Chapter 9: Step by step

908 147 19
                                    


Niatan yang semula hanya untuk makan malam akhirnya menjadi kencan dari siang hari. Insiden ketika Kartika menuduh Zira yang sengaja menyembunyikan celana Subendra membuat pria itu pada akhirnya mengajak Zira untuk jalan-jalan langsung saja ketimbang menunggu makan malam. Untuk apa menunggu-nunggu jika mereka bisa melakukannya di hari libur ini dengan cepat?

"Kamu suka belanja nggak?" tanya Subendra.

"Suka, Mas. Namanya cewek."

"Tapi dari tadi kamu nggak belanja apa-apa."

Zira mendongak pada calon kekasihnya itu. "Emangnya Mas Subendra mau bayarin?"

"Saya bukan anak remaja laki-laki yang uangnya pas-pasan, Zira. Kamu nggak perlu memusingkan hal kayak gitu."

"Saya tahu, kok, Mas. Makasih tawarannya. Tapi simpen dulu uangnya buat nanti beliin cincin kawin sama biaya nikah aja. Saya bisa beli barang yang saya mau pakai uang hasil kerja saya sendiri sekarang ini."

Subendra mengira bahwa pertanyaan antusias Zira tadi mengenai apakah Subendra mau membayari belanjaan perempuan itu atau tidak dapat membuat Zira akan langsung kabur masuk ke stan belanja. Namun, rupanya perempuan itu tidak demikian. Malah menyuruh Subendra menyimpan uang untuk biaya cincin dan nikah mereka malah membuat Subendra merona membayangkannya.

"Mas? Mas Subendra kenapa buang muka begitu?" tanya Zira yang menyadari bahwa pria yang didekatinya itu tidak mau menatap ke arahnya.

"Sebentar, muka saya kerasa panas."

"Hm? Ditengah mall yang dingin begini?"

"Bukan karena suhunya, Zira."

"Terus karena apa?"

Subendra mau tak mau menatap Zira yang menunggu jawabannya. Pria itu menguatkan tekad untuk tidak malu ketika mengatakan dengan jujur, "Karena kamu. Saya jadi salah tingkah karena kamu suruh simpan uang saya untuk biaya cincin dan nikah."

Subendra memang pria yang adil. Dia membagikan salah tingkahnya kepada Zira ketika berkata demikian dengan tatapan yang seketika saja membuat Zira gugup. Perempuan itu langsung menunduk dan menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak gatal, tapi kegatelan aja pengen digaruk sama Mas Bentot—eh? Kok, jadi ganjen?

"Tapi kamu bener, simpan uangnya untuk ke hal yang lebih serius nanti. Kalo gitu, kamu mau lihat-lihat ke toko perhiasan?"

Zira sontak menggelengkan kepalanya. "Nggak. Jangan dulu, Mas. Pelan-pelan aja. Step by step supaya kita saling kenal dulu. Menikah itu bukan persoalan mudah. Apalagi kita belum saling kenal sama keluarga satu sama lain."

"Keluarga, ya? Masalahnya, orangtua saya udah nggak ada. Kamu mau saya kenalin ke siapa?"

Subendra sendiri tidak bermaksud buru-buru, hanya saja dia ingin membuat Zira merasa bahwa memang pria itu serius. Tidak sedang main-main sama sekali.

"Sebentar, Mas Subendra umurnya berapa sih?"

"Tahun ini masih 34, tapi September ini 35."

Zira tampak memperhitungkan tahun kelahiran Subendra dan pria itu dengan tidak sabar memberi tahu. "6 September 1989. Tinggal nanya begitu aja kenapa harus susah-susah ngitung?"

"Wow!" sahut Zira.

"Apa maksudnya itu wow? Terkesima atau nggak nyangka saya setua itu?"

"Agak nggak nyangka, sih. Kirain masih generasi 90an. Ternyata udah generasi di atasnya."

"Cuma beda setahun dari generasi 90an itu. Masih masuklah. Lagi pula, muka saya nggak setua itu, kan?"

Zira langsung menggelengkan kepalanya. "Sama sekali nggak tua. Lagian 35 itu masih seger. Itu aktor Korsel malah usia 40an makin ganteng."

Rahasia Dibalik Celana Mas BentotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang