09. Tersangka Pencurian

15.3K 1K 14
                                        

"Oh, ini pelaku pencurian first kiss anak Tante?" Sapaan tidak biasa itu diberikan Rissa pada Adjie yang terlihat berjalan masuk dari pintu rumahnya bersama Karin.

Yang disapa hanya bisa tersenyum canggung dan tidak tahu harus merespon bagaimana. Beritanya sudah tersebar hingga ke pihak calon keluarganya ternyata.

"Hehe. Halo, Tante," balas Adjie menyapa. "Gak disengaja itu, Tan."

"Boong!" Sergah Karin dengan cepat membuat Adjie dengan cepat pula menoleh ke belakang untuk memberikan pandangan memohon pertolongan dan kerjasama. Jelas ditolak mentah-mentah oleh Karin.

"Jangan gitu atuh, Djie. Belum muhrim," sahut Rissa sambil menepuk pelan pundak calon menantunya itu.

Adjie mengangguk pasti untuk meyakinkan Rissa. "Siap, salah!"

"Mirip Bapakmu kalo kayak gitu," komentar Rissa disertai kekehan pelan.

Adjie kembali hanya bisa tersenyum karir untuk setiap perkataan yang keluar dari mulut Rissa. Memang masih agak canggung.

Karin yang ternyata sudah menghilang dari belakang Adjie sejak beberapa saat lalu kini muncul dari arah dapur dan mengajak Adjie untuk duduk di kursi meja makan mereka. Di atasnya sudah tersedia beberapa cemilan dan lauk yang siap disantap.

"Di sini aja, Mas."

Yang dipanggil menurut dan menghampiri. "Banyak banget sajennya."

Adjie dan celetukannya, Karin mulai terbiasa dengan itu.

"Bentar, aku ambilin piring," jelas Karin membalikan badan menuju laci yang menyimpan peralatan makan yang berada tidak jauh darinya.

Ia mengambil dua piring, beberapa piring kecil, alat makan dan dua gelas. Semuanya tersusun rapih sehingga dapat dibawa dalam sekali jalan dengan kedua tangannya. Melihat hal itu, Adjie segera menghampiri Karin untuk membantunya.

"Kalo butuh bantuan tuh bilang, Rin. Sebanyak ini masa mau kamu bawa sendirian," ucap Adjie sambil mengambil setengah dari yang Karin bawa.

"Bisa kok."

Adjie hanya mengangguk dan berjalan menuju meja makan untuk meletakkan peralatan makan mereka. "Iya, tau kok kalo bisa. Tapi kan sekarang kita berdua, ada aku. Maunya, aku juga dilibatin."

Oh, gini rasanya.

"Siap, salah!" Karin berusaha menahan ketawanya setelah meniru apa yang Adjie tadi katakan pada ibunya.

"Bisa nyebelin juga ya kamu."

"Jagonya."

"Ayam?"

Karin yang baru saja duduk setelah menaruh yang dibawanya di atas meja segera menatap Adjie penuh ejek. "Mas, jokesmu kapan improve?"

"Gak mau, kalo improve nanti kamu malah seneng bukannya kesel."

Karin memberikan satu piring beserta sendok dan garpunya kepada Adjie yang duduk di seberangnya. "Harusnya kan emang bikin aku seneng dong? Masa dibuat kesel?"

"Tapi kamu lebih lucu kalo kesel, lagian bikin kamu seneng mah gampang. Banyak cara."

"Pede banget."

"Jelas. Kalo gak pede, aku gak akan duduk di sini, di ruang makan rumah kamu."

Karin mengangguk setuju. Karena kalau begitu, bukan Adjie saja yang memiliki rasa percaya diri, walaupun tidak sebanyak yang dia punya, Karin juga menjadikan rasa percaya dirinya itu sebagai modal menyetujui perjodohan mereka.

"Mau kemana?" Tanya Karin setelah melihat Adjie bangkit berdiri dengan membawa piringnya. "Astaga, harus banget duduknya sebelahan kayak di angkot gini, Mas?"

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang