Jam 2 siang Jaehee berhasil membawa pulang ketiga bujang lapuk serta dua balita. Lelah melihat tingkah ajaib mereka yang sangat heboh serta memalukan. Jaehee memimpin jalan dengan tangan yang menangkup baskom besar, gayung, payung serta ember hadiah dari perlombaan lintas air. Tak lupa dengan celana Sion yang robek.
"Hah~ capek banget," lirih Jaehee, tenaganya terkuras habis untuk menghadapi bujang lapuk yang kelewat aktif. Jaehee pikir mereka masih punya rasa sayang pada sendi-sendi serta tulang otot yang telah tua. Nyatanya tidak, selesai berjoget ria perlombaan lintas air pun dimulai. Tanpa di tawari Sion dan Riku dengan senang hati mengikuti perlombaan itu, tantangan berjalan diatas satu bambu sampai ketengah kolam lalu jika berhasil sampai ke ujung mereka dapat menarik satu perabotan yang sengaja digantung disana.
Jaehee sampai menggigiti kukunya saat melihat beberapa kali Sion dan Riku tergelincir. Ini lebih menakutkan daripada menonton film horor, awalnya Jaehee bersyukur Yushi masih asik dengan pekerjaan sampingannya sebagai biduan. Sayang sekali dengan sangat tidak berperike-Yushi-an Sion dan Riku malah mengangkat Yushi lalu dilemparkan kedalam kolam ikan yang dijadikan tempat lomba.
Tiga orang itu sama sekali tak merasa bersalah, dibelakang sana Uya tertawa dengan lepas karena Yushi menggendongnya sambil sesekali berjoget dengan pakaian yang basah. Bukan hanya Yushi, pakaian Sion dan Riku pun basah karena perlombaan lintas air.
Selama perjalanan Iyo dan Uya sama sekali tak mengeluh dipangku dengan keadaan Yushi dan Sion yang basah. Bahkan Iyo dengan antengnya diam di gendongan Sion dengan tangan yang sesekali terulur meminta kerupuk Riku.
"Yeuu boncel lu ketagihan kerupuk gue ya?" goda Riku pada balita itu, dengan polosnya Iyo mengangguk.
"Suruh emak lo ngasih makan lo pake kerupuk. Sayur terus perasaan," ucap Riku dengan suara pelan. Tak mungkin dia mencari masalah dengan Jaehee, sepertinya mood remaja itu sedang buruk.
"Langsung mandi, udah itu kumpul di depan tv. Semuanya. Bang Rik, mandi dikamar mandi bawah aja. Ngeri kalo kepeleset nanti," ucap Jaehee saat memasuki area rumah. Dari suaranya saja mereka tahu jika remaja itu tengah lelah.
"Iyo Uya, ikut kakak. Kalian juga harus mandi." tanpa membantah kedua balita itu turun dari pangkuan Yushi dan Sion, berjalan disisi samping Jaehee mengikuti kemanapun arah kakinya melangkah.
"Bentar Jejee!" ucap Iyo menghentikan langkah Jaehee dan Uya. Balita itu kembali kearah Riku, mengambil dua buah kerupuk dari dalam kantung.
"Makasih, Yikuu~ ayok Jeje!" Iyo berjalan dengan senyum lebar, kedua tangan kecilnya memegang kerupuk besar. Jaehee hanya menggeleng, semoga perut anak itu tak mengembang karena penuh dengan kerupuk.
Balita di kedua sampingnya terlihat senang setelah menonton perlombaan. Jaehee mengajak keduanya mengobrol disepanjang langkah hendak menaiki tangga, tangannya menggenggam satu tangan Uya dan Iyo untuk dia tuntun.
"Iyo, tenggorokannya gimana sekarang?"
"Eum Ndak cwakwit lwagwi Jwejwe." ucap Iyo dengan mulut penuh kerupuk.
"Kalo Uya?"
"Cehatt Jee, Uyaa bica napac agii! Huh haah!" ucap Uya dengan ceria. Sepertinya belum sepenuhnya sehat, sesekali Uya masih menyedot ingus yang hendak keluar. Walaupun tak sesering sebelumnya.
"Kek liat gambaran masa depan ya," ucap Yushi mengomentari pemandangan didepannya. Sion berdeham mengangguk, setuju dengan apa yang Yushi ucapkan.
"Lo belok yus? tu wa Pat yah sisa empat," tanya Riku yang tengah menghitung sisa kerupuk dikantung yang dia bawa.
"Gue mau ngelajang aja Rik," Sion dan Riku sudah biasa dengan perkataan itu. Bahkan dari semenjak sekolah pun Yushi sama sekali tak memiliki ketertarikan pada siapapun, mungkin pernah tapi tak bertahan lama.
"Ahh gue juga, kasian gue nanti anak sama bini kalo gue mati. Lo gimana bang?" ucap Riku dengan entengnya.
"Lah kok nanya? Tuh gue udah punya buntut," Sion tertawa saat melihat ekspresi malas Yushi dan Riku.
"Candaa. Keluarga sendiri aja nolak keadaan papa, apa lagi orang lain," ucap Sion diakhiri senyum mirisnya, mengingat keadaan sang ayah yang terkena stroke karena ulah keluarganya sendiri. Bukannya merasa bersalah, mereka malah tak mau mengakui Papa dan Mama Sion sebagai keluarga.
"Buru mandi, sebelum madam ngamuk. Liat nih lantai basah alamat kena omel kita," ucap Sion yang membuat Yushi dan Riku sadar, tetesan air dari pakaian mereka mengotori lantai. Rasa dingin mulai mereka rasakan.
"Lap Rik- set dah bibir Lo pucet! Mampus Lo kena omel Jaehee," heboh Yushi saat melihat wajah pucat Riku.
"Lo gak sadar? Tuh kaki lu kena luka. Keknya lu nginjek keong tadi pas di kolam," ucap Riku tak mau kalah, sambil menunjuk kaki Yushi. Benar saja, ada luka yang di kaki belakang Yushi. Luka itu membengkak kulit dagingnya pun terlihat memutih, pasti karena terlalu lama terendam air.
"Bang lo ... "
"Pinggang gue sakit, keknya gue juga masuk angin deh," jujur Sion. Ketiganya menghela nafas pasrah, berharap nanti Jaehee tak mengomeli mereka.
Dua jam berlalu, sedari tadi Jaehee menunggu tiga orang yang lebih tua darinya di depan televisi. Lama, hanya untuk mandi seharusnya tak menghabiskan waktu sampai dua jam. Jaehee beralih menatap kotak P3K yang ada diatas meja, memeriksa jika isinya lengkap.
"Lama banget heran!" omel Jaehee, tak lama orang yang ditunggu datang menghampiri berjalan dengan saling mendorong.
"Duduk, lepas baju kalian,"
WADUH!! SETENGAH SEBELAS AKU UP 😌
KAMU SEDANG MEMBACA
HOUSE No.24 [END]
Fanfiction[NCT Wish Lokal ] Keseharian tiga orang bujang lapuk dengan satu bocah SMK yang kepalang baik dan polos dalam merawat dua balita aktif. "Abang Abang liat Jee bawa apa!"-Jaehee "Bukannya bawa cimol, malah bawa benih-benih anak tuyul!"-Yushi "BUJUBUSE...
![HOUSE No.24 [END]](https://img.wattpad.com/cover/374087426-64-k347421.jpg)