22

378 40 3
                                        

Setelah pengumuman kemenangan tim Rafka, Stevi berniat untuk menghampiri Rafka. Namun, baru saja akan melangkah, dia melihat Aghata dan kedua temannya serta Karel lebih dulu menghampiri Rafka.

Hal itu membuat Stevi kesal. "Lagi-lagi gue keduluan si anak baru itu." ucapnya mengepalkan kedua tangannya.

Stevi melihat botol air mineral yang dia pegang itu lalu dia tersenyum miring. "Gue bakal bikin lo pelajaran Aghata!"

Lalu dia berjalan kearah lapangan tempat Rafka dan yang lainnya berada. Saat akan mendekat kearah Aghata, dia pura-pura mau jatuh seraya meremas botol air mineral tadi. Sehingga air dari dalam botol mineral tersebut tersembur kearah Aghata.

Sebelum berjalan kearah lapangan tadi, Stevi sudah membuka tutup botolnya. Lalu dia tutup kembali namun tidak rapat.

Byurr

Stevi menutup mulutnya ketika melihat Aghata yang sudah basah kuyup karena semburan dari botol air mineralnya.

"Aghataa sorry,"ucapnya berpura-pura.

Aghata mengelap wajahnya, lalu menatap tajam orang yang sudah membuatnya basah kuyup. Dia mengepalkan kedua tangannya kala melihat Stevi yang sudah menyemburkan air pada dirinya.

Stevi pun berjalan menghampiri Aghata yang tengah menatapnya tajam. "Aghata, sorry." ucapnya ketika sudah berdiri disamping Aghata.

"Lo pasti sengaja kan?" tuduh Aghata seraya menunjuk muka Stevi dengan telunjuknya.

Stevi mengerutkan keningnya. "Kok lo gitu sih, main tuduh-tuduh aja. Gue beneran gak sengaja tadi." balasnya berpura-pura.

Nara dan Thalia memutar matanya. Mereka tau kalau Stevi emang sengaja melakukan itu pada Aghata. Mereka tau kalau Stevi itu orangnya playing victim, sok baik, dan tukang drama. Jadi, mereka tidak percaya begitu saja padanya.

"Halah, gak usah berpura-pura gitu dong." sahut Nara dengan mimik wajah tidak suka.

Stevi menatap Rafka dengan ekspresi berpura-pura sedih. "Raf, lihat deh mereka malah tuduh aku sengaja. Padahal kan aku gak sengaja." adunya seraya menunjuk Aghata dan Nara dengan telunjuknya.

"Ikut gue." ucap Rafka mengabaikan perkataan Stevi. Dia lebih memilih menarik tangan Aghata untuk menjauh dari Stevi dan teman-temannya.

Aghata melototkan matanya kaget. "Eeh, mau kemana?" tanyanya namun tidak dijawab oleh Rafka.

Radit dan Karel yang melihat ekspresi kesal Stevi pun langsung tertawa puas. "Gimana?" tanya Karel, "Gimana apanya Rel?" tanya balik Radit.

"Gimana rasanya diabaikan? Sakitkan? Awokawok," jawab Karel tertawa puas.

"Hahaha, makanya kalau dianya gak suka jangan dipaksakan! Kalau begini siapa yang salah?" sahut Radit menyindir Stevi sambil tertawa puas.

Stevi yang merasa disindir pun melirik tajam Radit dan Karel. "Sakit lo semua!" ucapnya lalu pergi dengan perasaan kesal.

"Dih, lo yang sakit!" balas Nara.

"Berobat lo! Rumah sakit jiwa masih menampung noh," sahut Radit.

"Udah, udah. Gak usah ladenin manusia sampah kayak dia," ucap Thalia menohok diakhiri senyum miring.

"Hahaha, sampah gak tuh," balas Karel tertawa lebar.

***

Rafka membawa Aghata ke kelasnya untuk memberikan jaketnya pada Aghata. Supaya Aghata tidak kedinginan, karena seragamnya kini sudah basah kuyup.

Evil Beside Angel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang