Bab 41

49 7 2
                                        

Guys aem kaambeek
Bab kali ini agak panjang kayaknya
Ada 3 pov
Satunya POV JUNO, biar agak tau sedikit banyak feel-nya dari Juno
Btw makasih ya yang udah nyaranin buat nambahin POV JUNO 🥰🥰
Dan makasih buat kalian yang masih mau baca cerita ala kadarnya ini 🙏🙏😘😘😘
Love you all ❤️❤️❤️

Happy reading 📒📒📒

🍀🍀🍀

POV NAJAENDRA

Mobil melaju pelan keluar dari parkiran kafe, melewati jalanan yang masih basah. Wiper bergerak lambat, menyapu rintik sisa hujan yang belum sepenuhnya reda.

Kara duduk di sebelah gue, diam sejak beberapa menit lalu. Tangannya memegang ponsel, layar mati, tapi jarinya terus menggeser ke kiri–kanan seperti sedang menunggu sesuatu yang gak kunjung muncul.

Dari kaca spion tengah, gue bisa lihat pantulan wajahnya. Pandangannya kosong. Mungkin dia gak sadar kalau udah buka layar ponselnya lebih dari sepuluh kali sejak kita keluar kafe.

Dan saat gue lirik lagi ponselnya, di situ gue baru sadar, dia lagi buka chat Juno.

“Udah berapa kali kamu buka, Ra,” gue akhirnya bicara.

Dia agak kaget, buru-buru nurunin ponselnya ke pangkuan. “Hah? Apa sih.”

Gue nyengir kecil. “Itu, hape kamu.”

Kara geser layar ponselnya. “Cuma.. liat jam."
Gue masih sempat menangkap getar kecil di ujung suaranya.

Kenapa harus cari alasan, padahal gue juga gapapa kalo beneran dia lagi mikirin Juno.

Kara diam lagi. Membuang tatapannya ke jalanan di sebelahnya. Dan entah kenapa meski masih rintik hujan dan udara cukup dingin, Kara malah buka sedikit kaca jendela.

Membuat rambut panjangnya yang terurai bebas tertiup angin. Mata sayunya belum benar-benar balik ke fokus semula.
Tapi dia tetap berusaha keliatan biasa. Tetap melempar senyum kecil yang entah buat siapa.

“Dia kok ngeselin ya. Biasanya paling cerewet, tapi sekarang malah ngilang," gumamnya pelan, nyaris kayak ngomong ke diri sendiri.

“Siapa?” gue tanya, pura-pura nggak tau.

“Juno.”

"Juno? Belum chat kamu sampai sekarang?" Hampir tiap hari Kara ngeluhin hal itu ke gue.

"Belum," jawabnya gak semangat.

Kara diem, nunduk lagi. Ada getir kecil di senyumnya. “Dia nggak biasa ngilang kayak gini,” keluhnya.

“Dia gak ngilang." Gue meyakinkan. “Cuma sibuk kerja.”

Dia tersenyum tipis. “Iya, sibuk kerja. Tapi online tiap malam, main game sampai pagi?”

Kara menghela napas, nada suaranya gak keras- lebih ke nada orang yang tahu sesuatu tapi gak pengin menyalahkan.

“Kamu tahu kan, Na? Juno bukan tipe orang yang tiba-tiba sibuk, kecuali dia lagi berusaha menjauh.”

Gue diam. Memang terlalu kentara kalo Juno sengaja menghindar.
.
.
“Kamu kangen?” pertanyaan itu keluar begitu aja, tanpa gue pikir panjang.

Kara diam lama. Gue sempat melirik sekilas. Matanya menatap gue, dalam dan bingung -kayak lagi nyari arti dari tiap kata yang gue ucapin.

“Enggak juga. Cuma.. aneh aja. Biasanya dia cerewet banget.”

Untuk beberapa detik, cuma ada suara mesin dan gesekan ban di jalan basah.

Dia gak langsung jawab. Hanya mempout-kan bibirnya -terlihat kesal, tapi agak.. imut.
Tangannya mengusap kaca jendela, ngikutin tetesan hujan yang mengalir pelan.

NAJAENDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang