayunan. Matanya tak lepas menatap Jaehee yang tenang duduk di ayunan.

‎"Ngangguk Jee, jawab Abang. Lirik Abang," ucap Sion dalam hati. Berharap Jaehee merespon ucapannya.

‎"Jam berapa ini? Jee mau sekolah. Jee masuk dulu ya,"

‎Bukan. Bukan itu yang Sion harapkan. Bukan jawaban itu yang Sion tunggu. Bukan itu. Sion termenung dalam pikiran acaknya. Jaehee akan meninggalkannya? Lalu untuk apa Sion melindunginya? Jaehee memilih pergi? Lalu bagaimana dengan Uya dan Iyo?

‎"SION!"

‎Teriakan disertai suara langkah kaki cepat mengusik gendang telinga Sion. Si pemilik nama menoleh mendapati si dokter hewan yang tampak terkejut. Yushi memperlihatkan sesuatu dari ponselnya. Tak lama kemudian gurat menuntut penjelasan ditampilkan oleh Sion.

‎"Iyo dan Uya...  mereka, mereka anak istri pak Amzar dengan selingkuhannya. Mereka lagi dicari Sion. Semua orang nyari mereka!" jelas Yushi.

‎Kematian Pak Amzar tampaknya membuka segala rahasia keluarga yang ditutup rapat. Termasuk keberadaan Yushi yang ternyata anak dari hasil perselingkuhan pengusaha terkaya itu.

‎"RIKU! SION!" teriakan kembali terdengar disertai pintu pagar yang dibuka dengan kasar.

‎Rama datang membuat suasana pagi yang semula tengang menjadi ricuh. Sion serta Yushi mengikuti Rama masuk kedalam rumah. Sebelumnya Yushi memastikan diluar tak ada satupun tetangga yang terusik dengan kericuhan pagi yang mereka buat.

‎"Ayah?"

‎"Dimana Iyo sama Uya?" Rama mengabaikan suara Riku. Fokusnya tertuju pada kedua balita yang menjadi cucunya saat ini.

‎"Ada lagi sama Jaehee dikamar," jawab Riku dengan tenang.

‎"Oke. Iyo sementara tinggal sama Ayah. Sion, titip Uya kerumah orang tua kamu-"

‎"Tunggu Ayah maksudnya ini apa? Kenapa Ayah tiba-tiba mau bawa Iyo?!" potong Riku. Diantara mereka yang belum mengetahui kabar yang tengah beredar adalah Riku, Jaehee dan kedua anak yang menjadi topik permasalahan.

‎"Iyo Uya dicari publik!" jawab Rama dengan nada menyentak anaknya itu.

‎Yushi memperlihat sebuah artikel yang telah tersebar. Tangan Riku terkepal saat mengetahui kebenaran mengenai Iyo dan Uya. Sejak kecil dibuang hingga diadopsi oleh orang yang tak bertanggung jawab. Kini sosok yang menjadi ayah kandung tersebut menginginkan anaknya kembali.

‎"Cih," decih Riku.

‎Segera ayah angkat dari Iyo tersebut mengemasi kebutuhan sang anak. Tak jauh berbeda Sion pun menghubungi sang ibu untuk menitipkan Uya. Kedua balita itu tak boleh berada dalam satu tempat yang sama.

‎"Kakek!!" lengkingan suara khas anak-anak dengan nada ceria menginterupsi mereka.

‎"Cucu Kakek!" sambut Rama saat melihat Iyo keluar dari kamar disusul oleh Jaehee dan Uya.

‎"Kakek kenapa kesini?" tanya Iyo yang kini telah nyaman berada dalam gendongan Rama.

‎"Kakek mau ajak Iyo bermain!"

‎"Uya?" satu balita lain bersuara. Jika Iyo akan diajak bermain dengan Rama, apakah dirinya juga akan ikut?

‎"Uya nanti dijemput Oma. Katanya Oma juga mau main sama Uya," jawab Sion yang telah keluar dengan beberapa keperluan Uya.

‎"Kenapa bisa barengan?" heran Jaehee yang masih belum memahami keadaan sebenarnya.

‎"Gapapa. Mama bilang papa lagi kangen sama Uya, tapi Ayah Rama juga lagi kangen. Jadi bagi dua aja," jelas Sion yang terdengar tenang bahkan ramah.

‎Semua mengangguk membenarkan perkataan Sion. Kecuali Jaehee yang merasa ada sesuatu yang aneh. Hingga Yushi pun memberikan ponsel yang masih menunjukan informasi alasan mereka berbuat demikian.

‎"Hati-hati ya kalian. Jangan buat Oma, Opa, sama Kakek kerepotan. Nanti Jeje jemput kalian pulang," ucap Jaehee.

‎Ibu Sion telah tiba. Rama menatap lekat wanita yang merupakan orangtua dari Sion itu. Bejalan dengan tenang dan gurat tak terbaca. Entah berusaha menyembunyikan sesuatu atau memang begitu keadaannya. Rama harap balita bernama Uya itu baik-baik saja dijaga oleh seorang wanita.

‎"Siapa aja yang tahu?" tanya Riku yang memulai pembicaraan.

‎"Jungmin," jawab Jaehee.

‎"Gue rasa dia pasti di pihak kita. Pekerja toko udah gue ancam jangan ada yang bilang keberadaan Iyo dan Uya," jelas Riku.

‎"Nominal uang yang ditawarkan semakin naik," ucap Yushi tiba-tiba.

‎"Mereka nyari anak hilang atau kompetisi sayembara?!" amuk Riku melihat nominal uang yang ditawarkan bagi siapa saja yang menemukan Iyo atau pun Uya.

‎"Bu Marisa tahu," kata Yushi. Semua mata menatap Yushi dengan sorot bertanya. Siapa Marisa?

HOUSE No.24 [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang