Bab 38

131 7 2
                                        

POV NAJAENDRA

Di ruangan ini, gue duduk entah berapa lama di sisi Kara. Satu menit seperti satu jam. Dunia mendadak berjalan lama ketika gue melihat Kara serapuh ini.

Matanya masih terpejam. Mungkin karena efek obat yang membuat dia tidur lebih tenang.

Kara harus dirawat karena demamnya terlalu tinggi. Dokter juga bilang mungkin ini akibat stress atau faktor kelelahan setelah menjalani proses skripsi sampai wisuda kemarin.

Nggak ada siapapun di ruangan ini kecuali gue dan Kara.

Hening, tanpa suara. Bahkan layar TV menyala-pun sengaja gue sett mute agar tidur Kara nggak terganggu.

Iya benar, gue sendirian nungguin Kara.
Dengan sadar, gue meminta ijin ke orang tua Kara untuk jagain Kara malam ini -sendiri. Ada hal yang harus gue bicarakan hanya berdua sama Kara. Entah malam ini, atau esok hari.

Lampu redup di kamar ini menyinari tubuhnya yang terbaring lemah. Kedua tangan dan sebagian telapak kakinya diperban. Luka-luka samar dari pecahan kaca masih tampak di balik balutan kain kassa putih.

Gue menatap wajahnya yang pucat, napasnya yang naik-turun. Rasa sakit itu bukan hanya di tubuhnya, tapi juga dalam dirinya- perih yang nggak bisa gue ungkapkan dengan kata-kata.

Gue ingin bicara. Memberinya penghiburan, sekedar bisikan bahwa semua akan baik-baik saja.

Gue tahu kenapa Kara sampai bertindak sejauh ini.
Gue menemukan sesuatu di ponselnya. Ponsel yang tadi sempat gue simpan di saku jaket sebelum Kara gue bawa ke rumah sakit.

Dalam daftar panggilan terakhir, menampilkan nomor yang sangat gue kenal. Nomor musuh. Orang brengsek yang telah menghancurkan hidup Kara empat tahun lalu.

Gue bisa membuka pesan terakhir dari kolom chat-nya. Pesan suara yang membuat Kara marah sampai melukai diri sendiri.

"Jadiin lo sebagai mainan itu menyenangkan. Kalo lo mau cari aman, cukup kasih tau cowok preman lo itu untuk kasih gue uang."

Dijeda dengan kiriman potongan video 5 detik yang cukup membuat Kara terguncang.

"Lo mau semua ini sampai ke tangan bokap lo, wahai anak penurut?" pesan suara kedua ini sudah termasuk ancaman.

Darah gue mendidih mengingat pesan itu. Mencoba berada di posisi Kara yang pasti sangat bingung harus berbuat apa.

Gue tau selama ini dia menyimpan rahasianya sendirian.

Tangan gue mengepal kuat. Rasanya ingin bangkit saat ini juga, menghancurkan orang-orang itu lagi. Sampai habis nggak bersisa.

"PERGI!" Gue menoleh kaget. Kara masih terpejam. Tapi tampak gelisah ketakutan. Alisnya berkerut, keringat dingin membasahi wajahnya.

Jeritan itu terlontar dari jiwa yang masih terjebak dalam mimpi.

Gue sigap berdiri. Meraih tangannya. Mencoba menyalurkan tenang dalam genggaman.

•••

POV KARA

"Cantik." Pandangan penuh hasrat itu menikmati hampir seluruh wajah dan tubuh gue. Satu tangannya mencengkeram rahang. Menjamah dan mengecup paksa tanpa ampun.

Gue memberontak sekuat tenaga. Namun tubuh kekarnya lebih berkuasa. Sementara tangisan mengiba nggak membuat hati mereka terenyuh sedikitpun.

"PERGI!" semakin kencang teriakan gue, justru membuat seringaian iblis itu tergelak puas menikmati ketidakberdayaan gue.

Gue bertarung melawan rasa jijik. Benci setengah mati. Berharap binatang itu segera enyah dari bayangan.

Gue meringkuk, menutupi wajah penuh ketakutan. "Pergi!" Gue terisak sakit.

NAJAENDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang