POV KARA
Mobil akhirnya berhenti di depan gedung kecil bercat putih gading. Dari luar, nggak kelihatan kayak klinik. Lebih mirip rumah dengan taman kecil dan kursi besi di terasnya. Tapi papan di dinding tertulis : Klinik Psikologi Raina Adisty, M.Psi.
Tempat yang terlihat tenang, tapi buat gue.. tetap aja menakutkan.
Hujan belum benar-benar reda. Butiran kecil masih turun, jatuh satu-satu di kaca, memantulkan cahaya lampu temaram.
Gue masih duduk diam, menatap kosong ke luar jendela, sibuk nyari keberanian yang sembunyi entah di mana.
Dari sudut mata, gue lihat Nana masih diam.
Dia gak langsung buka pintu. Gak juga maksa gue buat buru-buru turun.
Dia cuma duduk di situ, bersandar santai sedikit miring ke arah gue, merhatiin wajah gue kayak takut kehilangan sesuatu yang rapuh.
“Kalo kamu belum siap.. kita bisa tunggu dulu di sini." Suaranya lembut -pelan, tapi jelas.
Gue nggak menanggapi apa-apa. Tapi helaan napas gue cukup mengartikan semuanya. Berat.
"Aku temenin sampai kamu siap. Nggak usah buru-buru."
"Aku ngerepotin banget gak sih?" Gue menoleh ke arahnya.
"Nggak, sama sekali."
"Kamu.. beneran gak balik ke Surabaya gara-gara aku?"
Cowok yang sejak tadi pakai kacamata putih itu mengernyitkan alis, tampak berpikir sesaat. "Ya.. gak papa kan?"
"Tapi, kerjaan kamu-"
“Kara.." Najaendra menatap sejurus. "Kerjaanku bisa nunggu. Tapi keberanian kamu buat datang ke sini hari ini.. gak boleh nunggu,” tuturnya serius.
Gue pengen nyangkal, tapi apa yang dia bilang memang benar adanya.
Kalau gue gak jadi terapi hari ini, belum tentu gue berani di lain hari. Dan gue bakal ngerasa bersalah karena udah bikin waktunya yang berharga jadi terbuang sia-sia.
"Beneran gak papa?"
Dia cuma senyum tipis. Tapi sanggup bikin jantung gue luluh.
Okey. Gue harus berani sekarang.
“Nanti kalo kelamaan, nggak papa kamu tinggal aja. Aku bisa sendiri."
“Hey!" Dia menegakkan duduknya. "Kamu pikir aku mau keluar ngopi, terus ngebiarin kamu sendirian di dalem?”
"Aku bilang kalau kelamaan, Na."
"Nggak akan."
"Kamu yakin nanti cuma sebentar?"
"Mau sebentar, mau lama. Aku gak akan kemana-mana."
“Aku..” Gue bingung. “Takut kamu bosen.”
Cowok Leo ini gak jawab apapun, hanya terulas senyum di bibirnya -tanpa mendebat.
“Dulu aku ninggalin kamu pas kamu paling butuh seseorang. Sekarang, .. meskipun cuma bisa duduk di ruang tunggu, aku gak akan ninggalin lagi. Jadi tolong, biarin aku benerin kesalahan aku -hari ini.”
Kata-kata itu sederhana, tapi cukup buat bikin gue akhirnya berani buka pintu dan turun dari mobil.
***
Ruang tunggunya tenang. Ada suara musik instrumental yang hampir nggak terdengar, dan aroma lavender yang samar di udara. Gue duduk di ujung sofa, nunduk, mainin gantungan kecil di tas.
Di sisi lain, Najaendra masih berdiri di dekat resepsionis, bantu ngisi data pendaftaran. Sesekali nengok ke arah gue, ngasih senyum kecil, seolah mau bilang -semua baik-baik aja.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAJAENDRA
Fiksi Penggemar"Tentang pulang yang gak selalu ke rumah, tapi ke hati yang dulu pernah ditinggalkan."
